Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Cara menyusun portofolio murid sebagai bahan asesmen: jenis portofolio, isi wajib, contoh lembar refleksi, rubrik, dan cara mengolahnya ke rapor.
Portofolio murid adalah kumpulan karya terpilih yang menunjukkan perkembangan kemampuan seorang anak dalam rentang waktu tertentu, disertai catatan guru dan refleksi murid itu sendiri. Agar layak menjadi bahan asesmen, portofolio harus punya tujuan yang jelas, kriteria pemilihan karya, dan rubrik penilaian. Tanpa ketiganya, portofolio hanya menjadi map tebal yang tidak pernah dibaca. Artikel ini menjelaskan cara menyusun portofolio murid dari perencanaan sampai pengolahan nilainya ke rapor.
Banyak sekolah sudah meminta murid mengumpulkan hasil kerja dalam map. Masalahnya, isinya sering acak: semua lembar kerja masuk, tidak ada tanggal, tidak ada keterangan. Di akhir semester, guru kesulitan menilai karena tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilihat.
Portofolio yang berfungsi sebagai asesmen punya tiga ciri:
| Jenis | Tujuan | Isi khas | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Portofolio proses (perkembangan) | Melihat kemajuan dari waktu ke waktu | Draf, revisi, karya akhir | Menulis, seni, praktik |
| Portofolio karya terbaik (showcase) | Menampilkan capaian puncak | Karya pilihan murid | Pameran, akhir fase |
| Portofolio penilaian | Bukti capaian terhadap kriteria | Karya sesuai tujuan + rubrik | Asesmen sumatif, rapor |
Dalam praktik, satu map bisa menggabungkan ketiganya. Yang penting, guru menetapkan sejak awal mana yang akan dinilai.
Pilih dua sampai empat tujuan pembelajaran dalam satu semester yang paling cocok dibuktikan lewat karya. Misalnya untuk Bahasa Indonesia kelas 5: menulis teks narasi dengan alur yang runtut. Tujuan seperti mengenal huruf atau menghafal definisi lebih tepat dinilai dengan cara lain.
Supaya adil, tetapkan karya wajib yang dikerjakan semua murid. Beri ruang satu atau dua karya pilihan agar murid bisa menunjukkan minatnya.
Contoh untuk satu semester Bahasa Indonesia kelas 5:
| Karya | Status | Waktu |
|---|---|---|
| Draf narasi pertama | Wajib | Minggu 3 |
| Narasi setelah revisi | Wajib | Minggu 6 |
| Narasi akhir semester | Wajib | Minggu 15 |
| Satu karya tulis bebas (puisi, komik, surat) | Pilihan | Kapan saja |
Setiap karya ditempeli lembar kecil berisi: tanggal, tujuan pembelajaran, dan kolom komentar guru. Lembar ini yang membedakan portofolio dari tumpukan kertas biasa.
Refleksi tidak perlu panjang. Untuk kelas rendah cukup dua pertanyaan dengan gambar wajah. Untuk kelas atas dan SMP, gunakan tiga sampai empat pertanyaan.
Contoh lembar refleksi:
Rubrik diberikan ke murid sebelum mereka mulai bekerja, bukan setelah selesai. Dengan begitu murid tahu seperti apa karya yang baik. Contoh rubrik lebih rinci bisa dilihat di artikel contoh rubrik penilaian.
| Kriteria | Mulai berkembang | Berkembang | Cakap | Mahir |
|---|---|---|---|---|
| Alur cerita | Peristiwa acak | Ada urutan, belum jelas | Runtut awal–tengah–akhir | Runtut dengan konflik yang menarik |
| Pilihan kata | Berulang | Cukup bervariasi | Bervariasi dan tepat | Hidup dan sesuai suasana |
| Ejaan dan tanda baca | Banyak kesalahan | Beberapa kesalahan | Sedikit kesalahan | Hampir tanpa kesalahan |
| Revisi | Tidak ada perubahan | Perubahan kecil | Perbaikan nyata | Perbaikan mendalam atas masukan |
Lima menit per murid, dua kali per semester, cukup untuk membaca portofolio bersama. Guru bertanya, murid menjelaskan. Catat hasilnya di lembar konferensi.
