WAWASAN ASIS

Tahapan Gerakan Literasi Sekolah dan Contoh Kegiatannya

Tahapan gerakan literasi sekolah: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran, beserta contoh kegiatan, indikator, dan cara tahu sekolah siap naik tahap.

Tim Wawasan ASIS 17 Okt 2026 Kurikulum & Pembelajaran

Tahapan gerakan literasi sekolah terdiri atas tiga tahap: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan, sekolah menumbuhkan minat baca lewat kegiatan rutin seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran. Pada tahap pengembangan, murid mulai menanggapi bacaan secara lisan maupun tertulis. Pada tahap pembelajaran, literasi menyatu dengan semua mata pelajaran dan menghasilkan karya yang dinilai. Ketiga tahap ini berurutan, tetapi tidak kaku: sekolah boleh menjalankan unsur tahap berikutnya selama fondasi tahap sebelumnya sudah kuat.

Artikel ini menjelaskan tujuan tiap tahap, contoh kegiatan, indikator untuk mengetahui apakah sekolah siap naik tahap, dan kesalahan umum. Untuk pilihan aplikasi pendukung, lihat "Aplikasi Literasi Sekolah: Kriteria dan Cara Memakainya", dan untuk meningkatkan minat murid, "Cara Meningkatkan Minat Baca Murid yang Malas Membaca".

Sekilas tentang Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh agar sekolah menjadi tempat warga sekolah gemar membaca dan belajar sepanjang hayat. Kegiatan membaca buku nonpelajaran 15 menit sebelum pembelajaran, yang dikenal luas sejak dicanangkan pemerintah, menjadi pintu masuknya. GLS melibatkan murid, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

Panduan GLS dan istilahnya dapat diperbarui dari waktu ke waktu. Rujuk panduan resmi terbaru dari kementerian bila sekolah perlu dasar formal.

Ringkasan tiga tahap

Aspek Pembiasaan Pengembangan Pembelajaran
Tujuan Menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca Mengembangkan kemampuan memahami dan menanggapi bacaan Literasi untuk mencapai tujuan pembelajaran semua mapel
Kegiatan inti Membaca 15 menit, membacakan nyaring Menanggapi bacaan, jurnal membaca, diskusi buku Membaca teks pengayaan mapel, menulis karya, proyek
Penilaian Tidak dinilai akademik Tanggapan bisa dinilai nonakademik Dinilai sebagai bagian asesmen mapel
Lingkungan Pojok baca, area baca nyaman Papan karya, majalah dinding Perpustakaan aktif, publikasi karya
Peran guru Teladan membaca Fasilitator diskusi Merancang literasi dalam pembelajaran

Tahap 1: Pembiasaan

Tujuan tahap ini sederhana: membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bukan tugas.

Contoh kegiatan

  • Membaca buku pilihan murid selama 15 menit sebelum pelajaran pertama.
  • Guru membacakan buku cerita dengan nyaring untuk kelas rendah.
  • Pojok baca di setiap kelas dengan buku yang berganti tiap bulan.
  • Guru ikut membaca saat murid membaca, sebagai teladan.
  • Area baca di koridor, taman, atau kantin.

Contoh di sebuah SD di Kabupaten Lombok Tengah: koleksi perpustakaan terbatas, sehingga sekolah memutar buku antarkelas setiap dua minggu dan meminta orang tua menyumbang satu buku bacaan anak per keluarga. Dalam satu semester, setiap kelas punya sekitar 40 judul yang terus berganti.

Indikator siap naik tahap

  • Kegiatan membaca 15 menit berjalan rutin setiap hari.
  • Sebagian besar murid membaca tanpa harus disuruh berulang kali.
  • Setiap kelas punya pojok baca yang terawat.
  • Ada catatan buku yang sudah dibaca murid.

Tahap 2: Pengembangan

Di tahap ini, murid tidak hanya membaca, tetapi juga menanggapi. Tanggapan bisa lisan, tertulis, atau gambar, dan boleh dinilai secara nonakademik untuk memberi umpan balik.

Contoh kegiatan

  • Jurnal membaca: judul, tokoh favorit, bagian yang paling diingat.
  • Diskusi buku dalam kelompok kecil seminggu sekali.
  • Menceritakan kembali isi buku di depan kelas.
  • Membuat poster atau gambar dari cerita yang dibaca.
  • Lomba resensi, mendongeng, atau cerpen tingkat sekolah. Lihat "Lomba Literasi Sekolah: Mendongeng, Resensi, Cerpen".
  • Kunjungan penulis lokal atau pegiat literasi.

Indikator siap naik tahap

  • Murid terbiasa menulis atau menceritakan tanggapan bacaan.
  • Ada pajangan karya literasi yang diperbarui berkala.
  • Guru di luar mapel bahasa mulai terlibat.
  • Perpustakaan dikunjungi secara terjadwal oleh setiap kelas.

