WAWASAN ASIS

Kokurikuler SD: Contoh Kegiatan dan Format Perencanaan

Kokurikuler SD sesuai Permendikdasmen 13/2025: contoh kegiatan per fase A, B, C, format perencanaan satu halaman, jadwal, dan cara mencatat perkembangan murid.

Tim Wawasan ASIS 03 Okt 2026 Kurikulum & Pembelajaran

Kokurikuler SD adalah kegiatan belajar di luar jam intrakurikuler biasa yang dirancang untuk menguatkan profil lulusan, misalnya lewat projek kolaboratif lintas mata pelajaran, pembiasaan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau bentuk lain yang dipilih sekolah. Sejak Permendikdasmen 13/2025 berlaku, kegiatan ini menggantikan posisi P5. Bagi guru SD, kuncinya sederhana: kegiatan kecil yang konkret, dekat dengan kehidupan anak, dan punya bukti perkembangan yang bisa diceritakan kepada orang tua.

Artikel ini memberi contoh kegiatan per fase, format perencanaan satu halaman yang bisa langsung dipakai, jadwal contoh, dan cara mencatat hasilnya. Untuk pilihan bentuk kegiatan secara umum, baca juga "Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Bisa Dipilih Sekolah".

Yang berubah dari P5 ke kokurikuler

Banyak guru SD bertanya apakah projek lama masih bisa dipakai. Jawabannya: bisa, dengan penyesuaian.

Aspek P5 (sebelumnya) Kokurikuler (sekarang)
Acuan Profil Pelajar Pancasila, 6 dimensi Profil lulusan, 8 dimensi
Bentuk Projek bertema Projek kolaboratif, 7 kebiasaan, atau cara lain
Fleksibilitas Tema ditentukan dari daftar Sekolah lebih leluasa memilih
Fokus Projek dan produk Proses, kebiasaan, dan pengalaman bermakna

Delapan dimensi profil lulusan yang menjadi arah kegiatan adalah keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Satu kegiatan tidak perlu menyasar semuanya. Untuk SD, dua atau tiga dimensi per kegiatan sudah cukup.

Alokasi waktu dan ketentuan teknis mengikuti struktur kurikulum yang berlaku. Sesuaikan dengan CP resmi terbaru dan panduan kokurikuler dari kementerian.

Prinsip kokurikuler di jenjang SD

  • Konkret dan dekat. Anak SD belajar dari yang bisa dilihat, dipegang, dan dialami: kebun, kantin, kelas, rumah.
  • Pendek dan berulang. Kegiatan 2–4 minggu lebih efektif daripada projek panjang satu semester.
  • Bermain tetap boleh. Terutama di Fase A, permainan dan cerita adalah pintu masuk terbaik.
  • Melibatkan orang tua secukupnya. Tugas rumah sederhana, bukan proyek yang dikerjakan orang tua.
  • Bukti berupa cerita. Foto, hasil karya, dan catatan guru lebih bermakna daripada angka.

Contoh kegiatan per fase

Fase A (kelas 1–2): kebiasaan dan diri sendiri

Kegiatan: "Pagi Hebatku"

  • Dimensi: kesehatan, kemandirian.
  • Durasi: 3 minggu.
  • Alur: anak menempel stiker setiap pagi untuk kebiasaan bangun pagi, sarapan, dan merapikan tempat tidur, dibantu orang tua. Di kelas, anak bercerita satu kebiasaan yang paling mudah dan paling sulit.
  • Bukti: kartu kebiasaan, gambar "pagiku", catatan guru tentang anak yang mulai mandiri.

Fase B (kelas 3–4): kelas dan lingkungan sekitar

Kegiatan: "Pojok Sampah Kelas Kami"

  • Dimensi: kolaborasi, kewargaan, penalaran kritis.
  • Durasi: 4 minggu.
  • Alur: kelompok menghitung sampah kelas selama satu minggu, memilah organik dan anorganik, membuat poster aturan kelas, lalu membandingkan jumlah sampah sebelum dan sesudah.
  • Kaitan mapel: matematika (mencatat dan membuat diagram gambar), Bahasa Indonesia (poster ajakan), IPAS (jenis sampah).
  • Bukti: tabel hitungan, poster, refleksi kelompok.

Fase C (kelas 5–6): sekolah dan masyarakat

Kegiatan: "Kantin Sehat Versi Kami"

  • Dimensi: kesehatan, komunikasi, kreativitas, penalaran kritis.
  • Durasi: 4 minggu.
  • Alur: murid mewawancarai pengelola kantin, mendata jajanan yang paling laku, mencari tahu kandungan gula, lalu mengusulkan satu menu sehat dan mempresentasikannya kepada Kepala Sekolah.
  • Kaitan mapel: IPAS, matematika (persentase sederhana), Bahasa Indonesia (wawancara dan presentasi).
  • Bukti: catatan wawancara, grafik, slide atau poster usulan, umpan balik pengelola kantin.

Format perencanaan satu halaman

Guru SD tidak perlu dokumen tebal. Format berikut cukup untuk satu kegiatan.

