WAWASAN ASIS

Mitra Projek Orang Tua UMKM: Cara Melibatkannya

Cara melibatkan mitra projek orang tua UMKM di kokurikuler: memetakan potensi, surat ajakan, pembagian peran, contoh projek, dan etika.

Tim Wawasan ASIS 17 Jul 2026 Panduan

Mitra projek orang tua UMKM adalah orang tua murid dan pelaku usaha kecil di sekitar sekolah yang ikut terlibat dalam projek belajar: menjadi narasumber, tempat kunjungan, pemberi tantangan nyata, atau penilai hasil karya murid. Cara melibatkannya dimulai dari memetakan potensi yang sudah ada di komunitas sekolah, lalu mengajak dengan permintaan yang spesifik dan ringan, menyepakati peran tertulis, dan menutup kerja sama dengan apresiasi. Projek yang menggandeng mitra nyata terasa lebih bermakna bagi murid karena masalahnya sungguhan, dan orang tua merasa menjadi bagian dari sekolah.

Mengapa kokurikuler butuh mitra dari luar kelas

Sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, projek penguatan profil yang dulu dikenal sebagai P5 bergeser menjadi bagian kegiatan kokurikuler. Bentuknya bisa beragam, tetapi semangatnya tetap: murid belajar melalui pengalaman nyata yang menghubungkan beberapa mata pelajaran. Rincian pelaksanaannya sebaiknya mengacu pada panduan resmi terbaru.

Pengalaman nyata sulit dihadirkan bila semua sumber belajar berasal dari guru. Di sinilah orang tua dan UMKM berperan. Seorang ibu penjual keripik bisa menjelaskan hitungan modal dan untung lebih hidup daripada contoh di buku. Seorang ayah montir bisa menunjukkan cara kerja mesin yang sedang dipelajari di IPA.

Langkah 1: Petakan potensi komunitas sekolah

Banyak sekolah tidak sadar betapa kaya jaringan orang tuanya. Buat angket singkat di awal tahun ajaran.

Pertanyaan angket Contoh jawaban yang berguna
Pekerjaan atau usaha Penjahit, peternak lele, perawat, pemilik bengkel
Keahlian yang bisa dibagikan Membatik, memasak, desain grafis, bertani hidroponik
Bentuk keterlibatan yang bersedia Narasumber 1 jam, menerima kunjungan, menilai karya
Waktu yang memungkinkan Sabtu pagi, sore hari kerja

Lengkapi dengan daftar UMKM di sekitar sekolah: warung, toko kelontong, usaha kerajinan, kelompok tani, koperasi. Simpan data ini dengan izin pengisi dan gunakan hanya untuk keperluan sekolah.

Langkah 2: Pilih tema projek yang cocok dengan mitra

Mulailah dari mitra yang ada, bukan dari tema yang jauh dari lingkungan murid. Daftar mitra projek orang tua UMKM hasil pemetaan menjadi bahan utama diskusi tim guru.

Mitra Contoh projek Mapel yang terhubung
Usaha kue rumahan Merancang kemasan ramah lingkungan dan menghitung biayanya Matematika, Seni Rupa, IPAS
Peternak ikan Mengamati kualitas air dan pertumbuhan ikan selama 4 minggu IPA, Matematika, Bahasa Indonesia
Penjahit Mengubah kain sisa menjadi produk bernilai jual Prakarya, Matematika, Ekonomi
Perawat atau bidan Kampanye cuci tangan dan gizi seimbang di sekolah PJOK, IPA, Bahasa Indonesia
Toko kelontong Survei barang paling laku dan menyajikan datanya Matematika, Bahasa Indonesia

Langkah 3: Ajak dengan permintaan yang spesifik

Ajakan umum seperti "Bapak/Ibu dimohon mendukung kegiatan sekolah" jarang berhasil. Ajakan spesifik lebih mudah dijawab.

Contoh ajakan (fiktif):

"Ibu Rina, murid kelas 8 sedang mengerjakan projek kemasan ramah lingkungan. Kami ingin mengundang Ibu sebagai narasumber selama 45 menit pada Sabtu, 14 November, pukul 08.00 di sekolah, untuk bercerita tentang pengalaman memilih kemasan kue dan biayanya. Ibu tidak perlu menyiapkan materi tertulis. Bila berkenan, kami juga ingin meminta Ibu ikut melihat hasil karya murid di akhir projek."

Ajakan seperti ini menjawab apa, kapan, berapa lama, dan apa yang perlu disiapkan.

Langkah 4: Sepakati peran dan batasannya

Sebelum projek dimulai, tuliskan kesepakatan sederhana bersama mitra projek orang tua UMKM.

