Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Cara membuat LKPD yang menarik dan mendorong murid berpikir kritis: struktur, jenis pertanyaan, contoh sebelum-sesudah, dan daftar cek sebelum dicetak.
Cara membuat LKPD yang mendorong berpikir kritis adalah memulai dari satu tujuan pembelajaran, menyajikan stimulus yang memancing pertanyaan (data, gambar, kasus, atau benda nyata), lalu menyusun tugas bertahap dari mengamati sampai menyimpulkan dengan bukti. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang baik bukan ringkasan materi dengan titik-titik untuk diisi. Ia adalah panduan kerja yang membuat murid melakukan sesuatu, menemukan pola, dan mempertanggungjawabkan jawabannya. Berikut langkah, contoh perbaikan, dan daftar cek sebelum dicetak.
Coba buka LKPD lama di lemari. Banyak yang isinya seperti ini:
LKPD seperti itu melatih menyalin, bukan berpikir. Murid sibuk, tetapi tidak belajar banyak.
| Bagian | Isi | Tujuan |
|---|---|---|
| Identitas dan tujuan | Nama, kelas, satu kalimat tujuan dalam bahasa murid | Murid tahu apa yang akan dicapai |
| Stimulus | Data, gambar, kasus, artikel pendek, atau benda | Memancing rasa ingin tahu |
| Tugas bertahap | 3–5 tugas dari mengamati hingga menyimpulkan | Membangun pemahaman selangkah demi selangkah |
| Ruang argumen | Kolom "Jawabanku" dan "Buktiku" | Melatih menyertakan alasan |
| Refleksi | 1–2 pertanyaan singkat | Murid memantau pemahamannya sendiri |
Satu LKPD untuk satu tujuan pembelajaran. Tulis ulang tujuan dalam bahasa yang dipahami murid, misalnya "Hari ini aku akan bisa menjelaskan mengapa es mencair lebih cepat di tempat tertentu." Tujuan yang terlalu banyak membuat LKPD panjang dan dangkal.
Stimulus yang baik membuat murid bertanya "mengapa?" atau "bagaimana bisa?". Contoh:
Stimulus yang dekat dengan kehidupan murid di daerahnya biasanya lebih memancing daripada contoh dari buku yang jauh dari pengalaman mereka.
Urutan yang bisa dipakai:
Urutan ini memberi jalan bagi murid yang belum siap, sekaligus tantangan bagi yang sudah paham.
Kata perintah menentukan level berpikir. Ganti perintah yang hanya meminta mengingat dengan perintah yang meminta mengolah.
| Sebelum | Sesudah |
|---|---|
| Sebutkan ciri-ciri hewan mamalia. | Dari lima hewan di gambar, mana yang mamalia? Tunjukkan ciri yang membuatmu yakin. |
| Jelaskan pengertian pecahan senilai. | Rina bilang 2/4 lebih besar dari 1/2 karena angkanya lebih besar. Setujukah kamu? Buktikan dengan gambar. |
| Tuliskan isi Sumpah Pemuda. | Mengapa pemuda tahun 1928 memilih bahasa persatuan, padahal mereka berbicara bahasa daerah yang berbeda? |
Contoh-contoh ini meminta murid mengklasifikasi, menilai pernyataan, dan menalar sebab, bukan menyalin.
Tambahkan kolom "Buktiku" di samping kolom jawaban. Kebiasaan menulis bukti adalah inti berpikir kritis. Murid belajar bahwa jawaban tanpa alasan belum cukup.
Siapkan kotak petunjuk yang boleh dibuka bila murid buntu, misalnya "Petunjuk 1: Perhatikan kolom suhu pukul 12.00." Bantuan bertingkat menjaga murid tetap berusaha sebelum mendapat jawaban.
Dua pertanyaan sudah cukup: "Bagian mana yang paling membingungkan?" dan "Apa yang ingin kamu ketahui lebih lanjut?" Jawabannya menjadi bahan guru untuk pertemuan berikutnya.
Berikut gambaran singkat hasil dari cara membuat LKPD di atas, untuk topik penguapan.
