WAWASAN ASIS

Etika Penggunaan AI Murid: Batasan dan Contoh Aturan Kelas

Etika penggunaan AI murid di sekolah: prinsip dasar, batasan per jenjang, contoh aturan kelas yang siap ditempel, dan cara guru merancang tugas.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Etika penggunaan AI murid pada dasarnya bisa diringkas dalam tiga prinsip: jujur menyebutkan bila memakai AI, aman menjaga data diri, dan tetap berpikir sendiri sehingga AI menjadi alat bantu, bukan pengganti belajar. Melarang total biasanya tidak efektif, karena murid tetap memakainya di rumah. Membiarkan tanpa aturan juga berbahaya, karena tugas kehilangan makna. Jalan tengahnya adalah aturan kelas yang jelas, disesuaikan dengan usia, dan didukung desain tugas yang tidak mudah diserahkan begitu saja kepada mesin.

Mengapa sekolah perlu aturan sekarang

Alat AI generatif kini ada di ponsel hampir semua remaja. Murid bisa meminta mesin menulis esai, menjawab soal matematika, atau merangkum buku dalam hitungan detik. Pertanyaannya bukan lagi apakah murid akan memakai AI, melainkan bagaimana mereka memakainya.

Lembaga internasional juga sudah memberi perhatian. UNESCO pada 2023 menerbitkan panduan AI generatif untuk pendidikan dan riset, yang antara lain mendorong pemerintah mengatur penggunaannya di sekolah dan mengusulkan batas usia minimal 13 tahun untuk penggunaan alat AI di kelas. Di Indonesia, sekolah sebaiknya mengikuti kebijakan pemerintah dan dinas yang berlaku, lalu menurunkannya menjadi aturan kelas yang mudah dipahami.

Tiga prinsip etika penggunaan AI murid

1. Jujur

Murid wajib menyebutkan bila memakai AI dan untuk apa. Menyerahkan hasil AI sebagai karya sendiri sama dengan menyontek. Kejujuran ini juga melatih kebiasaan akademik yang akan dibutuhkan di jenjang lebih tinggi.

2. Aman

Murid tidak memasukkan data pribadi ke alat AI: nama lengkap, alamat, foto wajah, nomor telepon, atau data teman. Murid juga perlu tahu bahwa jawaban AI bisa salah, bias, atau mengarang sumber.

3. Tetap berpikir

AI dipakai untuk membantu proses, bukan menggantikan proses. Murid tetap harus bisa menjelaskan isi tugasnya dengan kata-kata sendiri. Bila tidak bisa, berarti AI sudah mengambil alih pekerjaan belajarnya.

Lampu lalu lintas: batasan yang mudah dipahami

Cara paling sederhana menyampaikan batasan adalah sistem tiga warna. Guru menandai setiap tugas dengan warna tertentu.

Warna Arti Contoh penggunaan
Hijau AI boleh dipakai bebas, cukup disebutkan Mencari ide topik, memeriksa ejaan, latihan percakapan bahasa asing
Kuning AI boleh dipakai untuk bagian tertentu dengan izin guru Meringkas bacaan awal, membuat kerangka, lalu dikembangkan sendiri
Merah AI tidak boleh dipakai Ulangan, refleksi pribadi, tulisan pengalaman diri, tugas yang menilai proses berpikir

Dengan tanda warna, murid tidak perlu menebak. Guru juga tidak perlu berdebat setiap kali ada tugas baru.

Batasan per jenjang

SD/MI. Murid sebaiknya tidak memakai alat AI generatif secara mandiri. Pengenalan dilakukan guru di depan kelas, misalnya menunjukkan bahwa AI bisa salah menjawab. Fokuskan pada literasi digital dasar: tidak semua informasi di internet benar.

SMP/MTs. Pemakaian di bawah arahan guru untuk tugas berwarna hijau dan kuning. Murid belajar menulis catatan penggunaan AI dan memeriksa kebenaran jawaban.

SMA/MA/SMK. Murid lebih mandiri, tetapi tetap wajib transparan. Ajarkan cara mengutip, memverifikasi sumber, dan menilai bias jawaban. Di SMK, bahas juga etika memakai AI di dunia kerja sesuai bidang keahlian.

Untuk semua jenjang, perhatikan ketentuan usia minimal pada layanan AI yang dipakai, serta izin orang tua.

