WAWASAN ASIS

Kurikulum Merdeka SLB: Fase dan Penyesuaiannya

Penjelasan Kurikulum Merdeka SLB: kapan memakai CP reguler atau CP pendidikan khusus, cara menentukan fase, PPI, dan penyesuaian asesmen untuk tiap murid.

Tim Wawasan ASIS 20 Jul 2026 Pendidikan Inklusi

Kurikulum Merdeka SLB berangkat dari satu prinsip: pembelajaran menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan setiap murid, bukan sebaliknya. Dalam praktiknya, ada dua jalur capaian pembelajaran (CP). Murid berkebutuhan khusus tanpa hambatan intelektual umumnya menggunakan CP yang sama dengan sekolah reguler, dengan akomodasi pada cara belajar dan asesmen. Murid dengan hambatan intelektual menggunakan CP pendidikan khusus yang disusun pemerintah dalam fase A sampai F, dan fasenya dapat disesuaikan dengan hasil asesmen kemampuan murid, tidak semata mengikuti kelas atau usia kalender.

Artikel ini menjelaskan cara memilih CP, menentukan fase, menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI), serta menyesuaikan asesmen dan rapor. Karena kebijakan kurikulum terus diperbarui, selalu rujuk dokumen CP dan panduan pendidikan khusus terbaru dari kementerian.

Dua jalur capaian pembelajaran

Kondisi murid CP yang digunakan Bentuk penyesuaian
Tunanetra, tunarungu, tunadaksa, atau hambatan lain tanpa hambatan intelektual CP reguler sesuai fase Akomodasi: huruf Braille, bahasa isyarat, waktu tambahan, alat bantu, format asesmen
Dengan hambatan intelektual CP pendidikan khusus Modifikasi: materi lebih fungsional, langkah lebih kecil, fokus kemandirian
Hambatan majemuk Ditentukan dari asesmen individu Kombinasi akomodasi dan modifikasi

Perbedaan akomodasi dan modifikasi penting dipahami. Akomodasi mengubah cara murid belajar dan menunjukkan kemampuan, tanpa menurunkan target. Modifikasi mengubah target itu sendiri agar sesuai kemampuan murid.

Contoh

Murid tunanetra kelas VIII yang tidak memiliki hambatan intelektual tetap belajar CP matematika fase D, tetapi menggunakan buku Braille, alat peraga timbul, dan soal yang dibacakan. Sementara itu, murid dengan hambatan intelektual sedang di kelas yang sama bisa jadi bekerja pada CP pendidikan khusus fase yang lebih awal, dengan fokus pada konsep bilangan yang dipakai sehari-hari, seperti menghitung uang dan membaca jam.

Menentukan fase: mulai dari asesmen

Dalam Kurikulum Merdeka SLB, fase tidak otomatis mengikuti kelas. Langkah yang umum dilakukan:

  1. Kumpulkan informasi awal: riwayat pendidikan, laporan dari orang tua, hasil pemeriksaan dari tenaga profesional bila ada.
  2. Lakukan asesmen awal pada kemampuan akademik fungsional, komunikasi, bina diri, motorik, dan sosial-emosional.
  3. Cocokkan hasil asesmen dengan CP untuk menentukan fase yang paling sesuai bagi setiap mata pelajaran.
  4. Diskusikan dengan tim: guru kelas, guru mata pelajaran, Kepala Sekolah, dan orang tua.
  5. Dokumentasikan keputusan sebagai dasar PPI.

Seorang murid bisa berada di fase berbeda untuk mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, kemampuan Bahasa Indonesianya sudah di fase B, tetapi matematikanya masih di fase A.

Menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI)

PPI adalah rencana belajar yang disusun khusus untuk satu murid. Isi PPI yang umum:

Bagian PPI Contoh isi
Identitas dan profil singkat Kekuatan, minat, hambatan utama
Hasil asesmen awal Kemampuan saat ini di setiap area
CP dan fase yang dipakai Per mata pelajaran
Tujuan pembelajaran semester Tujuan yang terukur dan realistis
Strategi dan media Jadwal bergambar, alat peraga konkret, pembelajaran berbasis rutinitas
Layanan pendukung Program kebutuhan khusus, terapi dari pihak luar bila ada
Peran orang tua Latihan di rumah yang selaras dengan sekolah
Jadwal peninjauan Misalnya setiap akhir semester

Contoh tujuan pembelajaran yang terukur

  • Kurang tepat: "Murid mampu mandiri."
  • Lebih tepat: "Murid mampu mencuci tangan dengan sabun mengikuti enam langkah bergambar tanpa bantuan fisik, minimal empat dari lima kesempatan."

Program kebutuhan khusus dan pembelajaran fungsional

Selain mata pelajaran, banyak SLB menyelenggarakan program kebutuhan khusus sesuai jenis hambatan, misalnya orientasi dan mobilitas bagi murid tunanetra, bina komunikasi bagi murid tunarungu, serta bina diri bagi murid dengan hambatan intelektual. Program ini sering menjadi kunci kemandirian murid setelah lulus.

