WAWASAN ASIS

Modul P5 Gaya Hidup Berkelanjutan: Olah Sampah Plastik

Contoh modul P5 gaya hidup berkelanjutan bertema sampah plastik, disesuaikan ke kegiatan kokurikuler terbaru: tujuan, alur 6 minggu, asesmen, dan rubrik.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Banyak guru masih mencari modul P5 gaya hidup berkelanjutan, terutama dengan topik sampah plastik yang dekat dengan keseharian murid. Satu hal perlu diketahui lebih dulu: sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 berlaku pada 15 Juli 2025, P5 tidak lagi berdiri sebagai projek tersendiri. Ia digeser menjadi kegiatan kokurikuler, yang dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain. Kabar baiknya, tema sampah plastik tetap sangat cocok. Contoh di bawah ini memakai kerangka modul P5 yang sudah dikenal guru, lalu diselaraskan dengan kokurikuler dan delapan dimensi profil lulusan.

Apa yang berubah dari P5 ke kokurikuler

Aspek P5 (sebelumnya) Kokurikuler (sekarang)
Acuan karakter Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila Delapan dimensi profil lulusan
Bentuk Projek dengan tema yang ditentukan Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain
Keterkaitan mapel Sering berjalan terpisah dari mapel Didorong lintas mata pelajaran
Kerangka belajar Pembelajaran berbasis projek Pembelajaran mendalam

Delapan dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Penjelasan lebih lengkap ada di artikel apakah P5 masih ada.

Identitas modul

Komponen Isi
Judul Kelasku Bebas Sampah Plastik Sekali Pakai
Jenjang dan fase SMP kelas 7, Fase D
Bentuk kokurikuler Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin
Mata pelajaran terlibat IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Rupa
Durasi 6 minggu, 2 sesi per minggu
Dimensi profil lulusan utama Penalaran kritis, kolaborasi, kewargaan, kreativitas
Mitra Orang tua, petugas kebersihan sekolah, bank sampah setempat bila ada

Tujuan kegiatan

Pada akhir kegiatan, murid dapat:

  1. menjelaskan dampak sampah plastik sekali pakai bagi lingkungan sekitar sekolah (IPA),
  2. mengumpulkan dan menyajikan data jumlah sampah plastik kelas dalam tabel dan diagram (Matematika),
  3. menulis teks persuasif ajakan mengurangi plastik (Bahasa Indonesia),
  4. membuat karya bermanfaat dari plastik bekas (Seni Rupa),
  5. menjalankan satu aksi nyata bersama dan merefleksikan dampaknya.

Alur kegiatan enam minggu

Minggu 1: Mengenali masalah

Pemantik: guru menampilkan foto selokan tersumbat sampah di sekitar sekolah, lalu bertanya, "Dari mana asal sampah ini?" Murid berdiskusi kelompok dan menuliskan dugaan awal. Guru IPA menjelaskan jenis plastik dan lamanya terurai secara umum.

Minggu 2: Audit sampah kelas

Selama lima hari, setiap kelompok mencatat sampah plastik di kelas: jenis, jumlah, dan sumbernya. Guru Matematika membimbing murid menyusun tabel frekuensi dan diagram batang.

Jenis sampah Senin Selasa Rabu Kamis Jumat
Gelas plastik ... ... ... ... ...
Bungkus jajanan ... ... ... ... ...
Sedotan ... ... ... ... ...
Kantong kresek ... ... ... ... ...

Minggu 3: Menggali akar masalah

Murid mewawancarai petugas kebersihan dan pengelola kantin. Pertanyaan contoh: "Jam berapa sampah paling banyak?" dan "Jajanan apa yang paling banyak menghasilkan bungkus?" Kelompok menyusun peta sebab-akibat sederhana.

Minggu 4: Merancang solusi

Setiap kelompok memilih satu solusi, misalnya gerakan membawa botol minum, pojok pilah sampah, atau usulan ke kantin agar memakai wadah yang bisa dipakai ulang. Guru Bahasa Indonesia membimbing penulisan teks persuasif dan poster.

Minggu 5: Aksi dan karya

Kelompok menjalankan solusi selama satu minggu sambil terus mencatat jumlah sampah. Di kelas Seni Rupa, murid mengolah plastik bekas yang sudah bersih menjadi karya fungsional, seperti pot tanaman atau tempat alat tulis.

