WAWASAN ASIS

Komunikasi Murid Tunarungu BISINDO dan SIBI di Kelas

Panduan komunikasi murid tunarungu BISINDO dan SIBI di kelas: perbedaan keduanya, strategi visual, tata letak kelas, dan tips untuk sekolah inklusi.

Tim Wawasan ASIS 12 Jul 2026 Pendidikan Inklusi

Komunikasi murid tunarungu BISINDO dan SIBI di kelas berhasil ketika guru mengutamakan akses visual, menghormati bahasa yang dipakai murid, dan memastikan setiap informasi sampai. BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) adalah bahasa alami yang tumbuh di komunitas Tuli, sedangkan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) adalah sistem isyarat yang mengikuti struktur Bahasa Indonesia baku. Keduanya bisa ditemui di sekolah. Yang terpenting bukan memilih salah satu secara kaku, melainkan memastikan murid benar-benar memahami pelajaran dan bisa mengungkapkan pikirannya.

Panduan ini membahas perbedaan BISINDO dan SIBI, strategi komunikasi visual, penataan kelas, peran juru bahasa isyarat, asesmen yang adil, dan kesalahan yang perlu dihindari, baik di SLB maupun sekolah inklusi.

Mengenal BISINDO dan SIBI

Aspek BISINDO SIBI
Asal Tumbuh alami dari komunitas Tuli Disusun sebagai sistem resmi untuk pendidikan
Struktur Punya tata bahasa sendiri, tidak mengikuti urutan Bahasa Indonesia Mengikuti struktur kalimat Bahasa Indonesia, termasuk imbuhan
Variasi Ada variasi daerah, seperti dialek Relatif seragam
Penggunaan Percakapan sehari-hari komunitas Tuli Banyak dipakai di lingkungan pendidikan formal
Kelebihan Alami, ekspresif, cepat dipahami penutur Membantu mengenalkan struktur Bahasa Indonesia tulis
Tantangan Variasi daerah perlu disesuaikan Bisa terasa lambat dan kaku untuk percakapan

Banyak komunitas Tuli mendorong penggunaan BISINDO karena merupakan bahasa ibu mereka. Di sisi lain, sebagian sekolah masih memakai SIBI dalam pembelajaran. Pendekatan yang bijak: kenali bahasa yang dipakai murid di rumah dan komunitasnya, lalu gunakan sebagai jembatan untuk mengakses materi, termasuk Bahasa Indonesia tulis.

Prinsip komunikasi murid tunarungu BISINDO di kelas

  1. Visual dulu. Tampilkan gambar, tulisan, atau benda sebelum menjelaskan.
  2. Hadap murid. Jangan berbicara sambil menulis di papan atau membelakangi kelas.
  3. Satu sumber informasi pada satu waktu. Murid tidak bisa membaca slide dan melihat isyarat sekaligus. Beri jeda.
  4. Pastikan pemahaman. Minta murid menjelaskan kembali, bukan sekadar mengangguk.
  5. Hormati bahasa murid. Jangan melarang murid berisyarat dengan temannya.

Strategi praktis komunikasi murid tunarungu BISINDO sehari-hari

Sebelum pelajaran

  • Siapkan kosakata kunci dan isyaratnya. Jika belum tahu, pelajari dari murid atau komunitas Tuli setempat.
  • Siapkan materi tertulis atau ringkasan bergambar.
  • Gunakan video dengan teks (takarir) atau sediakan transkrip.

Saat pelajaran

  • Bicara dengan jelas dan wajar. Jangan berteriak atau membesar-besarkan gerak bibir.
  • Gunakan ekspresi wajah dan gestur. Dalam bahasa isyarat, ekspresi wajah adalah bagian dari tata bahasa.
  • Tulis instruksi penting di papan: halaman buku, tugas, dan tenggat.
  • Saat murid lain bertanya, ulangi pertanyaannya agar murid tunarungu tahu apa yang dibahas.
  • Untuk menarik perhatian, gunakan isyarat yang disepakati, misalnya melambaikan tangan atau menyalakan-matikan lampu.

Setelah pelajaran

  • Bagikan ringkasan tertulis.
  • Sediakan waktu tanya jawab individu.
  • Catat kosakata baru yang perlu dilatih.

Menata kelas yang ramah tunarungu

Aspek Rekomendasi
Tempat duduk Depan atau setengah lingkaran agar bisa melihat guru dan teman
Pencahayaan Wajah guru terkena cahaya; jangan berdiri membelakangi jendela
Kebisingan Kurangi kebisingan untuk murid yang memakai alat bantu dengar
Papan visual Jadwal harian bergambar, aturan kelas bergambar
Kelompok Susunan melingkar saat diskusi

Peran juru bahasa isyarat dan guru pendamping

Di sekolah inklusi, juru bahasa isyarat atau guru pendamping khusus sangat membantu. Beberapa hal yang perlu disepakati:

  • Juru bahasa berdiri di dekat guru agar murid bisa melihat keduanya.
  • Guru tetap berbicara kepada murid, bukan kepada juru bahasa.
  • Berikan materi lebih awal kepada juru bahasa agar ia bisa menyiapkan istilah teknis.
  • Beri jeda, karena penerjemahan butuh waktu.

Jika sekolah belum memiliki juru bahasa, jalin kerja sama dengan organisasi Tuli atau lembaga layanan bahasa isyarat di daerah.