Di jenjang SMPLB dan SMALB, pembelajaran keterampilan dan vokasional juga makin penting. Pilih keterampilan yang sesuai minat murid dan peluang di lingkungan sekitar, seperti tata boga, kerajinan, pertanian, atau tata busana.

Kegiatan kokurikuler

Kegiatan kokurikuler tetap bisa dijalankan di SLB dengan penyesuaian. Pilih tema yang dekat dengan kehidupan murid, bagi peran sesuai kemampuan, dan nilai proses partisipasi, bukan hanya hasil akhir. Rujuk ketentuan terbaru tentang kokurikuler yang berlaku.

Penyesuaian asesmen dan rapor

Asesmen di SLB harus adil, artinya memberi setiap murid kesempatan menunjukkan kemampuannya. Contoh penyesuaian:

  • Soal dibacakan atau dalam format Braille.
  • Jawaban lisan, isyarat, menunjuk gambar, atau praktik langsung.
  • Waktu tambahan dan jeda.
  • Asesmen berbasis pengamatan pada kegiatan sehari-hari.
  • Portofolio hasil kerja.

Rapor sebaiknya memuat deskripsi capaian yang jelas tentang apa yang sudah dikuasai murid dan apa langkah berikutnya. Orang tua lebih terbantu oleh deskripsi "Raka sudah dapat memakai baju berkancing sendiri" daripada angka saja.

Mengelola kelas dengan fase yang beragam

Dalam satu rombel SLB, murid sering berada di fase yang berbeda-beda. Guru tidak perlu menyiapkan pelajaran yang sepenuhnya terpisah untuk setiap anak. Pilih satu tema bersama, misalnya "Pasar", lalu bedakan tugasnya: murid yang satu mengenali nama buah dari gambar, murid lain menghitung harga dua barang, dan murid lain lagi menulis daftar belanja. Semua murid belajar dalam konteks yang sama, tetapi targetnya sesuai fase masing-masing.

Jadwal harian yang konsisten dan visual juga sangat membantu, terutama bagi murid dengan autisme atau hambatan intelektual.

Peran orang tua dalam Kurikulum Merdeka SLB

Orang tua adalah mitra utama. Libatkan mereka saat asesmen awal, penyusunan PPI, dan peninjauan. Keterampilan seperti bina diri baru benar-benar dikuasai bila dilatih secara konsisten di sekolah dan di rumah. Sampaikan perkembangan secara rutin, bukan hanya saat pembagian rapor.

Kesalahan yang sering terjadi

Menyamakan fase dengan kelas. Murid kelas V dengan hambatan intelektual dipaksa mengikuti target fase C.

PPI disalin dari tahun lalu. Padahal kemampuan murid sudah berubah.

Menurunkan target murid tanpa hambatan intelektual. Murid tunanetra atau tunarungu seharusnya mendapat akomodasi, bukan modifikasi.

Rapor hanya berisi angka. Orang tua tidak tahu apa yang sudah dan belum dikuasai anak.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah semua murid SLB memakai CP pendidikan khusus?

Tidak. CP pendidikan khusus ditujukan bagi murid dengan hambatan intelektual. Murid tanpa hambatan intelektual umumnya memakai CP reguler dengan akomodasi.

Bagaimana menentukan fase murid dalam Kurikulum Merdeka SLB?

Berdasarkan asesmen awal kemampuan murid per mata pelajaran, lalu dicocokkan dengan CP. Fase bisa berbeda antarmata pelajaran.

Apakah PPI wajib disusun?

PPI sangat dianjurkan sebagai dasar layanan individual. Ikuti ketentuan dan panduan pendidikan khusus yang berlaku di daerah masing-masing.

Seberapa sering PPI ditinjau?

Umumnya setiap semester, atau lebih cepat bila kemampuan murid berubah signifikan.

Apakah murid SLB bisa naik ke fase berikutnya?

Bisa. Bila asesmen menunjukkan murid sudah mencapai CP pada fasenya, ia dapat melanjutkan ke fase berikutnya.

ASIS: Profil Murid yang Utuh untuk Layanan yang Benar-Benar Individual

Akar masalah layanan di SLB sering berupa catatan yang terpisah-pisah: hasil asesmen awal di satu map, PPI di laptop guru, catatan terapi di buku penghubung, dan rapor di berkas lain. Ketika guru berganti, informasi penting tentang murid ikut hilang.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Profil murid yang utuh menyimpan catatan perkembangan dari tahun ke tahun, modul inklusi membantu sekolah mendokumentasikan kebutuhan dan layanan murid, dan e-Rapor Kurikulum Merdeka memudahkan guru menulis deskripsi capaian. Orang tua mendapat kabar perkembangan lewat notifikasi aplikasi yang gratis tanpa batas, dengan jam tenang. Setiap peran hanya melihat data yang ia perlukan, sehingga informasi sensitif tentang kondisi murid tetap terjaga.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk SLB, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: Kemendikdasmen, Capaian Pembelajaran Pendidikan Khusus

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.