WAWASAN ASIS

Software Madrasah: Web, Android, atau Instal di Komputer?

Memilih software madrasah dari sisi teknis: perbandingan berbasis web, aplikasi Android, dan instal di komputer, plus keamanan, cadangan, dan dukungan.

Tim Wawasan ASIS 05 Sep 2026 Madrasah

Software madrasah kini hadir dalam tiga bentuk utama: berbasis web yang dibuka lewat peramban, aplikasi Android di HP, dan program yang diinstal di komputer madrasah. Ketiganya bisa mengelola data murid, presensi, nilai, dan keuangan, tetapi cara kerjanya sangat berbeda dalam hal akses, keamanan, perawatan, dan dukungan. Perbedaan inilah yang sering baru disadari setelah madrasah terlanjur memakai satu sistem.

Artikel ini membahas software madrasah dari sisi teknis untuk operator dan Kepala Madrasah: perbandingan ketiga bentuk, pertanyaan keamanan yang perlu diajukan, soal cadangan data dan dukungan, serta kombinasi yang realistis untuk madrasah di Indonesia.

Tiga bentuk software

Berbasis web

Software dibuka lewat peramban seperti Chrome di komputer atau HP. Data disimpan di server penyedia, bukan di komputer madrasah. Pembaruan dilakukan penyedia sehingga semua pengguna otomatis memakai versi terbaru.

Aplikasi Android

Aplikasi dipasang dari Google Play di HP guru, orang tua, atau murid. Biasanya menjadi pendamping versi web: guru mengisi presensi dan nilai dari HP, orang tua menerima notifikasi.

Instal di komputer

Program dipasang di satu atau beberapa komputer madrasah, kadang dengan server lokal. Data tersimpan di perangkat madrasah sendiri.

Perbandingan

Aspek Berbasis web Aplikasi Android Instal di komputer
Akses Dari mana saja dengan internet Dari HP, praktis untuk guru dan orang tua Hanya dari komputer yang terpasang atau jaringan lokal
Kebutuhan internet Perlu Perlu untuk sinkron dan notifikasi Bisa tanpa internet di jaringan lokal
Pembaruan Otomatis oleh penyedia Lewat Google Play Manual oleh operator
Cadangan data Umumnya dikelola penyedia Mengikuti server Tanggung jawab madrasah
Risiko kehilangan data Bergantung pada keandalan penyedia Bergantung pada server Komputer rusak, terkena virus, atau dicuri
Akses orang tua Mudah Sangat mudah Sulit
Biaya perangkat Rendah Rendah Perlu komputer dan perawatan
Ketergantungan pada operator Rendah Rendah Tinggi

Tidak ada bentuk yang selalu unggul. Namun untuk kebutuhan komunikasi dengan orang tua dan input guru dari kelas, kombinasi web dan Android umumnya paling praktis.

Kapan instal di komputer masih masuk akal

  • Madrasah di daerah tanpa internet yang stabil sama sekali.
  • Software resmi yang memang dirancang untuk dipasang lokal.
  • Kebijakan internal yang mengharuskan data disimpan di perangkat madrasah.

Bila memilih jalur ini, siapkan prosedur cadangan rutin, antivirus, dan dokumentasi agar pergantian operator tidak membuat sistem terbengkalai.

Pertanyaan keamanan yang perlu diajukan

Apa pun bentuknya, software madrasah menyimpan data pribadi murid, orang tua, dan guru. Ajukan pertanyaan berikut ke penyedia:

Pertanyaan Jawaban yang diharapkan
Di mana data disimpan? Penyedia bisa menjelaskan dengan jelas
Apakah koneksi terenkripsi? Ya, alamat situs memakai HTTPS
Bagaimana cara masuk akun? Kata sandi kuat, dengan opsi login OTP atau akun Google
Apakah hak akses bisa diatur per peran? Ya, guru tidak melihat data keuangan, dan sebaliknya
Apakah data dijual atau dipakai untuk iklan? Tidak
Bisakah madrasah mengekspor seluruh datanya? Bisa kapan saja
Apa yang terjadi pada data bila berhenti berlangganan? Ada prosedur ekspor dan penghapusan yang jelas

Kebiasaan aman di sisi madrasah

Keamanan bukan hanya tanggung jawab penyedia. Madrasah juga perlu:

  • melarang berbagi akun antarguru,
  • mengganti kata sandi saat ada pegawai yang keluar,
  • menonaktifkan akun pegawai yang sudah tidak bertugas,
  • tidak menyimpan kata sandi di kertas yang ditempel di monitor,
  • membatasi akun admin hanya untuk operator dan Kepala Madrasah.

