WAWASAN ASIS

Persiapan Guru untuk Observasi Kelas saat Akreditasi

Persiapan guru menghadapi observasi kelas saat akreditasi: apa yang diamati asesor, rencana H-14 sampai hari H, contoh alur mengajar, dan kesalahan umum.

Tim Wawasan ASIS 17 Agt 2026 Kepemimpinan & Mutu

Observasi kelas saat akreditasi adalah momen asesor melihat langsung bagaimana pembelajaran berlangsung, bukan hanya membaca dokumen. Kabar baiknya, yang dinilai bukan penampilan guru yang sempurna, melainkan apakah murid benar-benar belajar, merasa aman, dan mendapat umpan balik. Guru tidak perlu menyiapkan "pertunjukan". Yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang biasa dilakukan, dirancang sedikit lebih rapi. Artikel ini membahas apa yang biasanya diamati, rencana persiapan dua pekan, contoh alur mengajar, dan kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Konteks akreditasi saat ini

Mulai 2026, akreditasi sekolah dan madrasah dikelola BSANP berdasarkan Permendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026, yang mengubah BAN-PDM menjadi BSANP dengan hasil peringkat A, B, atau C. Pendekatan akreditasi beberapa tahun terakhir menekankan kinerja nyata satuan pendidikan, termasuk kualitas proses pembelajaran yang dilihat langsung di kelas. Instrumen dan teknis visitasi detail selalu merujuk pada pedoman terbaru dari BSANP.

Apa yang biasanya diamati asesor

Fokus observasi kelas saat akreditasi umumnya tidak pada kelengkapan administrasi guru di meja, melainkan pada interaksi di dalam kelas.

Aspek Contoh yang terlihat di kelas
Keterlibatan murid Murid berdiskusi, bertanya, mencoba, bukan hanya mendengarkan
Kejelasan tujuan Murid tahu apa yang dipelajari hari ini dan untuk apa
Umpan balik Guru menanggapi jawaban murid, memperbaiki miskonsepsi
Iklim kelas Murid berani salah, tidak ada ejekan, aturan kelas dijalankan
Perhatian pada keragaman Ada dukungan bagi murid yang lambat, tantangan bagi yang cepat
Asesmen dalam proses Guru mengecek pemahaman di tengah pelajaran

Asesor juga bisa bertanya kepada murid, misalnya "Hari ini kamu belajar apa?" atau "Kalau bingung, kamu biasanya bagaimana?" Jawaban murid yang jujur sering lebih meyakinkan daripada dokumen.

Rencana persiapan dua pekan

H-14: Pilih pembelajaran yang sudah dikuasai

Jangan memilih metode baru yang belum pernah dicoba. Pilih materi dan kegiatan yang sudah biasa dilakukan dan murid sudah paham rutinitasnya. Kelas yang terbiasa diskusi kelompok akan terlihat alami; kelas yang tiba-tiba diminta berdiskusi saat ada asesor justru canggung.

H-10: Rapikan modul ajar yang akan dipakai

Pastikan tujuan pembelajaran, langkah kegiatan, dan asesmen formatif tertulis jelas. Modul ajar tidak harus tebal; yang penting sesuai dengan yang benar-benar dilakukan di kelas.

H-7: Latih rutinitas kelas

Ulangi rutinitas yang membuat kelas tertib: cara membentuk kelompok, cara meminta bicara, sinyal tenang, cara mengumpulkan tugas. Rutinitas yang lancar menghemat waktu dan menunjukkan iklim kelas yang terkelola.

H-5: Siapkan bukti belajar

Kumpulkan hasil kerja murid beberapa pekan terakhir, catatan asesmen formatif, dan contoh umpan balik tertulis. Pajang sebagian karya murid di dinding kelas jika memungkinkan.

H-3: Uji coba singkat dengan rekan

Minta rekan guru atau Wakasek Kurikulum mengamati 15–20 menit pembelajaran. Minta umpan balik spesifik, misalnya "instruksi kelompok kurang jelas" atau "murid di pojok belakang tidak terlibat".

H-1: Cek ruang dan bahan

Siapkan bahan ajar, lembar kerja, alat peraga, dan pastikan proyektor atau listrik berfungsi bila dipakai. Sediakan kursi untuk asesor di posisi yang tidak mengganggu.

