WAWASAN ASIS

Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan: Persiapannya

Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan: kemampuan fondasi yang perlu disiapkan, larangan tes calistung, peran guru TK, guru kelas I, dan orang tua.

Tim Wawasan ASIS 09 Agt 2026 PAUD & TK

Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan berarti anak berpindah dari TK atau RA ke kelas I dengan rasa aman dan percaya diri, bukan dengan tekanan harus sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung. Yang perlu disiapkan adalah kemampuan fondasi: kemandirian sehari-hari, kemampuan mengelola emosi dan bergaul, minat pada buku dan angka, serta kesiapan fisik dan motorik. Persiapan ini menjadi tanggung jawab bersama guru PAUD, guru kelas I, dan orang tua. Artikel ini menjelaskan apa yang perlu disiapkan dan bagaimana masing-masing pihak berperan.

Calistung bukan syarat masuk SD

Masih banyak orang tua yang memaksa anak les membaca sejak usia empat tahun karena khawatir tidak diterima di SD. Padahal, tes calistung untuk masuk SD dilarang. Permendikdasmen 3/2025 Pasal 11 ayat (5) menegaskan larangan tersebut dalam penerimaan murid baru jenjang SD.

Artinya, SD wajib menerima anak tanpa menuntut kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, dan guru kelas I bertugas mengajarkannya secara bertahap. Pesan ini perlu disampaikan berulang kepada orang tua agar anak tidak kehilangan masa bermain yang justru membangun kesiapan belajarnya.

Enam kemampuan fondasi yang perlu disiapkan

Kemampuan Contoh perilaku Cara melatih di rumah dan PAUD
Kemandirian Makan sendiri, ke toilet, merapikan tas Beri tanggung jawab kecil setiap hari
Mengelola emosi Bisa menunggu giliran, menenangkan diri saat kecewa Permainan bergiliran, ajak menamai perasaan
Bergaul Berkenalan, berbagi, meminta tolong Bermain kelompok, bermain peran
Bahasa dan literasi awal Senang mendengar cerita, bercerita ulang, mengenal bahwa tulisan bermakna Membacakan buku setiap hari
Numerasi awal Membandingkan banyak sedikit, mengelompokkan benda Bermain menghitung kancing, menata piring
Motorik Memegang krayon, menggunting, berlari, melompat Mewarnai, meronce, bermain di halaman

Anak yang mandiri dan mampu mengelola emosi biasanya lebih cepat beradaptasi di kelas I, meskipun belum lancar membaca.

Peran guru PAUD

  • Memperkuat kemampuan fondasi lewat bermain, bukan lembar kerja calistung berlebihan.
  • Mengenalkan suasana SD: kunjungan ke SD terdekat, bermain peran "sekolah SD", membacakan buku cerita tentang hari pertama sekolah.
  • Menyusun catatan perkembangan anak yang bisa dibagikan kepada orang tua dan, dengan izin, kepada guru kelas I.
  • Memberi pemahaman kepada orang tua tentang larangan tes calistung dan pentingnya kesiapan sosial emosional.

Peran guru kelas I

Transisi PAUD ke SD tidak berhenti di hari pertama sekolah. Guru kelas I berperan besar di pekan-pekan awal:

  • Masa pengenalan yang ramah anak: perkenalan, tur sekolah, mengenal toilet, kantin, dan ruang UKS.
  • Rutinitas yang jelas dan berulang: cara berbaris, menyimpan tas, minta izin ke toilet.
  • Pembelajaran berbasis bermain di awal semester: bernyanyi, bercerita, bermain kartu huruf dan angka.
  • Asesmen awal yang tidak menakutkan: mengamati kemampuan anak dalam aktivitas sehari-hari untuk menentukan titik mulai.
  • Tidak membandingkan anak yang sudah bisa membaca dengan yang belum.

Contoh rencana dua pekan pertama kelas I

Hari Fokus Kegiatan
1–2 Rasa aman Perkenalan, tur sekolah, lagu kelas
3–5 Rutinitas Latihan berbaris, menyimpan tas, makan bersama
6–7 Kesepakatan kelas Menyusun aturan kelas dengan gambar
8–10 Literasi dan numerasi awal Membaca cerita bergambar, bermain menghitung benda

Peran orang tua

  • Ajak anak berkunjung ke SD sebelum tahun ajaran dimulai.
  • Bicarakan sekolah baru dengan nada positif, hindari ancaman seperti "nanti dimarahi guru SD".
  • Latih kemandirian: memakai sepatu, membuka bekal, ke toilet sendiri.
  • Bacakan buku setiap malam, meski hanya sepuluh menit.
  • Atur jam tidur agar anak siap bangun pagi.
  • Hindari memaksa les calistung yang membuat anak stres.

