WAWASAN ASIS

Pembelajaran Berpusat pada Murid: Mitos dan Praktiknya

Apa itu pembelajaran berpusat pada murid, enam mitos yang sering keliru, dan contoh praktik nyata di kelas SD, SMP, dan SMA yang bisa langsung dicoba guru.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Pembelajaran berpusat pada murid adalah pendekatan di mana kegiatan kelas dirancang agar murid yang paling banyak berpikir, mencoba, berdiskusi, dan merefleksikan belajarnya, sementara guru berperan merancang tujuan, mengarahkan proses, dan memberi umpan balik. Kuncinya bukan siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling banyak melakukan kerja berpikir.

Istilah ini sering terdengar dalam pelatihan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran mendalam. Sayangnya, ia juga sering disalahpahami. Ada guru yang merasa bersalah setiap kali menjelaskan di depan kelas, ada pula yang mengira cukup dengan membagi murid ke kelompok. Artikel ini meluruskan enam mitos yang paling umum, lalu menunjukkan bentuk praktiknya di kelas nyata.

Apa yang sebenarnya dimaksud

Dalam kelas yang berpusat pada murid, guru tetap memegang kendali desain. Perbedaannya ada pada titik perhatian:

Aspek Berpusat pada guru Berpusat pada murid
Pertanyaan utama guru "Materi apa yang harus saya sampaikan?" "Apa yang harus murid pahami dan bisa lakukan?"
Peran murid Mendengar dan mencatat Mencoba, menjelaskan, memperbaiki
Asesmen Di akhir bab Sepanjang proses, untuk menyesuaikan pengajaran
Kecepatan Sama untuk semua Disesuaikan dengan kebutuhan
Tanggung jawab belajar Sebagian besar pada guru Dibagi, murid makin mandiri

Enam mitos yang perlu diluruskan

Mitos 1: Guru tidak boleh berceramah

Penjelasan langsung tetap penting, terutama untuk konsep baru. Yang perlu dihindari adalah ceramah panjang tanpa kesempatan murid mengolah informasi. Penjelasan 10–15 menit yang jelas, lalu diikuti latihan atau diskusi, justru sangat berpusat pada murid karena memberi bekal sebelum murid bekerja.

Mitos 2: Murid bebas melakukan apa saja

Berpusat pada murid bukan berarti tanpa struktur. Kelas tetap punya tujuan pembelajaran yang jelas, kriteria keberhasilan, dan batas waktu. Kebebasan diberikan pada cara, bukan pada tujuan.

Mitos 3: Kerja kelompok otomatis berpusat pada murid

Kerja kelompok yang hanya dikerjakan satu murid sementara yang lain menonton tidak berpusat pada murid. Kelompok perlu peran yang jelas, tugas yang menuntut kontribusi semua anggota, dan pertanggungjawaban individu.

Mitos 4: Hanya cocok untuk murid pintar

Justru murid yang kesulitan paling diuntungkan, karena guru punya lebih banyak waktu berkeliling dan mendampingi kelompok kecil. Kuncinya ada pada dukungan bertahap, misalnya contoh soal, kartu petunjuk, atau pendampingan langsung.

Mitos 5: Butuh teknologi canggih

Teknologi bisa membantu, tetapi bukan syarat. Papan tulis, kertas, dan pertanyaan yang baik sudah cukup untuk membuat murid berpikir. Sebaliknya, murid yang menatap layar belum tentu sedang belajar.

Mitos 6: Materi tidak akan selesai

Banyak guru khawatir waktu habis. Kenyataannya, materi yang "selesai disampaikan" belum tentu "selesai dipahami". Memilih esensi materi dan mendalaminya sering lebih efektif daripada menyelesaikan semua halaman buku tanpa pemahaman.

Prinsip praktis di kelas

  1. Mulai dari tujuan yang dipahami murid. Tuliskan tujuan dengan bahasa murid, misalnya "Hari ini kita bisa menjelaskan mengapa siang dan malam terjadi."
  2. Aktifkan pengetahuan awal. Tanyakan apa yang sudah mereka tahu atau alami.
  3. Beri tugas yang menuntut berpikir. Bukan hanya menyalin, tetapi membandingkan, menjelaskan, memecahkan masalah.
  4. Cek pemahaman sepanjang jalan. Gunakan pertanyaan cepat, kartu jawaban, atau tiket keluar.
  5. Sediakan pilihan yang bermakna. Misalnya memilih cara menyajikan hasil: poster, presentasi lisan, atau tulisan.
  6. Akhiri dengan refleksi. Murid menuliskan apa yang dipelajari dan apa yang masih membingungkan.

