Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Cara membuat kartu katalog perpustakaan sekolah, kartu anggota, dan buku induk: isi wajib, format yang benar, dan cara mencetak semuanya dari data ASIS.
Saat akreditasi atau pemeriksaan perpustakaan, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: mana buku induknya, apakah ada kartu katalog, dan bagaimana anggota terdaftar? Banyak pustakawan sekolah masih mengetik kartu katalog satu per satu di pengolah kata, padahal datanya sudah ada di daftar koleksi. Artikel ini menjelaskan cara membuat kartu katalog yang benar, sekaligus kartu anggota dan buku induk, lalu cara mencetak ketiganya dari data perpustakaan di ASIS. Bagi sekolah tanpa aplikasi, ada juga cara manualnya.
| Dokumen | Fungsi | Isi pokok |
|---|---|---|
| Kartu katalog | Alat temu kembali, membantu pengguna menemukan buku | Nomor panggil, pengarang, judul, penerbitan, deskripsi fisik, subjek |
| Kartu anggota | Identitas peminjam | Nama, nomor anggota, kelas atau jabatan, masa berlaku |
| Buku induk | Daftar inventaris koleksi berdasarkan urutan masuk | Nomor induk, tanggal masuk, judul, pengarang, penerbit, sumber, harga atau keterangan |
Ketiganya bersumber dari data yang sama: data koleksi dan data anggota. Jika data dasarnya sudah rapi, mencetak ketiganya tinggal soal format.
Kartu katalog konvensional berukuran sekitar 7,5 x 12,5 cm dan disusun di laci katalog. Susunannya umumnya seperti berikut:
Perpustakaan biasanya menyusun tiga jenis kartu untuk satu judul: kartu pengarang, kartu judul, dan kartu subjek. Untuk perpustakaan sekolah yang kecil, cukup mulai dengan kartu judul dan kartu pengarang.
Untuk penjelasan label punggung buku, lihat artikel "Label Nomor Panggil Buku", dan untuk buku induk lebih rinci, lihat "Buku Induk Perpustakaan" di blog ASIS.
Fitur cetak ini dibahas dalam Panduan Perpustakaan Digital ASIS. Dokumen cetak sepenuhnya bergantung pada kelengkapan katalog dan data anggota, sehingga panduan resminya meminta data sumber dibetulkan dulu sebelum mencetak banyak kartu sekaligus.
Periksa data yang akan tercetak:
Jumlah dan identitas pada hasil cetak harus cocok dengan katalog, daftar anggota, dan kondisi stok. Ambil beberapa kartu secara acak dan cocokkan dengan buku di rak.
Bila kartu tercetak kosong atau namanya salah, periksa status anggota dan data sumbernya. Jangan menyunting PDF hasil cetak secara manual, karena kesalahan yang sama akan muncul lagi pada pencetakan berikutnya.
Bagi pustakawan yang bertanya tentang cara membuat kartu katalog tanpa mengetik ulang, inilah intinya: rapikan katalog sekali, lalu cetak kapan pun diperlukan.
Langkah lengkap: Cara Mencetak Kartu Katalog, Kartu Anggota, dan Buku Induk
Cetak kartu katalog setiap ada kiriman buku baru, bukan sekaligus setahun sekali. Kartu anggota dicetak per kelas di awal tahun ajaran.
Sebelum memakai karton atau kertas khusus, cetak satu lembar di kertas biasa untuk memastikan ukuran pas.
Kartu anggota murid SD cepat rusak. Laminasi atau sampul plastik membuatnya awet satu tahun ajaran atau lebih.
Buku induk cetak berguna untuk pemeriksaan dan ditandatangani Kepala Sekolah, sedangkan data digital memudahkan pencarian.
Cara membuat kartu katalog secara manual:
Gabung surat sangat membantu, tetapi data koleksi dan data murid tetap harus diperbarui di dua tempat terpisah.
Agar pekerjaan tidak menumpuk, atur jadwal cetak sepanjang tahun ajaran:
| Waktu | Dokumen | Keterangan |
|---|---|---|
| Awal tahun ajaran | Kartu anggota murid baru | Cetak per kelas setelah data rombel final |
| Setiap kiriman buku | Kartu katalog dan label | Bersamaan dengan katalogisasi |
| Akhir semester | Buku induk periode berjalan | Untuk ditandatangani dan diarsipkan |
| Saat ada pegawai baru | Kartu anggota guru atau pegawai | Bersamaan dengan pembuatan akun |
| Bila kartu hilang | Cetak ulang kartu anggota | Nomor anggota tetap sama |
Jadwal ini membuat cara membuat kartu katalog dan dokumen lain menjadi rutinitas kecil, bukan proyek besar menjelang pemeriksaan. Pustakawan cukup memastikan data di katalog dan daftar anggota selalu mutakhir, karena semua dokumen cetak berasal dari sana.
Katalog digital sudah menjadi alat temu kembali utama. Namun sebagian sekolah tetap mencetak kartu untuk kebutuhan administrasi atau penilaian. Sesuaikan dengan kebutuhan.
Buku induk mencatat koleksi sebagai inventaris berdasarkan urutan masuk. Kartu katalog membantu pengguna menemukan buku berdasarkan pengarang, judul, atau subjek.
Ukuran yang lazim dipakai sekitar 7,5 x 12,5 cm.
Isinya mirip, tetapi kelas diganti jabatan atau mapel. Banyak sekolah memberi warna berbeda agar mudah dikenali.
Cetak ulang dari data yang sama. Nomor anggota tetap, sehingga riwayat peminjaman tidak berubah.
Akar masalah dokumen perpustakaan adalah pengetikan ulang. Data buku diketik di daftar koleksi, lalu diketik lagi di kartu katalog, dan sekali lagi di buku induk. Data anggota disalin dari daftar kelas setiap tahun.
ASIS menyimpan katalog dan anggota sebagai data, lalu mencetaknya sesuai kebutuhan: kartu katalog, kartu anggota, maupun buku induk. Langkah rinci ada di Panduan Perpustakaan Digital ASIS di asis.id.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai rapikan perpustakaan di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.