Tujuan: Aku bisa menjelaskan faktor yang membuat pakaian basah lebih cepat kering.
Stimulus: Tabel pengamatan fiktif tiga kaus yang dijemur pada hari yang sama: di bawah sinar matahari, di teras yang teduh, dan di dalam kamar. Dicatat waktu sampai kaus kering.
Tugas:
Refleksi: Di rumahmu, di mana tempat terbaik menjemur pakaian saat musim hujan? Mengapa?
Perhatikan tugas nomor 4. Murid tidak diminta menjawab benar atau salah, tetapi merancang cara membuktikan. Inilah yang membedakan LKPD berpikir kritis dari lembar isian biasa.
Tampilan yang menarik bukan berarti penuh hiasan. Prinsip yang perlu dijaga:
Untuk kelas yang belum tentu punya akses printer berwarna, rancang LKPD yang tetap terbaca bila dicetak hitam putih.
SD kelas 1–3. Lebih banyak gambar, kalimat pendek, dan tugas menempel, mencocokkan, atau menggambar. Guru membacakan instruksi.
SD kelas 4–6. Mulai kenalkan tabel data sederhana dan kolom bukti. Tugas kelompok berdua efektif.
SMP. Stimulus berupa artikel pendek, grafik, atau eksperimen sederhana. Mulai minta murid menilai klaim.
SMA dan SMK. Kasus nyata yang terbuka, data yang tidak rapi, dan pertanyaan yang jawabannya bisa lebih dari satu asalkan didukung bukti. Di SMK, LKPD dapat berupa lembar kerja praktik dengan langkah keselamatan kerja.
LKPD juga bisa mengikuti sintaks model pembelajaran tertentu. Contoh LKPD yang disusun mengikuti tahap model berbasis masalah ada di artikel contoh LKPD PBL.
| Pertanyaan | Ya/Tidak |
|---|---|
| Ada satu tujuan yang jelas dalam bahasa murid? | |
| Stimulus memancing pertanyaan, bukan sekadar informasi? | |
| Jawaban tidak bisa disalin langsung dari teks di LKPD? | |
| Ada minimal satu tugas yang meminta bukti atau alasan? | |
| Urutan tugas dari mudah ke menantang? | |
| Ada refleksi di akhir? | |
| Bisa diselesaikan dalam waktu yang tersedia? |
Bila semua jawaban "Ya", LKPD siap diuji coba. Setelah dipakai, catat tugas mana yang paling banyak membuat murid bingung, lalu perbaiki untuk tahun berikutnya.
Lembar soal menguji apa yang sudah dipelajari. LKPD memandu murid melakukan kegiatan untuk menemukan atau membangun pemahaman.
Umumnya 20–40 menit, sesuai alokasi kegiatan inti. LKPD yang butuh lebih lama sebaiknya dipecah menjadi dua.
Tidak harus. Kombinasi kerja individu lalu diskusi kelompok sering paling efektif, karena setiap murid berpikir dulu sebelum berbagi.
Sederhanakan bahasa, kurangi jumlah tugas, tambahkan gambar, dan sediakan bantuan bertingkat. Tujuan disesuaikan dengan program pembelajaran individual murid bila ada.
Boleh sebagai bantuan draf. Guru tetap wajib memeriksa ketepatan konsep, kesesuaian dengan murid, dan kualitas pertanyaannya sebelum dipakai.
Banyak guru sudah membuat LKPD yang bagus, tetapi berkasnya tersebar di laptop, flashdisk, dan grup percakapan. Saat tahun berganti, LKPD harus dicari ulang atau dibuat dari awal, dan guru baru tidak bisa memanfaatkan karya rekannya.
ASIS menyediakan fitur perangkat ajar Kurikulum Merdeka yang membantu guru menyusun dan menyimpan bahan ajar di satu tempat. Untuk stimulus, guru bisa merujuk buku pelajaran pemerintah di Pustaka dan memadukan LKPD dengan aktivitas atau lab interaktif dari Studio. Bank soal dengan bantuan AI membantu menyiapkan pertanyaan lanjutan, dengan setiap soal wajib ditinjau guru sebelum dipakai.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.