Asesmen yang adil

  • Bedakan kemampuan bahasa dan penguasaan konsep. Murid bisa memahami konsep IPA dengan baik meski tata bahasa tulisnya belum sempurna.
  • Variasikan bentuk jawaban: isyarat yang direkam, gambar, peta konsep, atau demonstrasi.
  • Sederhanakan bahasa soal tanpa menurunkan tingkat konsepnya.
  • Beri waktu tambahan jika soal berbentuk bacaan panjang.
  • Tulis instruksi ujian dengan jelas, jangan hanya dibacakan.

Melibatkan keluarga dan teman sekelas

Komunikasi tidak berhenti di guru. Ajak teman sekelas belajar isyarat dasar, seperti salam, terima kasih, nama hari, dan kosakata pelajaran. Beberapa sekolah membuat "isyarat pekan ini" yang dipelajari bersama setiap Senin.

Libatkan orang tua untuk mengetahui bahasa yang dipakai di rumah. Sampaikan kabar perkembangan anak secara tertulis dan visual agar mudah dipahami seluruh keluarga.

Contoh penerapan dalam satu pelajaran IPAS

Bayangkan pelajaran tentang perubahan wujud benda di kelas V inklusi. Guru membuka dengan menunjukkan es batu di gelas, lalu menulis kata "mencair" di papan dan memperagakan isyaratnya. Murid diminta mengamati perubahan selama sepuluh menit dan menggambar hasilnya. Saat diskusi, guru mengulang setiap pertanyaan teman agar murid tunarungu mengikuti alurnya. Di akhir pelajaran, murid menjelaskan temuannya dengan isyarat, gambar, atau tulisan, sesuai pilihannya.

Pelajaran ini tidak membutuhkan alat mahal. Yang dibutuhkan adalah urutan visual yang jelas, kosakata kunci yang disiapkan, dan kesempatan yang sama bagi semua murid untuk menunjukkan pemahaman.

Kesalahan umum

  • Hanya mengandalkan gerak bibir. Membaca ujaran sangat melelahkan dan banyak bunyi terlihat sama.
  • Berbicara sambil berjalan atau menulis di papan.
  • Menganggap murid tunarungu kurang mampu secara kognitif. Hambatan ada pada akses informasi, bukan kemampuan berpikir.
  • Melarang bahasa isyarat demi melatih bicara. Ini menghambat perkembangan bahasa dan rasa percaya diri.
  • Memakai video tanpa takarir.

Variasi per jenjang

  • PAUD dan SD kelas rendah: banyak gambar, benda nyata, dan rutinitas visual. Masa ini penting untuk fondasi bahasa.
  • SD kelas tinggi dan SMP: perkenalkan kosakata akademik dengan isyarat dan tulisan sekaligus.
  • SMA/SMK: perhatikan istilah teknis, pilihan karier, dan latihan berkomunikasi di dunia kerja.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mana yang sebaiknya dipakai di kelas, BISINDO atau SIBI?

Kenali bahasa yang dipakai murid dan ikuti kebijakan sekolah. Banyak praktisi menyarankan BISINDO sebagai bahasa pengantar karena alami bagi murid Tuli, sementara Bahasa Indonesia tulis tetap diajarkan.

Apakah guru umum perlu belajar bahasa isyarat?

Sangat dianjurkan, setidaknya kosakata dasar dan kosakata mapel. Belajar dari murid dan komunitas Tuli adalah cara yang menyenangkan.

Bagaimana jika murid memakai alat bantu dengar?

Tetap gunakan strategi visual. Alat bantu dengar membantu, tetapi tidak membuat pendengaran kembali normal, terutama di ruangan bising.

Apakah murid tunarungu bisa bersekolah di sekolah umum?

Bisa, melalui sekolah penyelenggara pendidikan inklusi dengan dukungan akomodasi yang tepat.

Di mana guru bisa belajar BISINDO?

Organisasi dan komunitas Tuli di berbagai daerah membuka kelas bahasa isyarat, baik tatap muka maupun daring.

ASIS: Kabar Visual dan Catatan Perkembangan untuk Murid Tunarungu

Komunikasi murid tunarungu BISINDO atau SIBI di kelas sering terhambat oleh hal sederhana: pengumuman disampaikan lisan lewat pengeras suara, perubahan jadwal diberitahukan secara mendadak, dan catatan perkembangan akomodasi tersimpan di buku guru pendamping saja. Akibatnya, murid dan keluarganya tertinggal informasi.

ASIS membantu sekolah dengan prinsip "data dicatat sekali, dipakai berkali-kali". Modul inklusi dan profil murid yang utuh menyimpan catatan kebutuhan dan perkembangan setiap anak, sehingga wali kelas, guru mapel, dan guru pendamping khusus melihat informasi yang sama sesuai perannya. Pengumuman dan perubahan jadwal dikirim tertulis lewat notifikasi aplikasi dan kotak masuk aplikasi, sehingga mudah diakses murid Tuli dan keluarganya. Untuk belajar, murid bisa membaca buku pelajaran pemerintah di Pustaka dan memakai aktivitas serta lab interaktif yang sangat visual di Studio.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk SLB dan sekolah inklusi, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

Sumber: Telkom University Open Library, BISINDO dan SIBI; Medcom, Bahasa Isyarat di Indonesia

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.