WAWASAN ASIS

Label Nomor Panggil Buku: Cara Membuat yang Benar

Cara membuat label nomor panggil buku perpustakaan sekolah: unsur nomor klasifikasi, kode pengarang dan judul, contoh, letak tempel, dan kesalahan umum.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Label nomor panggil buku adalah label kecil di punggung buku yang berisi tiga baris: nomor klasifikasi (misalnya 599.7), tiga huruf pertama nama pengarang dalam huruf kapital (misalnya HAR), dan huruf pertama judul dalam huruf kecil (misalnya m). Nomor ini menentukan letak buku di rak, sehingga pengunjung dan petugas bisa menemukan buku dengan cepat dan buku yang dikembalikan selalu kembali ke tempat yang sama.

Panduan ini membahas cara menentukan setiap baris, contoh untuk buku-buku yang umum di perpustakaan sekolah, cara mencetak dan menempel, serta kesalahan yang sering terjadi.

Unsur nomor panggil

Baris 1: Nomor klasifikasi

Kebanyakan perpustakaan sekolah di Indonesia memakai Dewey Decimal Classification (DDC) yang membagi ilmu pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama:

Kelas Bidang Contoh buku di sekolah
000 Karya umum, komputer Ensiklopedia, buku pengantar komputer
100 Filsafat dan psikologi Buku pengembangan diri remaja
200 Agama Buku fikih, kisah nabi
300 Ilmu sosial Pendidikan, ekonomi, hukum
400 Bahasa Kamus, tata bahasa Inggris
500 Sains dan matematika Matematika, fisika, biologi
600 Teknologi dan ilmu terapan Kesehatan, pertanian, memasak
700 Seni dan olahraga Menggambar, musik, sepak bola
800 Sastra Kumpulan puisi, novel klasik
900 Sejarah dan geografi Atlas, sejarah Indonesia

Semakin rinci angkanya, semakin spesifik topiknya. Gunakan tabel DDC edisi yang dipakai perpustakaan dan pedoman dari perpustakaan daerah sebagai rujukan.

Baris 2: Tiga huruf nama pengarang

Ambil tiga huruf pertama dari nama yang dijadikan tajuk entri pengarang, tulis dengan huruf kapital. Untuk nama Barat, umumnya nama belakang. Untuk nama Indonesia, ikuti pedoman tajuk nama yang dipakai perpustakaan, karena aturannya berbeda untuk nama tunggal, nama bermarga, atau nama Arab. Yang terpenting, aturan yang sama dipakai konsisten di seluruh koleksi.

Bila buku tidak memiliki pengarang perorangan, misalnya buku terbitan lembaga atau buku dengan banyak penyunting, gunakan tiga huruf pertama judul.

Baris 3: Huruf pertama judul

Ambil huruf pertama judul dalam huruf kecil. Abaikan kata sandang di awal judul berbahasa asing, misalnya "The" atau "A".

Contoh label nomor panggil

Judul (contoh) Pengarang (contoh) Nomor panggil
Mamalia Indonesia Budi Harjono 599.7 / HAR / m
Matematika Menyenangkan Siti Rahmawati 510 / RAH / m
Belajar Memasak Sehat Dewi Lestari Putri 641.5 / PUT / b
Kamus Bahasa Inggris Tim Penyusun 423 / KAM / k
Atlas Indonesia Tim Redaksi 912 / ATL / a

Judul dan nama di atas fiktif, dan nomor klasifikasi hanya ilustrasi. Pastikan nomor klasifikasi diperiksa dengan tabel DDC sebelum dipakai.

Kode tambahan untuk koleksi khusus

Banyak perpustakaan sekolah menambahkan kode di atas nomor klasifikasi untuk memisahkan koleksi:

Kode Koleksi Contoh
R Referensi (tidak dipinjamkan) R 030 / ENS / e
F atau FIK Fiksi FIK / SAN / p
BP Buku pelajaran BP 510 / KEM / m
A Bacaan anak A 398.2 / SAN / k

Kode ini bebas ditentukan, asalkan dicatat dalam pedoman perpustakaan sekolah dan dipakai konsisten.

Langkah membuat label nomor panggil buku

  1. Siapkan buku dan pedoman. Pastikan buku sudah diinventaris dan memiliki nomor induk.
  2. Tentukan nomor klasifikasi. Lihat subjek utama buku dari judul, daftar isi, dan kata pengantar, lalu cocokkan dengan tabel DDC.
  3. Tentukan kode pengarang dan judul. Ikuti aturan tajuk yang dipakai perpustakaan.
  4. Catat di data katalog. Masukkan nomor panggil ke data buku agar konsisten dengan katalog.
  5. Cetak label. Gunakan kertas label stiker atau kertas biasa yang direkatkan. Tulis tiga baris rata tengah dengan huruf yang jelas.
  6. Tempel di punggung buku. Umumnya beberapa sentimeter dari bagian bawah punggung buku, dengan tinggi yang sama untuk semua buku agar rak tampak rapi.
  7. Lapisi dengan plastik bening. Agar label tidak luntur atau lepas.
  8. Susun di rak. Urutkan menurut nomor klasifikasi, lalu kode pengarang, lalu kode judul.