  • Peran mitra: narasumber, tuan rumah kunjungan, pemberi tantangan, atau penilai tamu.
  • Peran guru: mendampingi murid, menjaga keselamatan, menilai capaian belajar.
  • Waktu dan tempat: termasuk rencana cadangan bila mitra berhalangan.
  • Batasan: murid tidak dipekerjakan, tidak ada kewajiban membeli produk, foto dan nama usaha dipublikasikan hanya dengan izin.

Langkah 5: Jalankan dengan murid sebagai pelaku utama

Mitra memberi konteks, tetapi murid yang bekerja. Ajak murid menyiapkan pertanyaan wawancara sendiri, mencatat, mengolah data, dan merancang solusi. Guru mengarahkan agar murid tidak sekadar menjadi penonton.

Contoh alur 4 minggu:

  1. Minggu 1: Murid menyusun pertanyaan dan menerima narasumber.
  2. Minggu 2: Kunjungan ke tempat usaha atau survei lapangan.
  3. Minggu 3: Merancang solusi atau produk, uji coba kecil.
  4. Minggu 4: Presentasi kepada mitra dan orang tua, refleksi.

Langkah 6: Apresiasi dan rawat hubungan

Mitra yang merasa dihargai akan bersedia terlibat lagi. Bentuk apresiasi tidak perlu mahal:

  • Surat terima kasih resmi dari Kepala Sekolah.
  • Kartu ucapan buatan murid.
  • Menyebut nama usaha (dengan izin) dalam berita kegiatan di situs sekolah.
  • Mengundang mitra pada acara pameran hasil projek.

Kendala yang sering muncul dan solusinya

Kendala Solusi praktis
Mitra batal di hari H Siapkan narasumber cadangan atau rekaman wawancara singkat yang dibuat sebelumnya
Jam kerja orang tua bentrok Tawarkan sesi Sabtu, sesi daring singkat, atau murid yang datang ke tempat usaha
Mitra canggung berbicara di depan kelas Ganti format menjadi tanya jawab yang dipandu guru, bukan ceramah
Murid hanya mencatat tanpa berpikir Beri tantangan nyata dari mitra, misalnya "bagaimana menekan biaya kemasan"

Kendala ini wajar di tahun pertama. Catat apa yang berhasil, agar kerja sama dengan mitra projek orang tua UMKM tahun berikutnya lebih lancar.

Etika yang perlu dijaga

Hindari kesan promosi berbayar. Sekolah tidak mewajibkan murid atau orang tua membeli produk mitra.

Adil antarorang tua. Jangan hanya melibatkan orang tua dengan usaha besar. Keahlian sederhana pun berharga.

Keselamatan murid. Kunjungan ke tempat usaha memerlukan izin tertulis orang tua dan pendampingan guru yang cukup.

Privasi. Data usaha dan kontak mitra tidak dibagikan ke pihak lain.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana bila tidak ada orang tua yang memiliki usaha?

Libatkan keahlian lain: perawat, petani, sopir, ibu rumah tangga yang pandai memasak. UMKM di sekitar sekolah juga bisa diajak walau bukan orang tua murid.

Apakah mitra projek orang tua UMKM perlu diberi honor?

Tidak wajib. Banyak mitra bersedia secara sukarela. Bila sekolah memiliki anggaran, sesuaikan dengan RKAS dan ketentuan yang berlaku.

Bolehkah murid menjual produk hasil projek?

Boleh sebagai pembelajaran, misalnya bazar sekolah, asalkan tidak ada paksaan membeli dan hasilnya dikelola transparan.

Bagaimana menilai murid dalam projek bermitra?

Gunakan rubrik yang disusun guru berdasarkan tujuan pembelajaran. Pendapat mitra bisa menjadi masukan, bukan penentu nilai.

Berapa banyak mitra yang ideal untuk satu projek?

Satu atau dua mitra sudah cukup. Lebih baik sedikit mitra yang terlibat mendalam daripada banyak mitra yang hanya hadir sebentar.

ASIS: Kabar Projek Sampai ke Orang Tua, Catatan Belajar Tersimpan Utuh

Kemitraan dengan orang tua sering gagal di hal sepele: undangan tidak sampai, jadwal berubah tanpa kabar, dan dokumentasi projek tercecer di ponsel guru. Setelah projek selesai, jejak belajar murid hilang dan orang tua tidak tahu apa yang dikerjakan anaknya.

ASIS menyediakan kanal komunikasi resmi sekolah melalui notifikasi aplikasi, kotak masuk aplikasi, dan surel, gratis tanpa batas dengan jam tenang. Guru dapat mengirim undangan, perubahan jadwal, dan izin kunjungan ke orang tua kelas yang tepat. Catatan perkembangan murid tersimpan di profil murid yang utuh, dan berita kegiatan bisa ditayangkan di situs sekolah dengan subdomain gratis. Perangkat ajar Kurikulum Merdeka di ASIS membantu guru menyusun rencana kegiatannya.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai jalin kemitraan yang lebih rapi di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.