Contoh praktik per jenjang

SD kelas 3: Pecahan sederhana

Guru tidak langsung menulis definisi pecahan. Murid diberi kertas berbentuk lingkaran dan diminta membaginya untuk empat teman secara adil. Mereka berdiskusi, melipat, dan membandingkan hasilnya. Setelah itu guru memperkenalkan istilah dan lambang pecahan berdasarkan pengalaman yang baru mereka alami.

SMP kelas 8: Teks eksposisi

Murid membaca dua teks pendek tentang topik yang sama, satu yang kuat argumennya dan satu yang lemah. Dalam kelompok, mereka menemukan perbedaannya dan merumuskan sendiri ciri teks eksposisi yang baik. Kriteria itu kemudian dipakai untuk menulis dan menilai teks mereka sendiri.

SMA kelas 11: Ekonomi, inflasi

Murid mengumpulkan harga lima bahan pokok dari warung di sekitar rumah, lalu membandingkannya dengan harga beberapa bulan lalu yang ditanyakan ke orang tua. Data itu menjadi titik awal pembahasan inflasi dan dampaknya bagi keluarga.

Peran guru yang justru makin penting

Dalam pembelajaran berpusat pada murid, guru bekerja lebih keras di tahap perencanaan dan pengamatan:

  • Merancang tugas yang menantang tetapi terjangkau.
  • Mengamati siapa yang paham, siapa yang tersesat, dan siapa yang diam.
  • Menyesuaikan penjelasan atau tugas berdasarkan pengamatan.
  • Mencatat perkembangan murid untuk bahan umpan balik dan rapor.

Bagian mencatat sering menjadi beban, karena pengamatan harian mudah hilang jika tidak ada tempat menyimpannya.

Memulai dalam satu minggu

Tidak perlu mengubah semua pelajaran sekaligus. Coba langkah kecil berikut selama satu minggu:

Hari Satu perubahan kecil
Senin Tulis tujuan pelajaran dengan bahasa murid di papan tulis
Selasa Ganti satu sesi tanya jawab dengan diskusi berpasangan selama tiga menit
Rabu Gunakan kartu jawaban serentak agar semua murid menjawab, bukan hanya yang mengangkat tangan
Kamis Beri dua pilihan cara mengerjakan tugas
Jumat Tutup pelajaran dengan tiket keluar: satu hal yang dipahami, satu yang masih membingungkan

Di akhir minggu, baca kembali tiket keluar murid. Dari situ Bapak/Ibu akan melihat sendiri bagian mana yang berhasil dan mana yang perlu diubah.

Tanda kelas sudah berpusat pada murid

  • Murid bisa menjelaskan tujuan pelajaran hari itu.
  • Sebagian besar waktu, murid yang berbicara, menulis, atau mencoba.
  • Guru lebih sering bertanya daripada memberi jawaban.
  • Kesalahan murid dibahas sebagai bahan belajar, bukan dipermalukan.
  • Murid bisa menyebut apa yang perlu ia perbaiki.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu pembelajaran berpusat pada murid?

Pendekatan di mana murid melakukan sebagian besar kerja berpikir, sementara guru merancang tujuan, mendampingi proses, dan memberi umpan balik.

Apakah guru masih boleh menjelaskan di depan kelas?

Boleh dan perlu, terutama untuk konsep baru. Yang penting, penjelasan diikuti kesempatan murid mengolah dan menerapkannya.

Bagaimana menerapkannya di kelas besar dengan 36 murid?

Gunakan kerja berpasangan, kartu jawaban serentak, dan rotasi pendampingan kelompok. Tidak semua murid harus didampingi bersamaan.

Apa hubungannya dengan pembelajaran mendalam?

Pembelajaran mendalam menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran berpusat pada murid adalah salah satu cara mewujudkannya.

Bagaimana menilai kemajuan murid dalam pendekatan ini?

Gunakan asesmen formatif sepanjang proses, seperti pengamatan, tiket keluar, dan penilaian diri, lalu catat sebagai bahan umpan balik.

ASIS: Catatan Pengamatan yang Tidak Hilang

Akar masalah penerapan pembelajaran berpusat pada murid sering bukan pada niat guru, tetapi pada beban pencatatan. Pengamatan harian, catatan perkembangan, dan hasil asesmen formatif tersebar di buku, kertas tempel, dan ingatan. Ketika rapor tiba, guru harus menyusun ulang dari awal.

ASIS menyediakan profil murid yang utuh, tempat catatan perkembangan dari berbagai kegiatan terkumpul. Guru bisa memakai perangkat ajar Kurikulum Merdeka, aktivitas dan lab interaktif di Studio, serta e-Rapor Kurikulum Merdeka dalam satu akun. Bank soal dengan bantuan AI bisa membantu menyiapkan latihan bervariasi, dengan catatan setiap soal wajib ditinjau guru.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.