WAWASAN ASIS

Kurikulum Pesantren: Cara Menyusun Jenjang Kitab dan Target

Panduan menyusun kurikulum pesantren: jenjang ula–ulya, contoh daftar kitab per tingkat, metode sorogan dan bandongan, target hafalan, dan evaluasi santri.

Tim Wawasan ASIS 30 Sep 2026 Pesantren

Kurikulum pesantren adalah rancangan tertulis tentang apa yang dipelajari santri, dalam urutan apa, dengan metode apa, dan bagaimana kemajuannya dinilai. Banyak pesantren sudah punya tradisi pengajaran yang kuat dari generasi ke generasi, tetapi belum menuliskannya secara rapi. Akibatnya, ustaz baru sulit memahami urutan kitab, santri pindahan sulit ditempatkan, dan wali santri tidak tahu apa target anaknya. Artikel ini adalah panduan praktis menuliskan kurikulum yang sudah berjalan, lengkap dengan contoh format.

Contoh-contoh di bawah bersifat ilustrasi. Setiap pesantren punya sanad keilmuan, tradisi, dan pilihan kitabnya sendiri yang perlu dihormati.

Landasan yang perlu dipahami

UU 18/2019 tentang Pesantren menyebut lima unsur minimal pesantren: kiai, santri yang bermukim, pondok atau asrama, masjid atau musala, dan kajian kitab kuning atau dirasah islamiah dengan pola pendidikan muallimin. Kajian kitab inilah inti kurikulum di sebagian besar pesantren.

Undang-undang yang sama mengenal pendidikan formal pesantren, seperti Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Muadalah, dan Ma'had Aly. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal mengikuti ketentuan masing-masing satuan tersebut. Panduan ini berfokus pada kurikulum kajian kitab dan diniyah yang dikelola pesantren sendiri.

Komponen kurikulum pesantren

Komponen Pertanyaan kunci Contoh isi
Profil lulusan Santri seperti apa yang ingin dihasilkan? Mampu membaca kitab dasar, berakhlak, hafal juz tertentu, siap mengabdi
Jenjang Bagaimana santri dikelompokkan? Ula, wustha, ulya berdasarkan kemampuan
Daftar kitab per tingkat Apa yang dipelajari di setiap tingkat? Kitab akidah, fikih, nahwu-saraf, akhlak, hadis, tafsir
Metode Bagaimana kitab diajarkan? Sorogan, bandongan, musyawarah, hafalan
Jadwal Kapan setiap kajian berlangsung? Ba'da Subuh, sore, ba'da Isya
Evaluasi Bagaimana kemajuan dinilai? Setoran, ujian lisan, imtihan akhir tahun, rapor

Contoh jenjang dan daftar kitab

Banyak pesantren dan madrasah diniyah memakai tiga jenjang. Berikut contoh ilustrasi daftar kitab yang sering dijumpai; sesuaikan dengan tradisi pesantren masing-masing.

Bidang Ula (dasar) Wustha (menengah) Ulya (lanjut)
Akidah Aqidatul Awam Kifayatul Awam Jauharatut Tauhid
Fikih Safinatun Najah Fathul Qarib Fathul Mu'in
Nahwu Jurumiyah Imrithi Alfiyah Ibnu Malik
Akhlak Akhlaqul Banin/Banat Ta'limul Muta'allim Bidayatul Hidayah
Hadis Arbain Nawawi Bulughul Maram Riyadhus Shalihin
Tafsir — Tafsir Jalalain (pilihan juz) Tafsir Jalalain lanjutan
Al-Qur'an Tajwid dan juz 30 Hafalan juz pilihan Hafalan dan murajaah

Tuliskan juga syarat naik tingkat, misalnya "santri dinyatakan lulus ula bila mampu membaca dan menjelaskan bab thaharah dari kitab fikih dasar serta menguasai i'rab dasar."

Metode pengajaran

Metode Cara Cocok untuk
Sorogan Santri membaca di depan ustaz, ustaz mengoreksi Pemula, penguatan membaca kitab
Bandongan Ustaz membaca dan menerangkan, santri menyimak dan memberi makna Kajian kitab bersama dalam jumlah besar
Musyawarah Santri berdiskusi membahas masalah dari kitab Tingkat lanjut, melatih penalaran
Hafalan Santri menghafal nadham atau ayat lalu menyetorkan Nahwu, tajwid, tahfidz

Kurikulum yang baik menyebut metode utama untuk setiap kitab, sehingga ustaz baru tahu cara mengajarkannya.

