Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Cara menyusun kokurikuler lintas mata pelajaran sesuai Permendikdasmen 13/2025: pilih tema, petakan tujuan tiap mapel, bagi peran guru, dan asesmen.
Kokurikuler lintas mata pelajaran adalah kegiatan bertema yang menggabungkan tujuan pembelajaran dari dua atau lebih mata pelajaran untuk menjawab satu masalah nyata. Cara menyusunnya: pilih tema yang dekat dengan kehidupan murid, petakan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran yang relevan, susun alur kegiatan dengan satu produk akhir, bagi peran guru, lalu rancang asesmen bersama. Bentuk ini sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang menyebut kokurikuler dapat dilaksanakan melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu.
Panduan ini membahas langkah perancangan, contoh terisi untuk tiga jenjang, dan cara menghindari kegiatan yang sekadar ramai tanpa makna.
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum. Pasal 18 menyebut kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya. Muatannya dituangkan dalam tema yang dikembangkan sekolah sesuai konteks sosial budaya dan karakteristik murid.
Aturan ini juga merumuskan delapan dimensi yang menjadi arah pengembangan murid: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Kegiatan kokurikuler yang baik menyasar beberapa dimensi ini secara sadar, bukan kebetulan.
Bagi guru, artinya sekolah punya keleluasaan lebih besar. Tidak ada daftar tema wajib. Yang dinilai adalah kebermaknaan kegiatan bagi murid. Di sinilah kokurikuler lintas mata pelajaran menjadi pilihan menarik, karena murid melihat bahwa ilmu dari berbagai pelajaran saling terhubung saat dipakai memecahkan masalah sungguhan.
Kesalahan paling umum adalah memulai dengan pertanyaan "mata pelajaran apa saja yang bisa digabung?" Hasilnya sering terasa dipaksakan. Mulailah dari masalah yang dekat dengan murid.
Contoh sumber tema:
Uji tema dengan tiga pertanyaan: apakah murid peduli, apakah bisa diamati langsung, dan apakah murid bisa berbuat sesuatu?
Setelah tema terpilih, setiap guru membuka ATP mata pelajarannya dan mencari tujuan pembelajaran yang benar-benar relevan. Satu mata pelajaran cukup menyumbang satu atau dua tujuan.
Contoh pemetaan untuk tema "Sampah plastik di kantin" di SMP kelas 8:
| Mata pelajaran | Kontribusi tujuan | Kegiatan |
|---|---|---|
| IPA | Menjelaskan dampak pencemaran terhadap ekosistem | Mengamati dan mencatat jenis sampah |
| Matematika | Mengolah dan menyajikan data statistik | Menghitung volume sampah harian, membuat diagram |
| Bahasa Indonesia | Menulis teks persuasif | Menulis surat usulan kepada pengelola kantin |
| IPS | Menganalisis peran pelaku ekonomi | Wawancara pedagang kantin tentang biaya kemasan |
| Seni Budaya | Membuat karya dari bahan daur ulang | Merancang poster atau karya kampanye |
Bila satu mata pelajaran tidak punya tujuan yang cocok, jangan dipaksakan masuk. Tiga mata pelajaran yang benar-benar terhubung lebih baik daripada enam yang ditempelkan.
Alur yang jelas membuat murid tahu ke mana kegiatan bergerak. Pola umum:
Produk akhir sebaiknya satu dan konkret, misalnya rekomendasi tertulis kepada Kepala Sekolah, pameran, atau kampanye. Produk ini menjadi benang merah yang menyatukan kontribusi setiap mata pelajaran.
Kegiatan kokurikuler lintas mata pelajaran butuh koordinasi. Tetapkan satu koordinator, biasanya wali kelas atau guru yang mengusulkan tema.
| Peran | Tugas |
|---|---|
| Koordinator | Menyusun jadwal, memantau kemajuan, mengumpulkan asesmen |
| Guru mata pelajaran | Mengajarkan bagian yang relevan, menilai sesuai tujuannya |
| Wali kelas | Memantau kerja kelompok dan dinamika murid |
| Kepala Sekolah | Menyetujui rencana, memfasilitasi sumber daya |
Soal waktu, sekolah bisa memilih model blok (beberapa hari penuh), model mingguan (beberapa jam setiap minggu), atau model terintegrasi (dijalankan di dalam jam mata pelajaran masing-masing). Pilih sesuai jadwal dan alokasi waktu kokurikuler yang ditetapkan sekolah.