Contoh alur mengajar 2 x 35 menit (SD kelas 5, IPAS)

Waktu Kegiatan Yang terlihat oleh asesor
5 menit Pertanyaan pemantik: "Mengapa daun di halaman sekolah menguning saat kemarau?" Rasa ingin tahu murid
5 menit Menyampaikan tujuan dengan bahasa murid Kejelasan tujuan
25 menit Kelompok mengamati daun segar dan kering, mencatat perbedaan Keterlibatan aktif
10 menit Guru berkeliling, bertanya, memberi umpan balik Umpan balik dalam proses
15 menit Tiap kelompok menyampaikan satu temuan Komunikasi murid
5 menit Tiket keluar: satu kalimat tentang hubungan air dan daun Asesmen formatif
5 menit Refleksi singkat dan penutup Murid menyadari apa yang dipelajari

Peran sekolah dalam mendukung guru

Persiapan observasi kelas saat akreditasi sebaiknya bukan beban guru sendirian. Kepala Sekolah dan Wakasek Kurikulum bisa membuat jadwal saling amat antarguru beberapa pekan sebelumnya, sehingga setiap guru pernah diamati dan pernah mengamati. Pengalaman ini mengurangi rasa gugup.

Sekolah juga perlu memastikan hal-hal di luar kendali guru sudah beres: kelas bersih, jadwal tidak bentrok dengan kegiatan lain, dan murid tidak dipindah-pindah ruangan pada hari visitasi. Guru di kelas yang sederhana tetap bisa menunjukkan pembelajaran yang kuat jika lingkungannya mendukung.

Saat hari H

  • Sapa asesor singkat, lalu fokus pada murid. Asesor datang untuk melihat kelas, bukan mengobrol.
  • Jika ada murid yang bertingkah, tangani seperti biasa dengan tenang. Cara guru menangani justru bagian dari yang diamati.
  • Jika rencana tidak berjalan, misalnya listrik padam, sesuaikan tanpa panik. Fleksibilitas adalah kekuatan.
  • Jangan menyuruh murid menghafal jawaban untuk asesor. Murid biasanya jujur, dan jawaban hafalan mudah dikenali.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Mengubah tata letak kelas secara drastis sehari sebelumnya.
  • Guru berbicara hampir sepanjang pelajaran untuk "menunjukkan penguasaan materi".
  • Menunjuk hanya murid yang pintar untuk menjawab.
  • Menyiapkan tumpukan dokumen di meja tetapi pembelajaran di kelas pasif.
  • Tidak menutup pelajaran karena kehabisan waktu.

Daftar cek guru sebelum observasi

  • Modul ajar sesuai dengan yang akan dilakukan.
  • Tujuan pembelajaran bisa dijelaskan dengan bahasa murid.
  • Ada minimal satu cara mengecek pemahaman di tengah pelajaran.
  • Rutinitas kelas sudah dilatih.
  • Hasil kerja murid terbaru tersedia.
  • Bahan dan alat sudah dicek.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah semua guru pasti diobservasi saat akreditasi?

Tidak selalu. Asesor biasanya mengamati sebagian kelas yang dipilih, dan bisa memilih secara acak. Karena itu semua guru sebaiknya siap.

Bolehkah guru tahu jadwal observasi lebih dulu?

Sekolah biasanya mengetahui jadwal visitasi, tetapi kelas yang diamati bisa ditentukan saat itu. Persiapan terbaik adalah pembelajaran harian yang memang sudah baik.

Apa yang harus dilakukan jika asesor bertanya di tengah pelajaran?

Jawab singkat dan sopan, lalu kembali ke murid. Jika pertanyaannya panjang, tawarkan untuk menjelaskan setelah pelajaran selesai.

Perlukah guru menyiapkan media pembelajaran canggih?

Tidak perlu. Media sederhana yang membuat murid berpikir lebih bernilai daripada tayangan menarik yang hanya ditonton.

Bagaimana jika hasil observasi kurang baik?

Hasil akreditasi dilihat secara keseluruhan dan disertai rekomendasi. Jadikan catatan asesor sebagai bahan perbaikan pembelajaran di sekolah.

ASIS: Bukti Pembelajaran yang Terkumpul Sepanjang Tahun

Persiapan observasi kelas saat akreditasi sering terasa berat karena bukti pembelajaran baru dikumpulkan mendekati visitasi. Hasil kerja murid tercecer, nilai formatif tersimpan di buku masing-masing guru, dan catatan perkembangan sulit ditunjukkan.

Di ASIS, perangkat ajar Kurikulum Merdeka, presensi, bank soal dengan bantuan AI yang tetap ditinjau guru, nilai, dan catatan perkembangan murid tersimpan dalam satu akun sepanjang tahun. Saat asesor datang, sekolah tinggal menunjukkan jejak yang sudah ada. Kepala Sekolah juga bisa memantau target lewat Dashboard Goal, dan guru bisa memakai aktivitas interaktif di Studio untuk membuat murid lebih terlibat.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.