Minggu 6: Refleksi dan berbagi

Murid membandingkan data sebelum dan sesudah aksi, lalu mempresentasikan hasilnya di depan kelas lain atau saat pertemuan orang tua. Setiap murid menulis refleksi singkat: apa yang dipelajari, apa yang sulit, dan kebiasaan apa yang akan diteruskan di rumah.

Asesmen dan rubrik

Asesmen dilakukan sepanjang proses, bukan hanya di akhir. Gunakan observasi, catatan kelompok, produk, dan refleksi.

Kriteria Mulai berkembang Berkembang Cakap Sangat cakap
Penalaran kritis Menyebut masalah tanpa data Memakai data sebagian Menyimpulkan dari data dengan tepat Membandingkan data dan menilai solusi
Kolaborasi Bekerja sendiri Membantu bila diminta Berbagi tugas aktif Menggerakkan kelompok dan menyelesaikan konflik
Kewargaan Belum terlibat aksi Ikut aksi sesekali Konsisten menjalankan aksi Mengajak orang lain di luar kelas
Kreativitas Meniru contoh Memodifikasi sedikit Membuat karya orisinal Karya orisinal dan bermanfaat nyata

Rubrik ini contoh. Sesuaikan kriteria dengan dimensi profil lulusan yang dipilih sekolah. Contoh rubrik lain ada di artikel contoh rubrik penilaian.

Variasi untuk jenjang lain

Jenjang Penyesuaian
SD kelas 1–3 Fokus memilah sampah dan membawa botol minum, data dengan gambar atau turus
SD kelas 4–6 Audit sampah sederhana, poster ajakan, karya daur ulang
SMA Kajian kebijakan plastik sekolah, kampanye digital, kolaborasi dengan komunitas
SMK Rancangan produk atau layanan pengolahan sampah sesuai program keahlian

Tips agar kegiatan tidak berhenti di pameran

  • Libatkan kantin dan petugas kebersihan sejak awal, bukan hanya sebagai narasumber.
  • Pilih satu kebiasaan yang diteruskan setelah kegiatan selesai.
  • Dokumentasikan data sebelum dan sesudah agar dampaknya terlihat.
  • Jangan membebani orang tua dengan pembelian bahan. Gunakan plastik bekas yang sudah ada.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah modul P5 gaya hidup berkelanjutan masih bisa dipakai?

Bisa dijadikan bahan, asalkan diselaraskan dengan kegiatan kokurikuler dan delapan dimensi profil lulusan sesuai Permendikdasmen 13/2025.

Apakah kokurikuler harus berbentuk projek?

Tidak harus. Kokurikuler dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain yang sesuai dengan sekolah.

Berapa mata pelajaran yang sebaiknya dilibatkan?

Dua sampai empat sudah cukup. Yang penting setiap mata pelajaran punya peran nyata, bukan sekadar nama.

Bagaimana menilai kegiatan kokurikuler di rapor?

Ikuti ketentuan pelaporan yang berlaku dan kebijakan sekolah. Rujuk juknis terbaru karena bentuk pelaporannya dapat disesuaikan.

Apakah modul P5 gaya hidup berkelanjutan cocok untuk sekolah di desa?

Sangat cocok. Masalah sampah plastik juga ada di desa, dan murid bisa melibatkan bank sampah atau kelompok warga setempat.

ASIS: Jejak Kegiatan Kokurikuler yang Tidak Tercecer

Kegiatan seperti modul P5 gaya hidup berkelanjutan menghasilkan banyak jejak: data audit, foto aksi, catatan observasi, dan refleksi murid. Sayangnya, jejak itu sering tersebar di buku guru, ponsel, dan map kelompok, sehingga sulit dipakai untuk menilai perkembangan murid.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Guru dapat menyusun perangkat ajar Kurikulum Merdeka, lalu mencatat perkembangan murid di profil murid yang utuh, sehingga catatan dari berbagai guru bertemu di satu tempat. Sebagai pelengkap, Studio menyediakan lab interaktif untuk eksplorasi IPA, dan Pustaka menyediakan buku pelajaran pemerintah sebagai bahan bacaan.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: detikEdu: Permendikdasmen 13 Tahun 2025

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.