Asesmen kegiatan lintas mata pelajaran punya dua lapis.
Lapis mata pelajaran. Setiap guru menilai tujuan pembelajaran yang ia sumbangkan. Guru matematika menilai ketepatan diagram, guru Bahasa Indonesia menilai surat persuasif.
Lapis kokurikuler. Tim menilai perkembangan dimensi yang disasar, misalnya kolaborasi dan penalaran kritis, dengan rubrik sederhana.
Contoh rubrik kolaborasi:
| Kriteria | Mulai berkembang | Berkembang | Cakap |
|---|---|---|---|
| Berbagi tugas | Menunggu diberi tugas | Mengambil tugas bila diminta | Menawarkan diri dan membantu teman |
| Mendengarkan | Sering memotong | Mendengarkan sebagian | Menanggapi ide teman dengan tepat |
| Menyelesaikan bagian | Sering terlambat | Selesai dengan pengingat | Selesai tepat waktu dan rapi |
SD kelas 4: "Sarapan sehat di kelasku." IPAS (zat gizi), Matematika (pecahan dalam porsi makanan), Bahasa Indonesia (menulis prosedur resep sederhana), PJOK (hubungan sarapan dan energi bermain). Produk: buku resep sarapan kelas.
SMA kelas 11: "Promosi digital UMKM sekitar sekolah." Ekonomi (strategi pemasaran), Bahasa Inggris (deskripsi produk), Informatika (desain konten), Sosiologi (wawancara pelaku usaha). Produk: materi promosi yang diserahkan kepada pelaku usaha.
Tema terlalu luas. "Lingkungan hidup" sulit ditindaklanjuti. "Sampah plastik di kantin kami" jauh lebih konkret.
Setiap guru berjalan sendiri. Tanpa rapat koordinasi singkat, murid merasa mengerjakan lima tugas terpisah.
Produk akhir terlalu mahal. Kegiatan yang membebani orang tua dengan biaya bahan bertentangan dengan semangat kokurikuler.
Asesmen hanya pada produk. Proses kerja murid sama pentingnya dengan hasil akhir.
Tidak ada refleksi. Tanpa refleksi, murid ingat keramaiannya tetapi lupa pelajarannya.
Tidak persis. Permendikdasmen 13/2025 menghapus kaitan kokurikuler dengan istilah Profil Pelajar Pancasila dan menyebut bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu sebagai salah satu pilihan.
Tidak ada ketentuan angka. Dua atau tiga mata pelajaran yang benar-benar terhubung sudah cukup.
Rujuk pedoman asesmen dan rapor terbaru dari kementerian serta kebijakan sekolah. Nilai tujuan mata pelajaran tetap tercatat pada mata pelajaran masing-masing.
Boleh bila masalahnya masih relevan, tetapi perbarui pertanyaan dan aksinya agar murid tidak sekadar mengulang kegiatan kakak kelasnya.
Gunakan model terintegrasi, yaitu setiap guru menjalankan bagiannya di jam mata pelajaran sendiri, dengan koordinator yang menjaga alur dan produk akhir.
Kegiatan lintas mata pelajaran sering macet karena koordinasi. Rencana kegiatan ada di satu berkas, jadwal di berkas lain, catatan perkembangan murid tersebar di buku setiap guru, dan bahan ajar dicari ulang setiap kali dibutuhkan.
ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Modul perangkat ajar Kurikulum Merdeka membantu guru menyimpan perencanaan dalam satu tempat yang bisa diakses tim sesuai perannya. Profil murid yang utuh menyimpan catatan perkembangan, sehingga pengamatan guru selama kegiatan tidak hilang. Untuk bahan penyelidikan, murid dan guru dapat memakai buku pelajaran pemerintah di Pustaka serta 57 lab interaktif di Studio.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.