Pembahasan lebih lengkap tentang kebiasaan ini ada di artikel "Mengelola Akun dan Kata Sandi Sekolah saat Operator Ganti".

Kebutuhan perangkat dan jaringan

Sebelum memilih, petakan perangkat yang sudah dimiliki madrasah. Untuk software berbasis web dan Android, kebutuhan minimalnya biasanya sederhana: satu atau dua komputer di kantor TU, HP Android guru dengan versi sistem yang masih didukung, dan Wi-Fi di area kantor serta ruang guru. Bila presensi memakai pemindai QR atau pengenalan wajah di gerbang, siapkan satu HP atau tablet khusus dengan dudukan yang aman dan colokan listrik di dekatnya.

Catat juga kecepatan internet pada jam sibuk, misalnya pukul 07.00 saat presensi dan saat guru serentak mengisi nilai menjelang rapor. Data ini membantu madrasah memutuskan apakah perlu menambah kapasitas sebelum seluruh guru memakai software baru.

Dukungan dan keberlanjutan

Software yang baik tetapi tanpa dukungan akan menyulitkan saat masa rapor atau penerimaan murid baru. Periksa:

  • Panduan tertulis yang bisa dibaca guru dan operator.
  • Pelatihan awal dan materi belajar mandiri.
  • Kanal bantuan dan perkiraan waktu respons.
  • Komunitas pengguna atau forum untuk berbagi solusi.
  • Riwayat pembaruan yang menunjukkan software terus dikembangkan.

Hubungan dengan sistem Kemenag

Madrasah tetap mengisi EMIS dan RDM sesuai ketentuan Kemenag. Software internal sebaiknya bisa mengimpor file ekspor EMIS agar data awal tidak diketik ulang. Perlu dicatat, sebagian besar software internal tidak terhubung langsung ke sistem Kemenag; tanyakan dengan jelas kepada penyedia. Madrasah yang memakai RDM dan membutuhkan hosting dapat membaca artikel "Hosting RDM Madrasah: Kapan Perlu dan Apa yang Diperhatikan".

Kombinasi yang realistis

Kondisi madrasah Kombinasi yang disarankan
Internet cukup, guru punya HP Android Web untuk operator dan TU, Android untuk guru dan orang tua
Internet terbatas di kelas, ada Wi-Fi di kantor Web dan Android; guru mengisi data saat di area Wi-Fi
Tanpa internet sama sekali Software lokal dengan prosedur cadangan ketat, sambil merencanakan peningkatan koneksi

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah software madrasah berbasis web aman?

Aman bila penyedia memakai koneksi terenkripsi, mengatur hak akses per peran, tidak menjual data, dan madrasah menjaga kebiasaan akun yang baik.

Apakah guru harus punya HP Android?

Tidak wajib bila software tersedia dalam versi web. Namun aplikasi Android memudahkan input dari kelas.

Bagaimana jika penyedia software berhenti beroperasi?

Pastikan sejak awal madrasah bisa mengekspor seluruh data. Lakukan ekspor berkala sebagai cadangan.

Apakah software lokal lebih aman karena data di madrasah?

Tidak otomatis. Komputer madrasah bisa rusak, terkena virus, atau hilang. Keamanan bergantung pada prosedur cadangan dan perawatan.

Apakah ada software madrasah yang bisa dipakai di iPhone?

Software berbasis web umumnya bisa dibuka dari peramban di HP apa pun. Untuk aplikasi khusus, tanyakan ketersediaannya kepada penyedia.

ASIS: Web dan Android dengan Data yang Dijaga

Akar masalah teknis di banyak madrasah adalah ketergantungan pada satu komputer dan satu operator. Saat komputer rusak atau operator berganti, data dan pengetahuan ikut hilang.

ASIS berjalan di web lewat asis.id dan aplikasi ASIS Mobile untuk Android, sehingga operator, guru, dan orang tua bisa mengakses dari perangkat masing-masing. Login bisa memakai kata sandi, OTP WhatsApp atau SMS, maupun akun Google. Dengan 45 peran pengguna, setiap orang hanya melihat data yang ia perlukan, data madrasah tidak dijual, dan tanpa iklan. Data awal diimpor dari file ekspor EMIS, dan panduan lengkap tersedia di asis.id serta kursus daring di Akademi ASIS.

ASIS gratis untuk semua sekolah dan madrasah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.