Tanda anak butuh dukungan lebih

Wajar bila anak menangis di hari-hari pertama. Namun, perhatikan bila setelah beberapa pekan anak:

  • selalu menolak berangkat sekolah dengan sangat cemas,
  • sulit berinteraksi dengan teman sama sekali,
  • mengalami kesulitan bicara atau memahami instruksi sederhana,
  • sering mengeluh sakit perut atau kepala tanpa sebab yang jelas.

Diskusikan dengan guru kelas dan, bila perlu, tenaga profesional seperti psikolog atau dokter anak.

Menjembatani PAUD dan SD

Sekolah bisa membangun kerja sama sederhana antara PAUD dan SD di sekitarnya:

  • pertemuan guru TK dan guru kelas I menjelang tahun ajaran baru,
  • kunjungan anak TK ke SD,
  • berbagi catatan perkembangan dengan persetujuan orang tua,
  • forum orang tua bersama tentang kesiapan sekolah.

Kerja sama ini membuat guru kelas I mengenal anak lebih awal dan transisi PAUD ke SD berjalan lebih mulus bagi anak.

Untuk RA dan MI

Prinsip yang sama berlaku bagi RA yang muridnya akan melanjutkan ke MI. Kegiatan keagamaan sederhana seperti doa harian dan hafalan surat pendek sudah dikenal anak di RA, sehingga MI bisa memakainya sebagai jembatan yang membuat anak merasa akrab di lingkungan baru. Yang perlu dijaga tetap sama: anak tidak diseleksi dengan tes calistung, dan pekan-pekan pertama diisi kegiatan yang membangun rasa aman.

Kesalahan umum

  • Menjadikan kemampuan membaca sebagai ukuran utama kesiapan sekolah.
  • Langsung memberi tugas menulis panjang di pekan pertama kelas I.
  • Melabeli anak sebagai "lambat" karena belum bisa membaca.
  • Orang tua dan guru tidak berkomunikasi tentang perkembangan anak.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak harus bisa membaca sebelum masuk SD?

Tidak. Tes calistung dilarang dalam penerimaan murid baru SD berdasarkan Permendikdasmen 3/2025 Pasal 11 ayat (5). Kemampuan membaca diajarkan secara bertahap di kelas awal.

Kemampuan apa yang paling penting untuk masuk SD?

Kemandirian, kemampuan mengelola emosi, bergaul, minat pada buku dan angka, serta kesiapan motorik.

Berapa lama masa adaptasi anak di kelas I?

Setiap anak berbeda. Sebagian beradaptasi dalam beberapa hari, sebagian butuh beberapa pekan. Konsistensi rutinitas sangat membantu.

Bagaimana jika anak menangis setiap pagi?

Wajar di awal. Buat ritual perpisahan singkat dan konsisten, sampaikan kapan Bapak/Ibu akan menjemput, dan berkoordinasi dengan guru kelas.

Apa peran sekolah dalam transisi PAUD ke SD?

Menyelenggarakan pengenalan yang ramah anak, membangun rutinitas, memulai pembelajaran dengan cara bermain, dan berkomunikasi aktif dengan orang tua.

ASIS: Catatan Tumbuh Kembang yang Ikut Anak ke Jenjang Berikutnya

Salah satu hambatan transisi adalah informasi yang terputus. Guru PAUD mengenal anak dengan sangat baik, tetapi catatan perkembangannya tersimpan di buku yang tidak sampai ke guru kelas I. Orang tua pun sering hanya menerima kabar saat ada masalah.

ASIS menyediakan modul PAUD dengan catatan tumbuh kembang anak, serta profil murid yang utuh untuk menyimpan perkembangan dari waktu ke waktu. Orang tua bisa menerima kabar kegiatan dan perkembangan lewat notifikasi aplikasi, kotak masuk, atau surel, sehingga komunikasi tidak hanya terjadi saat ada masalah. Untuk memperkaya kegiatan membaca, buku pelajaran pemerintah tersedia di Pustaka.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk PAUD dan TK, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 tentang Sistem Penerimaan Murid Baru, Pasal 11 ayat (5).

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.