Bahan dan alat yang dibutuhkan

Bahan Kegunaan Catatan
Kertas label stiker Tempat menulis nomor panggil Pilih yang daya rekatnya kuat
Printer atau spidol permanen Menulis label Cetakan lebih seragam
Plastik bening perekat Melapisi label Mencegah luntur dan sobek
Gunting dan penggaris Merapikan potongan Ukuran label seragam
Pedoman tajuk dan tabel DDC Rujukan penentuan kode Simpan di meja petugas

Bila anggaran terbatas, kertas HVS yang direkatkan dengan lem dan dilapisi plastik bening sudah cukup. Yang penting, label nomor panggil buku terbaca jelas dan tidak mudah lepas.

Mengurutkan buku di rak

Urutan membaca rak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Contoh urutan yang benar:

  1. 510 / AND / a
  2. 510 / RAH / m
  3. 510.7 / BUD / b
  4. 512 / SAR / a

Perhatikan bahwa 510.7 diletakkan setelah 510 dan sebelum 512, karena angka di belakang titik dibaca sebagai desimal.

Kesalahan yang sering terjadi

Setiap petugas memakai aturan berbeda. Akibatnya, buku pengarang yang sama tersebar di beberapa tempat. Tuliskan aturan dalam pedoman satu halaman.

Label ditulis tangan dengan tinta yang mudah luntur. Gunakan cetakan atau spidol permanen, lalu lapisi plastik.

Tinggi tempel tidak seragam. Rak terlihat berantakan dan label sulit dibaca sekilas.

Nomor di label berbeda dengan katalog. Pencarian di katalog menjadi tidak berguna. Selalu perbarui keduanya bersamaan.

Buku pelajaran tidak diberi label. Buku paket yang jumlahnya banyak justru paling sering tertukar. Beri label dan nomor induk sejak diterima.

Tips untuk perpustakaan sekolah kecil

Bila koleksi masih sedikit dan petugas belum terlatih klasifikasi, jangan menunda pembuatan label nomor panggil buku. Mulailah dengan kelas utama saja (500, 600, 800, dan seterusnya), lalu rinci secara bertahap. Libatkan murid pengurus perpustakaan untuk membantu menempel dan melapisi label, sambil mengenalkan cara kerja perpustakaan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa isi label nomor panggil buku?

Tiga baris: nomor klasifikasi, tiga huruf pertama nama pengarang dalam huruf kapital, dan huruf pertama judul dalam huruf kecil.

Di mana label nomor panggil ditempel?

Di punggung buku, umumnya beberapa sentimeter dari bagian bawah, dengan tinggi yang seragam untuk seluruh koleksi.

Bagaimana bila buku tidak memiliki pengarang?

Gunakan tiga huruf pertama judul pada baris kedua, dan huruf pertama judul pada baris ketiga.

Apakah perpustakaan sekolah wajib memakai DDC?

DDC paling umum dipakai, tetapi yang terpenting adalah sistem yang konsisten dan sesuai pedoman yang diikuti perpustakaan. Rujuk pedoman perpustakaan daerah atau nasional.

Apa beda nomor panggil dan nomor induk?

Nomor induk adalah nomor urut inventaris setiap eksemplar. Nomor panggil menunjukkan letak buku di rak dan bisa sama untuk beberapa eksemplar judul yang sama.

ASIS: Katalog dan Label dari Satu Data

Akar masalah perpustakaan sekolah sering bukan kurangnya buku, tetapi data yang tidak sinkron. Buku induk ditulis tangan, katalog di lembar kerja, dan label di punggung buku dibuat terpisah. Saat ada buku baru atau petugas berganti, ketiganya mulai berbeda, dan buku "hilang" padahal hanya salah letak.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Modul perpustakaan ASIS membantu sekolah mencatat koleksi, termasuk nomor panggilnya, lalu memakai data yang sama untuk peminjaman dan pengembalian. Untuk bacaan digital, Pustaka di pustaka.asis.id menyediakan buku pelajaran pemerintah (BSE/SIBI) yang bisa dibaca murid dan guru dengan akun ASIS yang sama.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai merapikan perpustakaan sekolah di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.