Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Cara menumbuhkan kebiasaan membaca anak di rumah: rutinitas 15 menit, pojok baca murah, memilih buku per usia, mengatur layar, dan kerja sama dengan guru.
Kebiasaan membaca anak di rumah tidak tumbuh dari perintah "ayo baca buku", tetapi dari rutinitas kecil yang diulang setiap hari dan dicontohkan langsung oleh orang tua. Sekolah bisa mengajarkan cara membaca, tetapi rumahlah yang menentukan apakah anak tumbuh menjadi orang yang suka membaca. Kabar baiknya, menumbuhkan kebiasaan ini tidak memerlukan biaya besar atau waktu berjam-jam.
Artikel ini ditujukan untuk orang tua dan wali murid: mengapa rutinitas lebih penting daripada jumlah buku, cara membuat jadwal 15 menit, pojok baca murah, memilih buku sesuai usia, mengatur layar, dan cara bekerja sama dengan guru. Guru yang ingin memakai artikel ini sebagai bahan pertemuan orang tua juga bisa menyalinnya. Untuk sisi sekolah, lihat "Cara Meningkatkan Minat Baca Murid yang Malas Membaca".
Keluarga dengan rak buku penuh tidak otomatis punya anak yang gemar membaca. Sebaliknya, keluarga dengan sepuluh buku saja bisa menumbuhkan kebiasaan yang kuat jika ada waktu tetap untuk membaca bersama. Yang dibutuhkan anak adalah:
Pilih waktu yang realistis untuk keluarga: setelah magrib, sebelum tidur, atau setelah makan malam. Lebih baik 15 menit setiap hari daripada satu jam di akhir pekan saja.
Selama 15 menit itu, televisi dimatikan dan ponsel orang tua diletakkan jauh. Anak akan menangkap pesan bahwa membaca adalah waktu yang penting.
Untuk anak usia dini, orang tua membacakan. Untuk anak SD kelas rendah, bergantian satu halaman. Untuk anak yang lebih besar, membaca buku masing-masing berdampingan.
Tanyakan hal ringan: "Bagian mana yang paling lucu?" atau "Kalau kamu jadi tokohnya, apa yang kamu lakukan?" Hindari pertanyaan yang terasa seperti ulangan.
Tempel kalender sederhana di dinding. Setiap hari membaca, anak memberi tanda. Setelah sebulan, rayakan dengan hal sederhana, misalnya memilih buku baru di perpustakaan daerah.
Pojok baca tidak harus ruangan khusus. Cukup:
Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau anak, bukan di lemari tinggi yang terkunci. Buku yang terlihat lebih sering dibaca.
| Usia | Jenis buku | Cara membaca |
|---|---|---|
| 2–4 tahun | Buku bergambar besar, buku kain atau karton tebal | Dibacakan, tunjuk gambar, tirukan suara |
| 4–6 tahun | Cerita bergambar pendek, buku berima | Dibacakan, anak menebak kelanjutan cerita |
| 6–8 tahun | Buku berjenjang, cerita dengan kalimat pendek | Bergantian membaca |
| 8–10 tahun | Cerita bergambar lebih panjang, komik edukatif, buku pengetahuan | Anak membaca sendiri, orang tua bertanya |
| 10–12 tahun | Novel anak, buku hobi, ensiklopedia sederhana | Membaca berdampingan, diskusi tokoh |
| Remaja | Novel remaja, biografi, buku sesuai minat | Beri kebebasan memilih, sesekali bertukar rekomendasi |
Biarkan anak memilih buku yang ia suka, termasuk komik atau buku tentang hal yang menurut orang tua "kurang serius". Minat adalah pintu masuk.
Layar bukan musuh, tetapi perlu batas. Rekomendasi WHO tahun 2019 menyebutkan layar tidak dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun dan maksimal satu jam per hari untuk usia 2–4 tahun. Untuk anak yang lebih besar, sepakati aturan bersama, misalnya:
Keluarga Pak Budi di Malang punya dua anak, kelas 1 dan kelas 4 SD. Setiap malam setelah isya, televisi dimatikan selama 20 menit. Si sulung membaca komik pengetahuan pinjaman perpustakaan sekolah, sementara Bu Budi membacakan cerita bergambar untuk si bungsu. Pak Budi membaca koran atau buku di kursi sebelah. Sebelum tidur, masing-masing menceritakan satu hal dari bacaannya. Setelah dua bulan, kedua anak mulai meminta waktu membaca sendiri tanpa diingatkan. Tidak ada hadiah besar, hanya konsistensi dan contoh. Itulah inti kebiasaan membaca anak di rumah.
Sedini mungkin, bahkan sejak bayi dengan membacakan buku bergambar. Namun tidak ada kata terlambat; anak SD dan remaja tetap bisa dibiasakan.
Lima belas menit sebelum tidur sudah cukup. Anggota keluarga lain seperti kakak atau nenek juga bisa bergantian membacakan.
Keduanya bisa dipakai. Untuk anak kecil, buku cetak lebih disarankan karena minim gangguan. Buku digital berguna untuk akses buku yang lebih banyak.
Tidak apa-apa. Komik melatih membaca dan memahami cerita. Perlahan, tawarkan buku bergambar dengan cerita lebih panjang di tema yang sama.
Tidak ada jumlah minimal. Buku pinjaman yang diganti berkala sama baiknya dengan membeli banyak buku.
Banyak orang tua ingin mendampingi anak membaca, tetapi terkendala dua hal: akses buku yang terbatas dan informasi yang minim tentang apa yang sedang dibaca anak di sekolah.
Ekosistem ASIS membantu keduanya. Pustaka di pustaka.asis.id berisi buku pelajaran pemerintah BSE/SIBI yang bisa dibaca dari ponsel di rumah. Sekolah yang memakai ASIS bisa mencatat peminjaman perpustakaan dan program literasi, lalu mengabari orang tua lewat notifikasi aplikasi yang gratis tanpa batas. Orang tua juga bisa memantau jadwal, tugas, dan nilai anak dari satu akun.
ASIS gratis untuk semua sekolah, tanpa iklan, dan data tidak dijual. Pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ bisa memakai Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS. Mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.