WAWASAN ASIS

Risiko Data Pribadi Aplikasi AI bagi Guru dan Murid

Kenali risiko data pribadi aplikasi AI di sekolah: data apa yang rawan, contoh kasus di kelas, aturan UU PDP, dan pedoman aman untuk guru dan murid.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Risiko data pribadi aplikasi AI di sekolah muncul ketika guru atau murid mengetik, menempel, atau mengunggah informasi yang bisa mengenali seseorang ke layanan AI umum: daftar nilai bernama, catatan konseling, foto wajah, atau dokumen berisi NIK. Data itu bisa tersimpan di server penyedia, dipakai untuk melatih model sesuai ketentuan layanan, atau terbaca pihak lain bila akun bocor. Kabar baiknya, sebagian besar risiko bisa dicegah dengan kebiasaan sederhana. Artikel ini menjelaskan data apa yang rawan, contoh situasi di kelas, kaitannya dengan UU PDP, dan pedoman yang bisa sekolah terapkan.

Mengapa data di sekolah sangat sensitif

Sekolah menyimpan data yang lengkap tentang anak: identitas, alamat, kondisi keluarga, nilai, kesehatan, hingga catatan perilaku. Bagi anak, kebocoran data bukan hanya soal privasi hari ini. Catatan negatif yang tersebar bisa melekat bertahun-tahun.

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data anak sebagai data pribadi yang bersifat spesifik, bersama data kesehatan dan beberapa jenis lain. Pemrosesan data anak memerlukan perhatian khusus, termasuk persetujuan orang tua atau wali. Sekolah, sebagai pihak yang mengelola data murid, ikut memikul tanggung jawab itu.

Data apa yang rawan saat memakai AI

Jenis data Contoh di sekolah Tingkat risiko
Identitas langsung Nama lengkap, NIK, NISN, alamat, nomor telepon Tinggi
Data kesehatan Riwayat penyakit, catatan UKS, kebutuhan khusus Sangat tinggi
Catatan BK Masalah keluarga, perundungan, konseling Sangat tinggi
Biometrik Foto wajah, rekaman suara Tinggi
Akademik bernama Daftar nilai dengan nama murid Sedang–tinggi
Karya murid Esai pribadi, jurnal refleksi Sedang
Data anonim "Murid A nilai 65, Murid B nilai 80" Rendah

Prinsipnya: semakin mudah data itu mengenali seseorang dan semakin pribadi isinya, semakin besar risikonya.

Contoh situasi di kelas

Guru meminta AI menulis deskripsi rapor

Guru menempel tabel berisi nama lengkap 32 murid beserta nilai dan catatan perilaku, lalu meminta AI membuat deskripsi rapor. Tujuannya baik, tetapi seluruh data kelas kini berada di layanan pihak ketiga.

Alternatif aman: ganti nama dengan kode (M01, M02), hapus catatan perilaku yang sensitif, lalu kembalikan nama di dokumen sekolah setelah teks jadi. Tinjau setiap deskripsi sebelum dipakai.

Guru BK meminta saran penanganan kasus

Guru BK mengetik kronologi lengkap kasus perundungan, lengkap dengan nama, kelas, dan kondisi keluarga. Ini termasuk data paling sensitif.

Alternatif aman: tanyakan secara umum, misalnya "strategi mendampingi murid SMP yang menjadi korban perundungan verbal", tanpa detail yang bisa mengenali anak.

Murid mengunggah foto ke aplikasi pengedit wajah

Murid mengunggah foto teman sekelas untuk dibuat lucu, lalu hasilnya beredar di grup. Ini bisa menjadi perundungan sekaligus pelanggaran privasi.

Alternatif aman: ajarkan aturan "izin dulu" sebelum memotret, mengunggah, atau mengedit wajah orang lain.

Murid mendaftar aplikasi dengan data asli lengkap

Banyak aplikasi meminta tanggal lahir, nomor telepon, dan akses kontak. Murid sering menyetujui semua tanpa membaca.

Alternatif aman: biasakan memeriksa izin aplikasi, hanya memberi akses yang dibutuhkan, dan bertanya ke guru atau orang tua sebelum mendaftar.

Risiko yang perlu dipahami

Data tersimpan di luar kendali sekolah. Setelah dikirim, sekolah tidak bisa memastikan kapan data dihapus.

Data dipakai untuk melatih model. Sebagian layanan menyatakan dalam ketentuannya bahwa percakapan bisa dipakai untuk pengembangan, kecuali pengguna menonaktifkan pengaturan tertentu. Baca ketentuan layanan yang dipakai.

Akun pribadi guru bocor. Riwayat percakapan berisi data murid ikut terbuka bila kata sandi lemah atau akun dipakai bersama.

Jawaban AI keliru tentang anak. AI bisa membuat kesimpulan yang terdengar meyakinkan tetapi salah. Keputusan tentang anak harus tetap di tangan guru.

