Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Disiplin positif di sekolah: pengertian, bedanya dengan hukuman, langkah menerapkannya di kelas, contoh kasus, dan alternatif konsekuensi yang mendidik.
Disiplin positif adalah pendekatan mendisiplinkan murid yang menegakkan aturan dengan tegas tanpa mempermalukan, menakuti, atau menyakiti. Fokusnya bukan membuat murid jera, melainkan membuat murid paham dampak perilakunya, memperbaiki kesalahan, dan belajar mengelola diri. Di sekolah Indonesia, pendekatan ini sejalan dengan semangat pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan yang kini diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (menggantikan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023).
Artikel ini menjelaskan bedanya dengan hukuman, prinsip-prinsip intinya, langkah menerapkannya di kelas, contoh kasus, serta kesalahan yang membuat disiplin positif disalahpahami sebagai "membiarkan".
| Aspek | Hukuman | Pendekatan yang mendidik |
|---|---|---|
| Tujuan | Membuat jera | Membuat paham dan bertanggung jawab |
| Fokus | Kesalahan di masa lalu | Perbaikan dan perilaku ke depan |
| Alat | Rasa takut, malu, sakit | Kesepakatan, konsekuensi logis, dialog |
| Hasil jangka pendek | Perilaku berhenti saat diawasi | Perilaku berubah perlahan |
| Hasil jangka panjang | Murid pandai menghindari ketahuan | Murid belajar mengelola diri |
| Hubungan guru-murid | Berjarak, penuh rasa takut | Saling percaya, tetap tegas |
Disiplin positif tidak sama dengan membiarkan. Aturan tetap ada, konsekuensi tetap berlaku. Yang berbeda adalah cara menegakkannya.
Guru jelas tentang batas, tetapi tetap menghormati martabat murid. Kalimat seperti "Ibu tidak mengizinkan kamu mendorong teman, dan Ibu yakin kamu bisa menyampaikan kesalnya dengan cara lain" menggabungkan keduanya.
Murid yang ikut menyusun aturan kelas lebih merasa memiliki aturan itu. Kesepakatan sebaiknya singkat, positif, dan bisa diamati, misalnya "Kami mengangkat tangan sebelum berbicara".
Konsekuensi harus berhubungan dengan perilakunya. Mencoret meja, konsekuensinya membersihkan meja. Bukan berlari keliling lapangan, karena tidak ada hubungannya. Konsekuensi juga harus wajar dan disampaikan dengan hormat, tanpa disertai sindiran.
Yang dikritik adalah perbuatan, bukan anaknya. "Tugasmu belum selesai" berbeda jauh dengan "Kamu memang pemalas".
Pendekatan restitusi mengajak murid memikirkan cara memperbaiki dampak kesalahannya, misalnya meminta maaf dengan tulus dan membantu teman yang dirugikan.
| Perilaku | Konsekuensi logis |
|---|---|
| Membuat kelas berantakan | Merapikan kembali area tersebut |
| Terlambat masuk kelas | Mengejar materi yang tertinggal di waktu istirahat |
| Merusak barang teman | Memperbaiki atau mengganti sesuai kesepakatan dengan orang tua |
| Mengganggu kerja kelompok | Bekerja sendiri sementara, lalu kembali setelah siap |
| Berkata kasar | Refleksi tertulis dan meminta maaf langsung |
| Memakai ponsel saat pelajaran | Ponsel disimpan di tempat yang disepakati sampai jam pulang |
Guru tidak bisa menerapkannya sendirian. Sekolah perlu menyiapkan sistem pendukung agar guru tidak merasa sendirian menghadapi murid yang sulit:
Ketika semua guru, tendik, dan petugas keamanan memakai bahasa yang sama, murid belajar bahwa aturan berlaku konsisten di mana pun mereka berada.
Efektif, tetapi butuh waktu dan kerja sama dengan guru BK serta orang tua. Untuk kasus berat, tetap ikuti tata tertib dan prosedur penanganan sekolah.
Tidak. Kekerasan fisik maupun psikis termasuk bentuk kekerasan yang harus dicegah di satuan pendidikan.
Jelaskan bahwa ketegasan tetap ada, tetapi tanpa menyakiti. Tunjukkan konsekuensi yang dijalankan dan perkembangan anak.
Perubahan kecil bisa terlihat dalam beberapa minggu jika konsisten. Perubahan budaya kelas biasanya butuh satu semester.
Sangat cocok, dengan bahasa yang lebih sederhana, rutinitas yang jelas, dan banyak contoh langsung dari guru.
Disiplin positif sering gagal bukan karena guru tidak setuju, tetapi karena catatan perilaku tercecer. Wali kelas tidak tahu murid sudah tiga kali ditegur guru mapel lain, guru BK baru tahu setelah masalah membesar, dan orang tua menerima kabar ketika sudah terlambat. Tanpa catatan yang tersambung, konsistensi sulit dijaga.
ASIS memegang prinsip "data dicatat sekali, dipakai berkali-kali". Catatan perkembangan di profil murid yang utuh bisa dilihat oleh wali kelas dan guru yang berwenang, lalu layanan BK membantu mencatat pendampingan dan tindak lanjut. Setiap peran hanya melihat data yang ia perlukan, sehingga catatan sensitif tetap terjaga. Kabar ke orang tua dikirim lewat notifikasi aplikasi atau kotak masuk aplikasi, sehingga orang tua bisa diajak bekerja sama sejak awal.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai bangun budaya pembinaan yang tercatat rapi di asis.id.
Sumber: Suara Surabaya, Kemendikbudristek terbitkan Permendikbudristek PPKSP; Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.