WAWASAN ASIS

Level Kognitif Soal: Pengetahuan, Aplikasi, Penalaran

Penjelasan level kognitif soal L1 pengetahuan, L2 aplikasi, L3 penalaran: ciri, contoh per mapel, kaitan dengan Bloom, dan cara menyusun kisi-kisi.

Tim Wawasan ASIS 15 Jul 2026 Panduan

Level kognitif soal adalah pengelompokan butir soal berdasarkan proses berpikir yang dituntut dari murid. Dalam kisi-kisi asesmen di Indonesia, pengelompokan yang lazim dipakai ada tiga: Level 1 pengetahuan dan pemahaman, Level 2 aplikasi, dan Level 3 penalaran. Singkatnya, L1 meminta murid mengingat atau menjelaskan, L2 meminta murid memakai konsep untuk menyelesaikan masalah yang sudah dikenal, dan L3 meminta murid menganalisis, menilai, atau menyimpulkan dalam situasi baru. Artikel ini menjelaskan ciri tiap level, contoh soal di beberapa mapel, kaitannya dengan taksonomi Bloom, dan cara menyusun kisi-kisi yang seimbang.

Mengapa level kognitif soal penting

Tanpa pemetaan level, guru cenderung menulis soal yang paling mudah dibuat: soal hafalan. Akibatnya, nilai ulangan tinggi tetapi murid kesulitan ketika menghadapi soal cerita atau asesmen yang menuntut penalaran. Sebaliknya, ulangan yang hampir semuanya L3 membuat murid yang sedang membangun dasar merasa gagal.

Dengan memetakan level kognitif soal di kisi-kisi, guru bisa:

  • memastikan asesmen mengukur tujuan pembelajaran secara utuh,
  • melihat bagian mana yang belum dikuasai murid (dasar atau penalaran),
  • menyusun soal remedial dan pengayaan yang tepat sasaran.

Ciri tiap level

Level 1: Pengetahuan dan pemahaman

Murid menunjukkan bahwa ia tahu dan mengerti fakta, konsep, atau prosedur. Jawabannya biasanya bisa ditemukan langsung di materi yang sudah diajarkan.

Kata kerja yang sering dipakai: menyebutkan, mengidentifikasi, menjelaskan, membedakan, mengklasifikasikan.

Level 2: Aplikasi

Murid memakai pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang konteksnya rutin atau mirip latihan di kelas. Ada langkah pengerjaan, tetapi jalannya sudah dikenal.

Kata kerja yang sering dipakai: menghitung, menerapkan, menggunakan, mendemonstrasikan, menentukan.

Level 3: Penalaran

Murid menghadapi situasi baru atau tidak rutin. Ia harus menganalisis informasi, menghubungkan beberapa konsep, menilai, membuat keputusan, atau menyimpulkan dengan alasan.

Kata kerja yang sering dipakai: menganalisis, membandingkan, mengevaluasi, memprediksi, merancang, menyimpulkan.

Kaitan dengan taksonomi Bloom

Banyak guru sudah akrab dengan taksonomi Bloom revisi (C1–C6). Pemetaan berikut sering dipakai sebagai patokan praktis, bukan aturan kaku.

Level kognitif soal Padanan Bloom Pertanyaan kunci
L1 Pengetahuan dan pemahaman C1 mengingat, C2 memahami Apakah murid tahu dan mengerti?
L2 Aplikasi C3 menerapkan Bisakah murid memakainya di situasi yang dikenal?
L3 Penalaran C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, C6 mencipta Bisakah murid berpikir di situasi baru?

Perlu diingat, kata kerja saja tidak menentukan level. Soal "Analisislah..." yang jawabannya tinggal menyalin dari buku tetap L1. Yang menentukan adalah proses berpikir yang benar-benar dibutuhkan.

Contoh soal per mapel

Matematika SMP (perbandingan)

  • L1: Manakah yang termasuk perbandingan senilai: jumlah buku dan harga total, atau jumlah pekerja dan lama pekerjaan?
  • L2: Harga 3 buku tulis Rp12.000. Berapa harga 8 buku tulis yang sama?
  • L3: Toko A menjual paket 5 buku seharga Rp19.000, Toko B menjual 3 buku Rp12.000 dengan potongan 10 persen untuk pembelian di atas Rp30.000. Raka butuh 15 buku. Toko mana yang lebih hemat? Jelaskan alasanmu.

IPAS SD (siklus air)

  • L1: Sebutkan tahap siklus air ketika uap air berubah menjadi titik air di awan.
  • L2: Mengapa pakaian yang dijemur lebih cepat kering pada siang hari yang terik? Kaitkan dengan siklus air.
  • L3: Desa Sukamaju mengalami banjir setelah hutan di bukit sekitarnya ditebang. Jelaskan hubungan penebangan hutan dengan banjir dan usulkan satu tindakan pencegahan.

