WAWASAN ASIS

Pertolongan Pertama di Sekolah: Pingsan, Mimisan, Luka

Panduan pertolongan pertama di sekolah untuk guru: menangani murid pingsan, mimisan, dan luka ringan, tanda bahaya, isi kotak P3K, dan alur rujukan.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Pertolongan pertama di sekolah adalah tindakan awal yang dilakukan guru, petugas UKS, atau anggota PMR sebelum murid mendapat penanganan tenaga kesehatan. Untuk kejadian yang paling sering terjadi, yaitu pingsan, mimisan, dan luka ringan, langkahnya sederhana: pastikan lingkungan aman, tenangkan murid, lakukan tindakan dasar dengan benar, lalu kenali tanda bahaya yang membutuhkan rujukan. Panduan ini merangkum langkah-langkah tersebut secara praktis. Panduan ini tidak menggantikan pelatihan resmi; sekolah sebaiknya mengikuti pelatihan dari Puskesmas atau PMI setempat.

Prinsip umum sebelum menolong

  1. Pastikan aman. Periksa apakah lokasi aman bagi penolong dan murid, misalnya jauh dari lalu lintas atau benda jatuh.
  2. Tetap tenang. Murid lain akan ikut panik bila guru panik. Minta satu murid memanggil petugas UKS dan minta yang lain menjauh.
  3. Lindungi diri. Gunakan sarung tangan sekali pakai saat menangani darah.
  4. Periksa respons. Panggil nama murid dan tepuk bahunya.
  5. Catat kejadian. Waktu, apa yang terjadi, dan tindakan yang dilakukan.
  6. Kabari orang tua. Untuk setiap kejadian yang membutuhkan penanganan, orang tua perlu diberi tahu.

Menangani murid pingsan

Pingsan di sekolah sering terjadi saat upacara, olahraga di bawah terik, atau ketika murid belum sarapan.

Langkah pertolongan

  1. Baringkan murid di tempat yang teduh dan datar.
  2. Bila tidak ada cedera, tinggikan kedua kakinya sedikit, misalnya dengan tas atau bantal, untuk membantu aliran darah ke otak.
  3. Longgarkan pakaian yang ketat, seperti dasi, ikat pinggang, atau kerah.
  4. Jaga agar orang-orang tidak berkerumun sehingga udara cukup.
  5. Setelah sadar, biarkan berbaring beberapa saat. Jangan langsung menyuruhnya berdiri.
  6. Beri minum air manis bila murid sudah sadar penuh dan bisa menelan dengan baik.
  7. Antar ke ruang UKS untuk beristirahat dan diamati.

Yang tidak boleh dilakukan

  • Memberi minum kepada murid yang belum sadar penuh.
  • Mengguyur air ke wajah.
  • Memaksa murid langsung kembali ke barisan.

Tanda bahaya: segera hubungi layanan kesehatan

  • Tidak sadar lebih dari satu sampai dua menit.
  • Napas tidak normal atau tidak bernapas.
  • Kejang.
  • Pingsan setelah benturan di kepala.
  • Nyeri dada, sesak, atau detak jantung tidak teratur.
  • Pingsan berulang dalam waktu dekat.

Bila murid tidak bernapas normal, segera minta bantuan medis darurat dan lakukan bantuan hidup dasar bila ada petugas yang terlatih.

Menangani mimisan

Mimisan umumnya tidak berbahaya dan bisa berhenti dengan penanganan sederhana.

Langkah pertolongan

  1. Dudukkan murid dengan tubuh condong ke depan, bukan mendongak.
  2. Minta murid bernapas lewat mulut.
  3. Tekan bagian lunak hidung (di bawah tulang hidung) dengan ibu jari dan telunjuk secara terus-menerus sekitar 10–15 menit tanpa dilepas untuk mengecek.
  4. Sediakan tisu atau wadah untuk darah yang keluar dari mulut. Minta murid meludahkan darah, bukan menelannya.
  5. Kompres dingin di pangkal hidung boleh membantu.
  6. Setelah berhenti, minta murid tidak mengorek atau membuang ingus keras-keras selama beberapa jam.

Mitos yang perlu diluruskan

Mitos Yang benar
Kepala didongakkan agar darah berhenti Darah justru tertelan dan bisa membuat mual. Condongkan ke depan.
Hidung disumpal kertas atau daun sirih Tekan hidung dengan jari. Benda asing bisa mengiritasi.
Berbaring telentang Duduk condong ke depan lebih aman.

Tanda bahaya

  • Mimisan tidak berhenti setelah sekitar 20 menit penekanan.
  • Terjadi setelah benturan keras di kepala atau wajah.
  • Darah sangat banyak, murid pucat atau lemas.
  • Mimisan sering berulang. Sarankan orang tua memeriksakan ke dokter.