Bagian Isi contoh (Fase B, "Pojok Sampah Kelas Kami")
Nama kegiatan Pojok Sampah Kelas Kami
Kelas dan durasi Kelas 4, 4 minggu, 2 sesi per minggu
Dimensi utama Kolaborasi, kewargaan, penalaran kritis
Pertanyaan pemantik "Berapa banyak sampah yang kita buat setiap hari?"
Langkah Mengamati, menghitung, memilah, membuat aturan, membandingkan
Mapel yang terlibat Matematika, Bahasa Indonesia, IPAS
Peran orang tua Bertanya kepada anak tentang aturan kelas yang dibuat
Bukti perkembangan Tabel, poster, foto, catatan anekdot
Refleksi "Apa yang berubah di kelas kita?"

Format ini juga memudahkan guru lain meniru atau memodifikasi kegiatan di tahun berikutnya.

Contoh jadwal empat minggu

Minggu Sesi 1 Sesi 2
1 Pemantik dan cerita Mengamati dan mulai menghitung
2 Menghitung dan memilah Membuat diagram gambar
3 Merancang aturan dan poster Menempel poster, menjalankan aturan
4 Menghitung ulang Refleksi dan berbagi ke kelas lain

Mencatat perkembangan murid

Bagian yang paling sering terlewat dalam kokurikuler SD adalah pencatatan. Padahal tanpa catatan, guru kesulitan menulis deskripsi di rapor. Gunakan cara sederhana:

  1. Catatan anekdot singkat. "Rafi mengusulkan tempat sampah dipindah dekat pintu agar teman tidak lupa." Satu kalimat, bertanggal.
  2. Foto proses, bukan hanya hasil. Foto saat kelompok berdiskusi lebih bercerita daripada foto poster jadi.
  3. Refleksi murid dengan gambar. Anak Fase A bisa menggambar wajah senang atau sedih untuk menjawab pertanyaan refleksi.
  4. Rubrik sederhana tiga tingkat. Misalnya "mulai berkembang, berkembang, mandiri" untuk tiap dimensi. Cara menyusunnya dibahas di "Penilaian Kokurikuler: Menyiapkan dan Menilai Projek".

Kesalahan umum yang perlu dihindari

  • Kegiatan terlalu besar sehingga orang tua yang mengerjakan.
  • Fokus pada pentas akhir, prosesnya tidak tercatat.
  • Semua dimensi dipaksakan dalam satu kegiatan.
  • Tidak ada refleksi, sehingga anak tidak tahu apa yang dipelajari.
  • Dokumen perencanaan ditulis panjang, tetapi kegiatannya tidak berjalan.

Checklist guru sebelum memulai

  • Dua atau tiga dimensi profil lulusan sudah dipilih.
  • Ada pertanyaan pemantik yang dekat dengan kehidupan anak.
  • Durasi dan jadwal sesi jelas.
  • Mapel yang terlibat sudah disepakati dengan guru lain bila perlu.
  • Cara mengumpulkan bukti sudah ditentukan.
  • Orang tua sudah diberi tahu peran kecilnya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kokurikuler SD wajib berupa projek?

Tidak. Permendikdasmen 13/2025 memberi pilihan: pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain. Sekolah memilih sesuai kondisinya.

Apakah modul projek P5 lama masih bisa dipakai?

Bisa sebagai bahan, setelah disesuaikan dengan 8 dimensi profil lulusan dan diringkas agar sesuai durasi dan kemampuan murid.

Bagaimana kokurikuler SD dilaporkan di rapor?

Umumnya berupa deskripsi perkembangan dimensi, bukan angka. Ikuti ketentuan rapor yang berlaku di sekolah dan panduan terbaru dari kementerian.

Apakah kelas rangkap bisa menjalankan kokurikuler?

Bisa. Gabungkan dua kelas dalam satu kegiatan dengan peran berbeda sesuai fase, misalnya kelas 3 menghitung dan kelas 4 membuat poster.

Berapa banyak kegiatan kokurikuler dalam satu tahun?

Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua. Dua sampai tiga kegiatan pendek per tahun sering lebih realistis untuk SD daripada banyak kegiatan yang tergesa-gesa.

ASIS: Kokurikuler yang Tercatat, Bukan Sekadar Terlaksana

Masalah terbesar kokurikuler di SD bukan ide kegiatan, melainkan jejaknya. Foto ada di HP guru, catatan di buku pribadi, dan saat rapor tiba, guru harus mengingat ulang perkembangan tiap anak.

ASIS membantu guru menyimpan jejak itu di satu tempat. Perangkat ajar Kurikulum Merdeka bisa disusun dan dibagikan antarguru, catatan perkembangan masuk ke profil murid yang utuh, dan portofolio menyimpan foto serta hasil karya. Ketika rapor disusun, deskripsi bisa ditulis dari catatan yang sudah ada, bukan dari ingatan. Orang tua pun bisa menerima kabar kegiatan lewat pengumuman di aplikasi.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS, tersedia untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.