Bahasa Indonesia SMA (teks eksposisi)

  • L1: Apa yang dimaksud dengan tesis dalam teks eksposisi?
  • L2: Tentukan kalimat tesis pada paragraf berikut.
  • L3: Penulis menyimpulkan bahwa jam masuk sekolah sebaiknya dimundurkan. Apakah argumen yang diberikan cukup mendukung simpulan itu? Berikan dua alasan.

Menyusun kisi-kisi dengan proporsi seimbang

Tidak ada satu proporsi yang wajib untuk semua asesmen di kelas. Proporsi bergantung pada tujuan: ulangan harian awal bab mungkin lebih banyak L1, sedangkan asesmen sumatif akhir semester perlu lebih banyak L2 dan L3. Berikut contoh pembagian yang bisa disesuaikan.

Jenis asesmen L1 L2 L3
Kuis awal bab 60% 30% 10%
Asesmen sumatif lingkup materi 30% 40% 30%
Asesmen akhir semester 25% 45% 30%

Angka di atas hanya contoh. Untuk ujian yang diatur dinas atau kementerian, ikuti kisi-kisi resmi yang diterbitkan.

Format kisi-kisi sederhana

No Tujuan pembelajaran Materi Indikator soal Level Bentuk No soal
1 Murid dapat menyelesaikan masalah perbandingan senilai Perbandingan Disajikan harga beberapa barang, murid menentukan harga sejumlah barang lain L2 PG 4
2 Murid dapat membandingkan dua penawaran harga Perbandingan Disajikan dua penawaran, murid memilih yang lebih hemat dengan alasan L3 Uraian 12

Kesalahan umum saat menentukan level

Menyamakan sulit dengan L3. Soal hitungan panjang dengan angka rumit tetap L2 bila langkahnya rutin. Sulit tidak sama dengan menalar.

Menyamakan soal cerita dengan L3. Soal cerita yang polanya sama persis dengan contoh di buku termasuk L2.

Stimulus tidak dipakai. Soal L3 yang diberi bacaan panjang tetapi bisa dijawab tanpa membacanya sebenarnya L1.

Pengecoh asal-asalan. Pada pilihan ganda L2 dan L3, pengecoh sebaiknya berasal dari kesalahan berpikir yang umum, agar hasilnya bisa dianalisis.

Tidak ditelaah sejawat. Penentuan level sering bias. Minta rekan satu mapel menebak level soal tanpa melihat kisi-kisi, lalu bandingkan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah level kognitif soal sama dengan HOTS?

Tidak persis. Soal HOTS umumnya berada di L3 penalaran, tetapi tidak semua soal L3 otomatis disebut HOTS. Istilah HOTS menekankan berpikir tingkat tinggi dalam konteks baru.

Apakah murid SD kelas awal perlu soal L3?

Perlu, dalam bentuk sederhana dan konteks dekat, misalnya memilih cara terbaik membagi kue kepada teman dan memberi alasan. Porsinya disesuaikan dengan perkembangan murid.

Bagaimana menentukan level bila ragu?

Tanyakan: apakah murid pernah mengerjakan soal yang polanya sama? Jika ya, kemungkinan L1 atau L2. Jika murid harus menyusun cara sendiri, kemungkinan L3.

Apakah soal buatan AI bisa langsung dipakai?

Sebaiknya tidak. AI bisa membantu membuat draf, tetapi guru tetap perlu meninjau kebenaran isi, kesesuaian level, dan bahasa sebelum soal dipakai.

Berapa jumlah soal L3 yang ideal dalam satu ulangan?

Tidak ada angka baku untuk asesmen kelas. Mulailah dengan sebagian kecil soal L3, lalu tingkatkan seiring murid terbiasa.

ASIS: Bank Soal Berlabel Level, Disusun Sekali dan Dipakai Lagi

Masalah yang sering dihadapi guru bukan tidak paham level kognitif soal, melainkan soal yang tercecer di banyak berkas tanpa label. Setiap semester guru mengetik ulang soal lama, menebak lagi levelnya, dan menyusun kisi-kisi dari nol.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Di bank soal ASIS, guru menyimpan butir soal beserta materi dan levelnya, sehingga kisi-kisi berikutnya tinggal memilih. Bantuan AI dapat membuat draf soal, dan setiap draf wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Untuk ujian kertas, ASIS bisa mencetak lembar jawaban ber-QR, dan nilainya bisa mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka. Untuk latihan interaktif, guru dapat memanfaatkan aktivitas dan lab di Studio ASIS.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai susun bank soal yang rapi di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.