Contoh aturan kelas yang siap ditempel

Berikut contoh yang bisa disesuaikan dan disepakati bersama murid di awal semester:

  1. Saya menyebutkan setiap kali memakai AI, termasuk alat dan bagian tugas yang dibantu.
  2. Saya tidak memakai AI pada tugas bertanda merah.
  3. Saya tidak memasukkan data pribadi saya atau teman ke alat AI.
  4. Saya memeriksa ulang jawaban AI dengan buku atau sumber terpercaya.
  5. Saya bisa menjelaskan isi tugas saya dengan kata-kata sendiri.
  6. Saya tidak memakai AI untuk membuat konten yang mengejek, menipu, atau merugikan orang lain.
  7. Bila ragu, saya bertanya kepada guru sebelum memakai AI.

Contoh kalimat catatan penggunaan AI yang bisa diminta di akhir tugas: "Saya memakai alat AI untuk mencari tiga ide judul. Judul yang saya pilih dan seluruh isi tulisan saya kerjakan sendiri."

Merancang tugas yang tetap bermakna

Aturan saja tidak cukup. Desain tugas ikut menentukan apakah murid tergoda menyerahkan semuanya ke mesin.

  • Nilai proses, bukan hanya hasil. Minta draf, catatan, atau foto coretan kerja.
  • Kaitkan dengan konteks lokal. Tugas tentang pasar dekat sekolah atau wawancara tetangga sulit dikerjakan AI.
  • Tambahkan presentasi singkat. Murid menjelaskan tugasnya secara lisan dua sampai tiga menit.
  • Kerjakan sebagian di kelas. Bagian inti tugas dikerjakan di bawah pengawasan guru.
  • Ajak murid mengkritik jawaban AI. Berikan jawaban AI yang keliru, lalu minta murid menemukan kesalahannya.

Bila terjadi pelanggaran

Tanggapi dengan pendekatan mendidik. Ajak murid berbicara, minta ia menjelaskan isi tugas, lalu beri kesempatan mengerjakan ulang. Catat kejadian bila berulang dan libatkan wali kelas atau BK. Hindari mempermalukan murid di depan kelas, karena tujuan aturan adalah membangun kebiasaan jujur, bukan menghukum.

Perlu diingat juga: alat pendeteksi tulisan AI tidak selalu akurat. Jangan menjadikan hasil deteksi sebagai satu-satunya bukti.

Guru juga perlu teladan

Etika penggunaan AI murid akan lebih mudah ditegakkan bila guru memberi contoh. Guru yang memakai AI untuk menyiapkan bahan ajar sebaiknya meninjau hasilnya dengan teliti dan terbuka kepada murid. Penilaian terhadap anak tetap menjadi tanggung jawab guru, bukan mesin.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah sekolah sebaiknya melarang AI sepenuhnya?

Larangan total sulit ditegakkan karena murid tetap bisa memakainya di luar sekolah. Lebih efektif membuat aturan yang jelas dan mengajarkan cara memakai AI secara bertanggung jawab.

Mulai usia berapa murid boleh memakai AI?

Ikuti kebijakan pemerintah, sekolah, dan ketentuan usia pada layanan yang dipakai. UNESCO mengusulkan batas usia minimal 13 tahun untuk penggunaan alat AI di kelas.

Bagaimana membuktikan murid memakai AI tanpa izin?

Minta murid menjelaskan tugasnya secara lisan dan tunjukkan proses kerjanya. Alat deteksi AI tidak bisa dijadikan satu-satunya bukti.

Apakah memakai AI untuk memeriksa ejaan termasuk curang?

Umumnya tidak, bila tugas ditandai hijau dan murid tetap menyebutkannya. Aturan ini sebaiknya disepakati di awal.

Bagaimana melibatkan orang tua?

Bagikan aturan kelas kepada orang tua dan minta mereka mendampingi pemakaian AI di rumah, terutama untuk anak usia SD dan SMP.

ASIS: AI Membantu Guru, Penilaian Tetap di Tangan Guru

Kebingungan soal etika penggunaan AI murid sering berakar pada aturan yang tidak tertulis dan tidak sampai ke rumah. Murid menerima pesan berbeda dari tiap guru, sementara orang tua tidak tahu apa yang boleh dan tidak.

ASIS memakai AI dengan prinsip yang sama yang kita ajarkan kepada murid: AI membantu, manusia memutuskan. Bank soal ASIS menyediakan bantuan AI untuk menyusun butir soal, tetapi setiap soal WAJIB ditinjau guru sebelum dipakai. Aturan kelas tentang AI bisa diumumkan kepada wali murid lewat kotak masuk dan notifikasi aplikasi, sehingga sekolah dan rumah berpegang pada kesepakatan yang sama. Untuk bahan belajar yang terpercaya, murid dapat membaca buku pelajaran pemerintah di Pustaka ASIS dan berlatih lewat lab interaktif di Studio ASIS.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: UN News, UNESCO calls for regulations on AI use in schools

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.