Lima pertanyaan sebelum memakai aplikasi AI baru

Sebelum sebuah aplikasi dipakai di kelas, ajukan lima pertanyaan berikut. Jawabannya biasanya ada di kebijakan privasi dan ketentuan layanan.

  1. Data apa yang diminta saat mendaftar, dan apakah semuanya benar-benar perlu?
  2. Apakah percakapan atau unggahan disimpan, dan berapa lama?
  3. Apakah data dipakai untuk melatih model, dan bisakah dinonaktifkan?
  4. Berapa batas usia pengguna yang ditetapkan penyedia?
  5. Bagaimana cara menghapus akun dan seluruh datanya?

Bila jawaban tidak ditemukan atau terasa mengambang, anggap risiko data pribadi aplikasi AI tersebut tinggi dan jangan pakai untuk data murid. Pilih layanan yang menjelaskan pengelolaan datanya secara terbuka.

Pedoman praktis untuk guru

  1. Anonimkan sebelum menempel. Ganti nama dengan kode, hapus NIK, alamat, dan detail keluarga.
  2. Jangan unggah dokumen resmi utuh. Rapor, data pokok, dan catatan BK tidak untuk ditempel ke layanan umum.
  3. Gunakan akun sekolah bila tersedia, bukan akun pribadi yang dipakai bersama keluarga.
  4. Periksa pengaturan privasi layanan, termasuk opsi riwayat percakapan.
  5. Tinjau setiap keluaran AI sebelum dipakai untuk murid atau orang tua.
  6. Catat penggunaan AI untuk tugas penting, agar mudah dijelaskan bila ditanya.

Pedoman untuk murid

  • Jangan memberi nama lengkap, alamat, sekolah, atau foto diri ke aplikasi yang tidak dikenal.
  • Jangan mengunggah wajah teman tanpa izin.
  • Ingat bahwa AI bisa salah, jadi cek kembali informasinya.
  • Ceritakan ke guru atau orang tua bila ada aplikasi yang meminta data aneh.

Kebijakan yang sebaiknya dimiliki sekolah

Pedoman perorangan perlu dikuatkan kebijakan tertulis agar risiko data pribadi aplikasi AI dikelola bersama, bukan diserahkan pada kehati-hatian masing-masing guru.

Unsur kebijakan Isi minimal
Ruang lingkup Siapa yang boleh memakai AI dan untuk apa
Data terlarang Daftar data yang tidak boleh dimasukkan ke AI umum
Persetujuan Mekanisme izin orang tua untuk kegiatan yang memproses data anak
Pelatihan Sosialisasi rutin untuk guru dan tenaga kependidikan
Penanganan insiden Siapa yang dihubungi bila data terlanjur bocor

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah guru dilarang memakai AI?

Tidak. AI bisa membantu menyusun ide pembelajaran atau soal latihan. Yang perlu dijaga adalah data pribadi yang dimasukkan dan kewajiban meninjau hasilnya.

Apa risiko data pribadi aplikasi AI yang paling sering terjadi di sekolah?

Yang paling sering adalah guru menempel daftar nilai atau catatan bernama ke layanan umum untuk mempercepat pekerjaan administrasi.

Apakah mengganti nama dengan inisial sudah cukup?

Belum tentu. Inisial ditambah kelas dan cerita spesifik bisa tetap mengenali anak. Gunakan kode acak dan buang detail yang tidak perlu.

Bagaimana jika data murid terlanjur dimasukkan ke AI?

Hapus percakapan bila memungkinkan, laporkan ke Kepala Sekolah, dan evaluasi kebiasaan kerja agar tidak terulang.

Usia berapa murid boleh memakai aplikasi AI?

Setiap layanan punya batas usia di ketentuannya. Periksa ketentuan tersebut dan libatkan orang tua, terutama untuk murid jenjang SD dan SMP.

ASIS: Data Murid Tetap di Rumahnya Sendiri

Akar risiko data pribadi aplikasi AI di sekolah sering sederhana: data murid tersebar di lembar kerja, grup obrolan, dan akun pribadi guru, sehingga mudah tersalin ke mana saja. Ketika guru butuh bantuan menyusun soal atau deskripsi, data itu ikut terbawa ke layanan umum.

ASIS menyimpan data sekolah di satu tempat dengan 45 peran pengguna, sehingga tiap peran hanya melihat menu dan data yang ia perlukan. Data sekolah tidak dijual dan tanpa iklan. Bank soal dengan bantuan AI tersedia langsung di dalam sistem, dan setiap soal wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Bila sekolah memakai asisten AI umum, konektor asisten AI (MCP) ASIS menjadi jalur resmi yang lebih tertib daripada menyalin data dari lembar kerja. Catatan BK dan inklusi tetap berada di modulnya masing-masing dengan akses terbatas.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan pelajari di asis.id.

Sumber: UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, JDIH BPK

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.