Menyusun jadwal kajian

Jadwal kajian harus selaras dengan sekolah formal (bila ada) dan kegiatan asrama. Contoh pembagian:

  • Ba'da Subuh: setoran hafalan dan sorogan.
  • Sore: madrasah diniyah sesuai jenjang.
  • Ba'da Maghrib: murajaah Al-Qur'an.
  • Ba'da Isya: bandongan kitab bersama.

Pembahasan jadwal lintas lapisan ada di "Aplikasi Jadwal Pelajaran Pesantren untuk Santri Berasrama".

Evaluasi dan rapor santri

  1. Evaluasi harian: catatan setoran dan sorogan oleh ustaz.
  2. Evaluasi tengah semester: ujian lisan membaca dan menjelaskan teks kitab.
  3. Imtihan akhir tahun: ujian tulis dan lisan untuk menentukan kenaikan tingkat.
  4. Rapor: memuat capaian kitab, hafalan, akhlak, kehadiran pengajian, dan catatan musyrif.

Contoh baris rapor santri

Bidang Kitab Capaian Keterangan
Fikih Safinatun Najah Selesai, lancar Siap ke Fathul Qarib
Nahwu Jurumiyah Bab marfu'at Perlu penguatan hafalan nadham
Al-Qur'an Juz 30 Hafal 28 surat Target juz 30 tuntas semester depan

Langkah menuliskan kurikulum yang sudah berjalan

  1. Wawancara kiai dan ustaz senior tentang urutan kitab dan alasan pemilihannya.
  2. Petakan jenjang dan syarat naik tingkat yang selama ini dipakai.
  3. Tulis daftar kitab per tingkat beserta metode dan alokasi waktu.
  4. Sepakati evaluasi dan format rapor.
  5. Sahkan oleh pimpinan pesantren dan bagikan kepada ustaz.
  6. Tinjau setiap tahun dalam musyawarah asatidz.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Kurikulum hanya ada di ingatan kiai, tidak tertulis.
  • Santri dikelompokkan berdasarkan usia, bukan kemampuan.
  • Tidak ada syarat naik tingkat yang jelas.
  • Wali santri tidak menerima laporan capaian kitab.
  • Beban kajian dan sekolah formal terlalu padat sehingga santri kurang istirahat.

Checklist kurikulum pesantren

  • Profil lulusan dirumuskan bersama pimpinan pesantren.
  • Jenjang dan syarat naik tingkat tertulis.
  • Daftar kitab per tingkat beserta metode tersedia.
  • Jadwal kajian selaras dengan sekolah formal dan asrama.
  • Evaluasi harian, semester, dan imtihan disepakati.
  • Format rapor santri siap dan dikomunikasikan ke wali santri.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kurikulum pesantren harus seragam dengan pesantren lain?

Tidak. Setiap pesantren punya tradisi dan pilihan kitab sendiri. Yang penting kurikulumnya tertulis dan bisa dijalankan secara konsisten.

Bagaimana menempatkan santri pindahan?

Gunakan tes penempatan sederhana, misalnya membaca dan menjelaskan teks dari kitab tingkat tertentu, lalu tempatkan sesuai kemampuan.

Apakah pesantren wajib mengikuti kurikulum pemerintah?

Untuk pendidikan formal pesantren seperti PDF dan SPM, ada ketentuan yang harus diikuti. Kajian kitab yang dikelola sendiri disusun oleh pesantren sesuai tradisinya.

Bagaimana melaporkan kemajuan kepada wali santri?

Melalui rapor berkala yang memuat capaian kitab, hafalan, akhlak, dan kehadiran, ditambah kabar singkat bila ada hal penting.

Siapa yang menyusun kurikulum di pesantren?

Pimpinan pesantren bersama ustaz senior dan kepala madrasah diniyah, lalu dimusyawarahkan dengan seluruh asatidz.

ASIS: Kemajuan Santri Tercatat dan Sampai ke Wali Santri

Akar masalah kurikulum pesantren yang tidak tertulis adalah kemajuan santri yang hanya diketahui ustaz pengampu. Wali santri menunggu kabar setahun sekali, dan ustaz baru harus menebak sampai mana santri belajar.

Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS, membantu pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ mencatat presensi belajar, pengajian, dan salat, hafalan, progres kitab, nilai dan rapor, serta pengumuman untuk wali santri. Wali santri cukup memindai QR dari pesantren dan masuk dengan nomor HP atau email yang didaftarkan. Untuk sekolah formal di lingkungan pesantren, ASIS menyediakan tahfidz, asrama, jadwal, dan e-Rapor dalam satu akun.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.