Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Pembelajaran berbasis proyek dijelaskan lewat enam tahapan, contoh proyek SD, SMP, SMA, cara menilai proses dan produk, serta kesalahan yang sering terjadi.
Pembelajaran berbasis proyek (project based learning atau PjBL) adalah model pembelajaran ketika murid mempelajari konsep dengan mengerjakan proyek nyata dalam rentang waktu tertentu, berawal dari sebuah pertanyaan atau masalah, dan berakhir dengan produk yang dipresentasikan. Yang membedakannya dari tugas membuat prakarya biasa adalah proses berpikir di dalamnya: murid merencanakan, mencari informasi, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu merefleksikan. Artikel ini menjelaskan enam tahapan pembelajaran berbasis proyek, contoh proyek di tiap jenjang, cara menilainya, dan kesalahan yang sering terjadi.
Guru sering tertukar antara beberapa istilah yang mirip.
| Istilah | Titik awal | Hasil akhir | Lingkup |
|---|---|---|---|
| Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) | Pertanyaan mendasar atau tantangan | Produk atau karya | Biasanya dalam satu mata pelajaran, bisa lintas mapel |
| Pembelajaran berbasis masalah (PBL) | Masalah nyata yang belum terstruktur | Solusi atau rekomendasi | Fokus pada proses memecahkan masalah |
| Kegiatan kokurikuler | Tema atau tujuan profil lulusan | Beragam, bisa proyek, gerakan kebiasaan, dan lain-lain | Di luar intrakurikuler, sering lintas disiplin |
Sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, P5 digantikan kegiatan kokurikuler yang bisa berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain. PjBL adalah model yang dipakai di dalam intrakurikuler, tetapi semangatnya bisa juga dipakai dalam kegiatan kokurikuler.
Sintaks yang banyak dirujuk guru di Indonesia terdiri atas enam tahap.
Proyek dimulai dari pertanyaan terbuka yang menantang dan dekat dengan kehidupan murid. Pertanyaan yang baik tidak bisa dijawab dengan satu kata dan memerlukan penyelidikan.
Contoh: "Bagaimana cara membuat air sumur di sekitar sekolah lebih jernih dengan bahan murah?"
Murid bersama guru menentukan produk yang akan dibuat, pembagian tugas, bahan, dan sumber informasi. Guru memastikan proyek menyentuh tujuan pembelajaran, bukan sekadar kegiatan seru.
Tentukan tenggat setiap tahap: riset, membuat purwarupa, uji coba, perbaikan, presentasi. Jadwal yang jelas mencegah proyek molor atau dikerjakan semalam sebelum presentasi.
Guru memantau secara rutin, misalnya lewat jurnal kelompok atau pertemuan singkat di awal setiap sesi. Di tahap ini guru memberi umpan balik dan pertanyaan, bukan mengambil alih pekerjaan.
Murid mempresentasikan produk dan menguji apakah menjawab pertanyaan mendasar. Libatkan audiens nyata bila memungkinkan, misalnya adik kelas, orang tua, atau warga sekitar.
Murid dan guru merefleksikan proses: apa yang berhasil, apa yang sulit, apa yang dipelajari tentang konsep dan tentang kerja sama. Refleksi ini sering menjadi bagian yang paling bermakna.
Penilaian pembelajaran berbasis proyek tidak cukup hanya melihat produk akhir. Proses justru menunjukkan pembelajaran yang sebenarnya.
| Aspek | Contoh bukti | Teknik |
|---|---|---|
| Pemahaman konsep | Penjelasan cara kerja produk | Presentasi, tanya jawab |
| Perencanaan | Rencana dan jadwal kelompok | Dokumen rencana |
| Kolaborasi | Pembagian peran dan kontribusi | Observasi, penilaian antarteman |
| Pemecahan masalah | Catatan uji coba dan perbaikan | Jurnal proyek |
| Kualitas produk | Fungsi dan kerapian | Rubrik produk |
| Refleksi | Tulisan refleksi pribadi | Rubrik refleksi |
| Kriteria | Mulai berkembang | Berkembang | Cakap | Mahir |
|---|---|---|---|---|
| Kelengkapan catatan | Sporadis | Sebagian sesi | Hampir semua sesi | Semua sesi, rinci |
| Catatan uji coba | Tidak ada | Hasil saja | Hasil dan penyebab | Hasil, penyebab, rencana perbaikan |
| Refleksi | Tidak ada | Umum | Spesifik | Spesifik dan mengaitkan dengan konsep |
Tergantung tujuan dan jenjang. Untuk awal, dua sampai empat pekan dengan beberapa sesi per pekan sudah memadai.
Cocok, asalkan kelompok dibagi jelas, peran ditentukan, dan guru memantau dengan jurnal kelompok. Kelas 36 murid bisa dibagi menjadi 9 kelompok berempat.
Kegagalan adalah bagian dari belajar. Nilai proses perbaikan dan refleksi murid, bukan hanya apakah produk berhasil.
Bisa, meski bentuknya berbeda. Di Bahasa Indonesia, produknya bisa majalah kelas; di PJOK, rancangan permainan; di Matematika, desain denah kantin.
Orang tua bisa menjadi narasumber atau audiens presentasi. Hindari membebani mereka dengan pengerjaan atau biaya proyek.
Pembelajaran berbasis proyek menghasilkan banyak bukti: rencana kelompok, foto tahapan, catatan uji coba, dan nilai proses. Sayangnya, bukti itu sering tersebar di ponsel guru dan map kelas, lalu sulit dipakai saat menyusun rapor.
ASIS membantu guru menyimpan perangkat ajar Kurikulum Merdeka, catatan perkembangan murid, dan nilai dalam satu akun. Penilaian proses dan produk tercatat sekali lalu dipakai lagi di e-Rapor Kurikulum Merdeka. Untuk tahap riset, murid bisa membuka buku pelajaran pemerintah di Pustaka dan mencoba simulasi di 57 lab interaktif Studio sebelum membuat purwarupa.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.