Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Apa itu pembelajaran berpusat pada murid, enam mitos yang sering keliru, dan contoh praktik nyata di kelas SD, SMP, dan SMA yang bisa langsung dicoba guru.
Pembelajaran berpusat pada murid adalah pendekatan di mana kegiatan kelas dirancang agar murid yang paling banyak berpikir, mencoba, berdiskusi, dan merefleksikan belajarnya, sementara guru berperan merancang tujuan, mengarahkan proses, dan memberi umpan balik. Kuncinya bukan siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling banyak melakukan kerja berpikir.
Istilah ini sering terdengar dalam pelatihan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam. Sayangnya, ia juga sering disalahpahami. Ada guru yang merasa bersalah setiap kali menjelaskan di depan kelas, ada pula yang mengira cukup dengan membagi murid ke kelompok. Artikel ini meluruskan enam mitos yang paling umum, lalu menunjukkan bentuk praktiknya di kelas nyata.
Dalam kelas yang berpusat pada murid, guru tetap memegang kendali desain. Perbedaannya ada pada titik perhatian:
| Aspek | Berpusat pada guru | Berpusat pada murid |
|---|---|---|
| Pertanyaan utama guru | "Materi apa yang harus saya sampaikan?" | "Apa yang harus murid pahami dan bisa lakukan?" |
| Peran murid | Mendengar dan mencatat | Mencoba, menjelaskan, memperbaiki |
| Asesmen | Di akhir bab | Sepanjang proses, untuk menyesuaikan pengajaran |
| Kecepatan | Sama untuk semua | Disesuaikan dengan kebutuhan |
| Tanggung jawab belajar | Sebagian besar pada guru | Dibagi, murid makin mandiri |
Penjelasan langsung tetap penting, terutama untuk konsep baru. Yang perlu dihindari adalah ceramah panjang tanpa kesempatan murid mengolah informasi. Penjelasan 10–15 menit yang jelas, lalu diikuti latihan atau diskusi, justru sangat berpusat pada murid karena memberi bekal sebelum murid bekerja.
Berpusat pada murid bukan berarti tanpa struktur. Kelas tetap punya tujuan pembelajaran yang jelas, kriteria keberhasilan, dan batas waktu. Kebebasan diberikan pada cara, bukan pada tujuan.
Kerja kelompok yang hanya dikerjakan satu murid sementara yang lain menonton tidak berpusat pada murid. Kelompok perlu peran yang jelas, tugas yang menuntut kontribusi semua anggota, dan pertanggungjawaban individu.
Justru murid yang kesulitan paling diuntungkan, karena guru punya lebih banyak waktu berkeliling dan mendampingi kelompok kecil. Kuncinya ada pada dukungan bertahap, misalnya contoh soal, kartu petunjuk, atau pendampingan langsung.
Teknologi bisa membantu, tetapi bukan syarat. Papan tulis, kertas, dan pertanyaan yang baik sudah cukup untuk membuat murid berpikir. Sebaliknya, murid yang menatap layar belum tentu sedang belajar.
Banyak guru khawatir waktu habis. Kenyataannya, materi yang "selesai disampaikan" belum tentu "selesai dipahami". Memilih esensi materi dan mendalaminya sering lebih efektif daripada menyelesaikan semua halaman buku tanpa pemahaman.
Guru tidak langsung menulis definisi pecahan. Murid diberi kertas berbentuk lingkaran dan diminta membaginya untuk empat teman secara adil. Mereka berdiskusi, melipat, dan membandingkan hasilnya. Setelah itu guru memperkenalkan istilah dan lambang pecahan berdasarkan pengalaman yang baru mereka alami.
Murid membaca dua teks pendek tentang topik yang sama, satu yang kuat argumennya dan satu yang lemah. Dalam kelompok, mereka menemukan perbedaannya dan merumuskan sendiri ciri teks eksposisi yang baik. Kriteria itu kemudian dipakai untuk menulis dan menilai teks mereka sendiri.
Murid mengumpulkan harga lima bahan pokok dari warung di sekitar rumah, lalu membandingkannya dengan harga beberapa bulan lalu yang ditanyakan ke orang tua. Data itu menjadi titik awal pembahasan inflasi dan dampaknya bagi keluarga.
Dalam pembelajaran berpusat pada murid, guru bekerja lebih keras di tahap perencanaan dan pengamatan:
Bagian mencatat sering menjadi beban, karena pengamatan harian mudah hilang jika tidak ada tempat menyimpannya.
Tidak perlu mengubah semua pelajaran sekaligus. Coba langkah kecil berikut selama satu minggu:
| Hari | Satu perubahan kecil |
|---|---|
| Senin | Tulis tujuan pelajaran dengan bahasa murid di papan tulis |
| Selasa | Ganti satu sesi tanya jawab dengan diskusi berpasangan selama tiga menit |
| Rabu | Gunakan kartu jawaban serentak agar semua murid menjawab, bukan hanya yang mengangkat tangan |
| Kamis | Beri dua pilihan cara mengerjakan tugas |
| Jumat | Tutup pelajaran dengan tiket keluar: satu hal yang dipahami, satu yang masih membingungkan |
Di akhir minggu, baca kembali tiket keluar murid. Dari situ Bapak/Ibu akan melihat sendiri bagian mana yang berhasil dan mana yang perlu diubah.
Pendekatan di mana murid melakukan sebagian besar kerja berpikir, sementara guru merancang tujuan, mendampingi proses, dan memberi umpan balik.
Boleh dan perlu, terutama untuk konsep baru. Yang penting, penjelasan diikuti kesempatan murid mengolah dan menerapkannya.
Gunakan kerja berpasangan, kartu jawaban serentak, dan rotasi pendampingan kelompok. Tidak semua murid harus didampingi bersamaan.
Pembelajaran mendalam menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran berpusat pada murid adalah salah satu cara mewujudkannya.
Gunakan asesmen formatif sepanjang proses, seperti pengamatan, tiket keluar, dan penilaian diri, lalu catat sebagai bahan umpan balik.
Akar masalah penerapan pembelajaran berpusat pada murid sering bukan pada niat guru, tetapi pada beban pencatatan. Pengamatan harian, catatan perkembangan, dan hasil asesmen formatif tersebar di buku, kertas tempel, dan ingatan. Ketika rapor tiba, guru harus menyusun ulang dari awal.
ASIS menyediakan profil murid yang utuh, tempat catatan perkembangan dari berbagai kegiatan terkumpul. Guru bisa memakai perangkat ajar Kurikulum Merdeka, aktivitas dan lab interaktif di Studio, serta e-Rapor Kurikulum Merdeka dalam satu akun. Bank soal dengan bantuan AI bisa membantu menyiapkan latihan bervariasi, dengan catatan setiap soal wajib ditinjau guru.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.