Menangani luka ringan

Luka lecet dan luka sayat kecil paling sering terjadi saat jam istirahat dan olahraga.

Luka lecet

  1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan.
  2. Bersihkan luka dengan air mengalir yang bersih untuk mengeluarkan pasir atau kotoran.
  3. Keringkan sekitar luka dengan kasa bersih.
  4. Oleskan antiseptik bila tersedia dan murid tidak memiliki riwayat alergi.
  5. Tutup dengan plester atau kasa bila luka di area yang mudah kotor.

Luka sayat kecil yang berdarah

  1. Tekan luka dengan kasa bersih selama beberapa menit sampai perdarahan berhenti.
  2. Bila memungkinkan, posisikan bagian yang luka lebih tinggi dari jantung.
  3. Setelah berhenti, bersihkan dan tutup luka.

Kapan luka perlu dirujuk

  • Perdarahan tidak berhenti setelah ditekan beberapa menit.
  • Luka dalam, lebar, atau tepinya terbuka.
  • Ada benda tertancap. Jangan dicabut; stabilkan dan rujuk.
  • Luka akibat gigitan hewan.
  • Luka kotor oleh tanah atau karat. Orang tua perlu diberi tahu agar berkonsultasi soal perlindungan tetanus.

Surat rujukan ke Puskesmas bisa mengikuti format di artikel surat rujukan UKS ke Puskesmas.

Isi kotak P3K minimal

Bahan Kegunaan
Sarung tangan sekali pakai Melindungi penolong
Kasa steril dan pembalut Menekan dan menutup luka
Plester berbagai ukuran Menutup luka kecil
Cairan antiseptik Membersihkan sekitar luka
Gunting dan pinset Memotong kasa, mengambil kotoran
Kompres dingin Memar, mimisan
Selimut tipis Murid yang menggigil atau pingsan
Buku catatan kejadian Dokumentasi

Daftar lengkap perlengkapan UKS dibahas di artikel perlengkapan dan obat UKS. Periksa tanggal kedaluwarsa isi kotak setiap bulan.

Soal obat

Guru sebaiknya tidak memberi obat minum tanpa izin orang tua, kecuali obat rutin yang dititipkan orang tua dengan petunjuk tertulis. Catat setiap pemberian obat: nama obat, dosis, waktu, dan siapa yang memberi.

Alur pertolongan pertama di sekolah

Langkah Pelaku
Menemukan dan mengamankan murid Guru terdekat
Pertolongan awal Guru, petugas UKS, atau anggota PMR
Menilai perlu rujukan atau tidak Petugas UKS
Menghubungi orang tua Wali kelas atau petugas UKS
Merujuk ke Puskesmas atau rumah sakit Petugas UKS dengan pendamping
Mencatat kejadian Petugas UKS

Peran anggota PMR sebagai penolong pertama di lingkungan sekolah dijelaskan di artikel PMR sekolah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pertama di sekolah?

Semua guru sebaiknya tahu langkah dasarnya. Petugas UKS dan anggota PMR yang terlatih menjadi penanggung jawab utama, dan Kepala Sekolah memastikan ada pelatihan serta perlengkapan.

Apakah murid yang mimisan boleh kembali ke kelas?

Boleh bila perdarahan sudah berhenti dan murid merasa baik. Minta ia menghindari aktivitas berat untuk sementara.

Perlukah orang tua dikabari untuk luka kecil?

Untuk luka sangat ringan cukup dicatat. Untuk luka yang perlu ditutup, pingsan, atau mimisan berat, orang tua perlu dikabari pada hari itu.

Bagaimana mencegah murid pingsan saat upacara?

Biasakan sarapan, sediakan tempat teduh bagi murid yang kurang sehat, batasi durasi upacara di bawah terik, dan tempatkan petugas UKS di barisan.

Apakah guru boleh memberi obat penurun panas?

Sebaiknya hanya dengan izin tertulis orang tua dan sesuai prosedur sekolah. Bila murid demam tinggi, kabari orang tua untuk menjemput.

ASIS: Catatan UKS yang Sampai ke Orang Tua

Masalah UKS di banyak sekolah bukan kurangnya niat menolong, tetapi catatan kejadian yang tersebar di buku UKS, ingatan guru piket, dan pesan pribadi ke orang tua. Pola penting, seperti murid yang sering pingsan, baru terlihat terlambat.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Modul UKS di ASIS membantu petugas mencatat kunjungan dan penanganan, yang tersimpan di profil murid sehingga riwayat kesehatan dapat dilihat oleh peran yang berwenang. Orang tua bisa dikabari lewat notifikasi aplikasi, tanpa menunggu anak pulang dan bercerita.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.