Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Memilih software SMP dari sisi teknis: perbandingan berbasis web, Android, dan instal di server sendiri, plus keamanan data, dukungan, dan daftar cek uji coba.
Memilih software SMP sering dimulai dari daftar fitur, padahal keputusan teknis justru yang paling lama terasa dampaknya: apakah aplikasi berjalan di peramban, di ponsel Android, atau harus dipasang di server sendiri. Pilihan ini menentukan siapa yang bisa mengakses, seberapa cepat aplikasi dipakai di jam sibuk, siapa yang menanggung keamanan data, dan ke mana sekolah meminta bantuan saat ada masalah. Artikel ini membahas sisi teknis tersebut khusus untuk kebutuhan SMP.
Untuk gambaran umum lintas jenjang, Bapak/Ibu bisa membaca "Software Sekolah: Web, Android, atau Instal di Server?". Di sini kita fokus pada karakter SMP yang berbeda dari SD dan SMA.
SMP adalah jenjang pertama dengan sistem guru mata pelajaran penuh. Satu rombel bisa diajar sepuluh guru berbeda, dan satu guru bisa mengajar delapan rombel. Akibatnya:
Software SMP harus kuat menangani banyak pengguna yang mengakses bersamaan di jam yang sama, misalnya saat semua guru mengisi presensi di menit pertama pelajaran.
Aplikasi dibuka lewat peramban di laptop atau ponsel. Data disimpan di server penyedia.
Kelebihan: tidak perlu instalasi, pembaruan otomatis, bisa diakses dari mana saja, cadangan data menjadi tanggung jawab penyedia.
Kekurangan: butuh koneksi internet, dan sekolah bergantung pada keandalan penyedia.
Aplikasi dipasang dari Google Play di ponsel guru, murid, atau orang tua. Biasanya terhubung ke server yang sama dengan versi web.
Kelebihan: praktis untuk presensi di kelas, notifikasi langsung muncul, ramah bagi pengguna yang jarang membuka laptop.
Kekurangan: pengguna iPhone perlu memakai versi web, dan layar kecil kurang nyaman untuk pekerjaan berat seperti menyusun jadwal.
Sekolah memasang aplikasi di komputer server di sekolah atau menyewa hosting sendiri.
Kelebihan: data secara fisik di bawah kendali sekolah, bisa berjalan di jaringan lokal.
Kekurangan: sekolah harus punya tenaga teknis, menanggung listrik, perangkat, pembaruan keamanan, dan cadangan data. Ketika operator pindah tugas, pengetahuan sering ikut pergi.
| Aspek | Web (cloud) | Android | Server sendiri |
|---|---|---|---|
| Instalasi | Tidak perlu | Dari Google Play | Perlu teknisi |
| Akses guru dari rumah | Mudah | Mudah | Tergantung jaringan |
| Pembaruan | Otomatis | Lewat Play Store | Manual |
| Cadangan data | Penyedia | Penyedia | Sekolah |
| Biaya tersembunyi | Kecil | Kecil | Perangkat, listrik, teknisi |
| Cocok untuk | Hampir semua SMP | Presensi dan notifikasi | SMP dengan tim TI tetap |
Bagi kebanyakan SMP, kombinasi web untuk pekerjaan administrasi dan Android untuk kegiatan harian adalah pilihan paling realistis.
Data murid SMP adalah data anak. UU 27/2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data anak sebagai data pribadi yang bersifat spesifik, dan pemrosesannya memerlukan persetujuan orang tua atau wali. Karena itu, tanyakan hal berikut kepada penyedia software SMP mana pun:
Untuk server sendiri, semua pertanyaan di atas berbalik menjadi tanggung jawab sekolah.
Aplikasi terbaik tetap akan memunculkan pertanyaan di bulan pertama. Perhatikan:
Keputusan teknis sebaiknya tidak diambil operator sendirian. Libatkan minimal empat orang: Kepala Sekolah sebagai pengambil keputusan, operator sebagai pengelola akun, satu guru mapel yang paling sering memakai ponsel, dan Bendahara bila modul keuangan ikut dipakai. Masing-masing akan menguji dari sudut kebutuhannya sendiri, sehingga kekurangan aplikasi terlihat sebelum dipakai seluruh sekolah.
Sebelum memutuskan, uji software SMP pilihan dengan skenario nyata:
Aman atau tidak bergantung pada pengelolaan penyedia: enkripsi, pembatasan akses, cadangan, dan kebijakan data. Ajukan pertanyaan keamanan di atas secara tertulis sebelum memilih.
Pilih aplikasi yang ringan dan bisa dibuka lewat data seluler di ponsel. Untuk pekerjaan berat, jadwalkan di jam koneksi lebih stabil.
Untuk presensi dan jurnal mengajar, ponsel Android sudah cukup. Laptop dibutuhkan untuk pekerjaan seperti menyusun jadwal atau mengolah nilai dalam jumlah besar.
Belum tentu. Hitung biaya perangkat, listrik, teknisi, dan waktu pemulihan saat server rusak. Bagi sebagian besar SMP, model web lebih hemat dan lebih mudah dirawat.
Umumnya tidak. Cara yang lazim adalah mengimpor file ekspor Dapodik yang sudah dimiliki sekolah. Pelaporan resmi tetap dilakukan lewat aplikasi Dapodik.
Akar masalah teknis di SMP adalah beban yang tidak terlihat: server yang harus dirawat, kata sandi yang dibagi-bagi, dan data yang hilang saat operator pindah. Kepala Sekolah seharusnya bisa fokus pada pembelajaran, bukan pada kabel dan cadangan data.
ASIS berjalan di web (asis.id) dan Android (ASIS Mobile) dalam satu akun, tanpa instalasi server. Guru mapel mengisi presensi per mapel dan jurnal mengajar dari ponsel, generator jadwal menyusun jadwal tanpa bentrok, dan data murid diimpor dari file ekspor Dapodik. Hak akses mengikuti 45 peran pengguna, login bisa lewat OTP atau Google, data sekolah tidak dijual dan tanpa iklan. Panduan per peran dan Akademi ASIS membantu guru belajar mandiri.
ASIS gratis untuk semua sekolah. Pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ juga bisa memakai Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS. Uji coba sekarang di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.