WAWASAN ASIS

Pembelajaran Berdiferensiasi: Pengertian, Jenis, Contoh

Pembelajaran berdiferensiasi: pengertian, empat jenis diferensiasi, cara memetakan kebutuhan murid, dan contoh sederhana yang bisa dicoba besok di kelas.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Pembelajaran berdiferensiasi adalah cara guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid yang beragam, sambil tetap mengarahkan semua murid ke tujuan pembelajaran yang sama. Yang disesuaikan bisa berupa konten (apa yang dipelajari), proses (cara mempelajarinya), produk (cara menunjukkan hasil belajar), atau lingkungan belajar. Diferensiasi bukan membuat 32 rencana pelajaran untuk 32 murid. Dalam praktik, cukup dua atau tiga variasi yang didasarkan pada data asesmen awal. Artikel ini menjelaskan pengertiannya, empat jenisnya, dan contoh sederhana per jenjang.

Pengertian yang perlu diluruskan

Gagasan diferensiasi banyak dikembangkan oleh pakar pendidikan Carol Ann Tomlinson, dan di Indonesia menjadi bagian penting dalam praktik Kurikulum Merdeka. Intinya, guru merespons perbedaan murid secara terencana, bukan spontan.

Ada beberapa salah kaprah yang sering muncul:

Salah kaprah Yang sebenarnya
Setiap murid harus punya tugas berbeda Cukup beberapa variasi berdasarkan kelompok kebutuhan
Murid yang lambat diberi tujuan lebih rendah Tujuan sama, dukungan yang berbeda
Kelompok dibuat permanen sepanjang semester Kelompok fleksibel, berubah sesuai hasil asesmen
Diferensiasi berarti menebak gaya belajar Didasarkan pada data kesiapan, minat, dan hasil asesmen
Hanya cocok untuk kelas kecil Bisa di kelas besar dengan pengelolaan yang tepat

Catatan tentang gaya belajar: mengelompokkan murid secara kaku menjadi "visual", "auditori", atau "kinestetik" tidak didukung bukti yang kuat. Lebih aman memberi beberapa pilihan cara belajar kepada semua murid dan mengamati mana yang membantu.

Tiga dasar pemetaan kebutuhan murid

Kesiapan belajar. Sejauh mana murid sudah menguasai pengetahuan dan keterampilan prasyarat. Ini yang paling sering dipakai karena paling berpengaruh pada keberhasilan belajar. Datanya diperoleh dari asesmen awal; contoh instrumennya ada di artikel asesmen diagnostik awal.

Minat. Topik atau kegiatan yang membuat murid bersemangat. Minat bisa menjadi pintu masuk, misalnya soal cerita tentang sepak bola untuk murid yang menyukai olahraga.

Preferensi belajar. Kondisi yang membantu murid fokus, seperti bekerja sendiri atau berkelompok, suasana tenang atau diskusi. Gunakan sebagai pilihan, bukan label.

Empat jenis diferensiasi

Diferensiasi konten

Materi esensialnya sama, tetapi bahan dan tingkat kerumitannya disesuaikan. Contoh: teks bacaan dengan topik sama dalam dua tingkat kesulitan, atau video penjelasan bagi murid yang belum menguasai konsep dasar sementara murid lain langsung membaca bahan pengayaan.

Diferensiasi proses

Cara murid memahami materi dibedakan. Contoh: satu kelompok bekerja dengan benda konkret, kelompok lain dengan gambar, kelompok lain langsung dengan simbol. Bisa juga dengan memberi kartu petunjuk bertingkat yang boleh dibuka bila murid buntu.

Diferensiasi produk

Murid menunjukkan pemahaman dengan cara berbeda, tetapi dinilai dengan kriteria yang sama. Contoh: menjelaskan siklus air lewat poster, cerita bergambar, atau penjelasan lisan yang direkam. Rubriknya tetap menilai ketepatan konsep, bukan keindahan poster.

Diferensiasi lingkungan belajar

Pengaturan ruang dan suasana. Contoh: pojok tenang untuk membaca, meja kelompok untuk diskusi, atau aturan bahwa murid boleh memakai penutup telinga saat mengerjakan tugas individu.

Langkah merancang pembelajaran berdiferensiasi

  1. Tetapkan tujuan pembelajaran yang sama untuk semua murid.
  2. Lakukan asesmen awal singkat, misalnya lima soal atau tiket masuk.
  3. Kelompokkan hasil menjadi dua atau tiga kelompok: belum siap, cukup siap, sudah melampaui.
  4. Pilih satu jenis diferensiasi dulu. Jangan langsung membedakan konten, proses, dan produk sekaligus.
  5. Siapkan bahan per kelompok dengan tujuan dan kriteria sukses yang sama.
  6. Pantau selama kegiatan dan pindahkan murid antarkelompok bila perlu.
  7. Lakukan asesmen akhir yang sama untuk semua murid, lalu gunakan hasilnya untuk pengelompokan berikutnya.

Contoh sederhana per jenjang

SD kelas 3, Matematika: perkalian

Tujuan: murid memahami perkalian sebagai penjumlahan berulang.