Tahap 3: Pembelajaran

Pada tahap ini, literasi menjadi alat belajar di semua mapel. Murid membaca buku pengayaan, artikel, data, dan teks informasi untuk menyelesaikan tugas mapel, lalu menghasilkan karya yang dinilai.

Contoh kegiatan

  • Guru IPA memberikan artikel tentang pencemaran sungai sebagai bahan diskusi dan laporan.
  • Guru IPS meminta murid membaca sumber sejarah lokal lalu menulis teks eksplanasi.
  • Murid menulis buku kelas atau antologi cerita yang dicetak sederhana.
  • Proyek riset kecil yang dipresentasikan kepada orang tua.
  • Kegiatan kokurikuler berbasis literasi, misalnya membuat buletin desa.

Cara mengintegrasikan literasi ke setiap mapel dibahas di artikel tentang integrasi literasi numerasi lintas mapel di blog ini.

Indikator tahap pembelajaran berjalan

  • Modul ajar berbagai mapel memuat kegiatan membaca dan menulis.
  • Ada karya tulis murid yang dipublikasikan.
  • Perpustakaan menjadi pusat sumber belajar, bukan sekadar gudang buku.
  • Hasil asesmen literasi menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu.

Peran warga sekolah dalam tahapan gerakan literasi sekolah

Pihak Pembiasaan Pengembangan Pembelajaran
Kepala sekolah Menetapkan waktu baca, menyediakan buku Membentuk tim literasi Memasukkan literasi ke KSP dan supervisi
Guru Teladan dan pendamping Fasilitator tanggapan Perancang kegiatan literasi mapel
Pustakawan Mengatur rotasi buku Program kunjungan kelas Layanan referensi untuk tugas mapel
Orang tua Membaca bersama di rumah Menyumbang buku, menjadi relawan Narasumber dan audiens karya

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Membaca 15 menit berubah menjadi tugas merangkum. Minat baca justru turun di tahap pembiasaan.
  2. Buku tidak pernah berganti. Murid bosan dengan koleksi yang sama.
  3. Lompat ke tahap pembelajaran terlalu cepat. Tanpa kebiasaan membaca, tugas literasi mapel terasa berat.
  4. Hanya menjadi tugas guru Bahasa Indonesia.
  5. Tidak ada catatan. Sekolah tidak tahu sudah berada di tahap mana.

Daftar cek tahapan gerakan literasi sekolah

  • Waktu membaca harian ditetapkan dan dijalankan.
  • Pojok baca tersedia dan bukunya berganti.
  • Ada jurnal membaca atau catatan buku yang dibaca.
  • Ada kegiatan tanggapan bacaan rutin.
  • Tim literasi sekolah terbentuk.
  • Modul ajar berbagai mapel memuat kegiatan literasi.
  • Karya murid dipublikasikan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa lama satu tahap sebaiknya dijalankan?

Tidak ada patokan baku. Sekolah naik tahap ketika indikator tahap sebelumnya sudah tercapai secara konsisten, bisa satu semester atau lebih.

Apakah tahapan gerakan literasi sekolah harus berurutan?

Pada dasarnya berurutan, tetapi kegiatan dari tahap berikutnya boleh dimulai lebih awal di kelas yang siap, asalkan kebiasaan membaca tetap terjaga.

Buku apa yang dibaca pada tahap pembiasaan?

Buku nonpelajaran yang sesuai usia dan minat murid: cerita, buku bergambar, komik edukatif, atau buku pengetahuan populer.

Bagaimana jika koleksi perpustakaan sedikit?

Putar buku antarkelas, ajak orang tua menyumbang, manfaatkan buku digital pemerintah, dan bekerja sama dengan perpustakaan daerah.

Apakah kegiatan literasi masuk rapor?

Pada tahap pembelajaran, karya literasi bisa menjadi bagian asesmen mapel. Pada tahap pembiasaan, kegiatan tidak dinilai secara akademik.

ASIS: Perpustakaan Hidup dan Catatan Baca yang Rapi

Gerakan literasi sering berhenti di tahap pembiasaan karena buku terbatas dan tidak ada catatan siapa membaca apa. Sekolah sulit membuktikan kemajuan, apalagi naik tahap.

Pustaka di pustaka.asis.id menyediakan buku pelajaran pemerintah yang bisa dibaca murid dan guru kapan saja. Modul perpustakaan ASIS mencatat koleksi dan peminjaman buku fisik, portofolio menyimpan karya tulis murid, dan situs sekolah dengan subdomain gratis bisa menjadi tempat memublikasikan karya literasi. Perangkat ajar membantu guru merancang kegiatan literasi di setiap mapel.

ASIS gratis untuk semua sekolah, tanpa iklan, dan data tidak dijual. Pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ bisa memakai Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.