Portofolio bisa menjadi bagian asesmen formatif sekaligus sumatif. Karya draf dan revisi memberi umpan balik (formatif), sedangkan karya akhir yang dinilai dengan rubrik bisa menjadi salah satu komponen sumatif. Penjelasan perbedaan keduanya ada di artikel asesmen formatif dan sumatif.
Cara mengolah yang praktis:
Deskripsi yang berasal dari portofolio biasanya jauh lebih bermakna bagi orang tua daripada kalimat generik.
PAUD dan TK. Portofolio berisi hasil karya, foto kegiatan, dan catatan anekdot guru. Anak belum menulis refleksi, tetapi guru bisa mencatat ucapan anak tentang karyanya.
SD kelas rendah. Fokus pada sedikit karya dengan perbedaan yang jelas, misalnya gambar dan tulisan awal semester dibandingkan akhir semester.
SD kelas atas dan SMP. Murid mulai memilih sendiri karya terbaiknya dan menulis refleksi singkat.
SMA dan SMK. Portofolio bisa berbentuk proyek, laporan praktik, atau rekaman presentasi. Untuk SMK, portofolio praktik juga berguna saat mencari tempat PKL.
Portofolio fisik mudah dibuat dan bisa dipamerkan saat pertemuan orang tua. Kekurangannya, mudah rusak dan memakan tempat. Portofolio digital berupa foto karya, rekaman, atau dokumen yang tersimpan rapi per murid, lebih mudah dicari dan dibagikan ke orang tua.
Pilihan paling realistis untuk banyak sekolah adalah campuran: karya tetap dibuat di kertas, lalu difoto dan disimpan per murid bersama catatan guru.
Memasukkan semua lembar kerja. Portofolio jadi tebal tanpa makna. Pilih karya yang mewakili tujuan pembelajaran.
Tanpa tanggal. Perkembangan tidak bisa dilihat bila urutan waktu tidak jelas.
Rubrik diberikan di akhir. Murid menebak-nebak kriteria dan tidak bisa memperbaiki diri.
Hanya guru yang menilai. Refleksi murid dan penilaian diri justru inti portofolio.
Portofolio tidak pernah sampai ke orang tua. Bagikan setidaknya ringkasannya saat pembagian rapor.
Tidak ada angka baku. Tiga sampai enam karya per mata pelajaran yang dinilai lewat portofolio biasanya cukup untuk memperlihatkan perkembangan tanpa membebani guru.
Portofolio bisa menjadi salah satu bentuk asesmen sumatif, tetapi sebaiknya dipadukan dengan teknik lain sesuai karakter tujuan pembelajaran.
Gunakan rubrik yang sama untuk semua murid, berikan rubrik di awal, dan bila memungkinkan minta guru lain menilai beberapa sampel untuk mengecek konsistensi.
Perlu, dalam bentuk kumpulan karya, foto kegiatan, dan catatan guru. Portofolio PAUD membantu orang tua melihat tumbuh kembang anak secara konkret.
Karya fisik biasanya dikembalikan ke murid. Catatan guru, rubrik, dan foto karya sebaiknya disimpan sekolah sebagai bukti asesmen.
Portofolio sering gagal karena tercecer: karya di map, foto di ponsel guru, catatan di buku, nilai di lembar kerja komputer. Saat menulis rapor, guru harus menyatukan semuanya dari awal.
ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Catatan perkembangan guru tersimpan di profil murid yang utuh, sehingga bisa dibaca kembali oleh wali kelas dan guru berikutnya. Nilai dan deskripsi diolah di e-Rapor Kurikulum Merdeka tanpa mengetik ulang, dan orang tua menerima kabar lewat notifikasi aplikasi. Untuk memperkaya karya murid, guru bisa memakai aktivitas dan lab interaktif di Studio.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.