Kelompok Kegiatan
Belum siap Menyusun tutup botol dalam kelompok sama banyak, lalu menulis penjumlahan berulangnya
Cukup siap Menggambar susunan baris dan kolom, lalu menulis kalimat perkalian
Melampaui Membuat soal cerita perkalian sendiri dan menukarnya dengan teman

Ketiga kelompok mengerjakan konsep yang sama, hanya tahapnya berbeda: dari benda nyata, ke gambar, lalu ke simbol. Di akhir pertemuan, semua murid mengerjakan tiga soal yang sama sebagai tiket keluar.

SMP kelas 8, Bahasa Indonesia: teks eksposisi

Tujuan: murid menulis paragraf argumentasi dengan satu bukti pendukung.

Diferensiasi produk: murid boleh memilih topik dari tiga daftar sesuai minat (lingkungan, teknologi, olahraga). Diferensiasi proses: murid yang belum siap mendapat kerangka kalimat ("Menurut saya... karena... Buktinya..."), murid lain menulis bebas.

SMA kelas 11, Biologi: sistem peredaran darah

Tujuan: murid menjelaskan alur peredaran darah besar dan kecil.

Diferensiasi konten: tiga stasiun belajar, yaitu animasi alur darah, model jantung dari bahan sederhana, dan artikel ilmiah populer tentang penyakit jantung. Semua murid mengunjungi minimal dua stasiun dan mengisi lembar yang sama.

Mengelola kelas saat kelompok bekerja berbeda

Kekhawatiran terbesar guru biasanya bukan merancang, melainkan mengelola kelas yang ramai karena tiga kelompok bekerja bersamaan. Beberapa kebiasaan yang membantu:

  • Kartu tugas tertulis. Setiap kelompok menerima kartu berisi langkah kerja, sehingga murid tidak terus bertanya kepada guru.
  • Aturan "tanya tiga teman dulu". Murid bertanya kepada teman sebelum memanggil guru.
  • Guru menetap di kelompok yang paling butuh. Kelompok yang sudah siap bekerja mandiri, sementara guru mendampingi kelompok yang belum siap selama 10–15 menit pertama.
  • Tanda waktu yang jelas. Gunakan pengatur waktu di papan agar semua kelompok tahu kapan harus berganti kegiatan.
  • Penutup bersama. Akhiri dengan diskusi kelas agar murid dari semua kelompok saling mendengar hasil temuan.

Diferensiasi dalam kerangka pembelajaran mendalam

Permendikdasmen 13/2025 memperkenalkan kerangka pembelajaran mendalam yang mencakup praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital. Diferensiasi bersinggungan erat dengan praktik pedagogis dan lingkungan pembelajaran, karena keduanya menuntut guru merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan murid. Diferensiasi juga menjadi bagian dari praktik pembelajaran berpusat pada murid.

Kesalahan umum

  • Memberi murid yang cepat selesai "soal lebih banyak" alih-alih tugas yang lebih menantang.
  • Mengumumkan nama kelompok seperti "kelompok lambat", sehingga murid merasa dilabeli.
  • Merancang diferensiasi tanpa data asesmen awal.
  • Menilai produk yang berbeda dengan kriteria yang berbeda pula, sehingga nilai tidak setara.
  • Menyerah setelah satu kali mencoba karena kelas terasa ramai.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa tujuan pembelajaran berdiferensiasi?

Membantu setiap murid mencapai tujuan pembelajaran yang sama dengan dukungan yang sesuai kebutuhannya, sehingga tidak ada murid yang tertinggal atau bosan.

Apakah diferensiasi harus dilakukan setiap pertemuan?

Tidak. Mulailah dari satu atau dua pertemuan per bab, terutama pada materi yang hasil asesmen awalnya paling beragam.

Bagaimana menerapkan diferensiasi di kelas besar?

Gunakan dua atau tiga kelompok saja, siapkan kartu tugas tertulis agar murid bisa bekerja mandiri, dan manfaatkan murid yang sudah paham sebagai teman belajar.

Apa bedanya diferensiasi dengan pembelajaran individual?

Pembelajaran individual merancang program per anak. Diferensiasi menyesuaikan pembelajaran untuk kelompok kebutuhan dalam satu kelas dengan tujuan yang sama.

Bagaimana menilai murid dalam pembelajaran berdiferensiasi?

Gunakan kriteria sukses dan rubrik yang sama untuk semua murid, walaupun cara mereka menunjukkan hasil belajar berbeda.

ASIS: Data Murid yang Utuh sebagai Dasar Diferensiasi

Diferensiasi butuh data: siapa yang sudah siap, siapa yang belum, dan bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu. Di banyak sekolah, data itu tercecer di buku nilai, kertas asesmen awal, dan ingatan guru, sehingga pengelompokan akhirnya berdasarkan kesan.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Profil murid yang utuh di ASIS menyimpan catatan perkembangan yang bisa dirujuk saat merancang kelompok belajar. Bank soal dengan bantuan AI membantu guru menyiapkan variasi soal untuk tiap kelompok, dengan setiap soal wajib ditinjau guru. Untuk variasi konten dan proses, guru dapat memanfaatkan buku pelajaran di Pustaka serta aktivitas dan lab interaktif di Studio.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.