WAWASAN ASIS

Asesmen Formatif dan Sumatif: Perbedaan dan Contohnya

Perbedaan asesmen formatif dan sumatif dari tujuan, waktu, hingga cara mengolah hasilnya, lengkap dengan contoh per jenjang untuk guru.

Tim Wawasan ASIS 14 Jul 2026 Panduan

Asesmen formatif dan sumatif sama-sama menilai murid, tetapi tujuannya berbeda. Asesmen formatif dilakukan selama proses belajar untuk mengetahui apa yang sudah dan belum dipahami murid, lalu guru menyesuaikan pengajaran. Asesmen sumatif dilakukan di akhir satu lingkup materi atau periode untuk menyimpulkan capaian murid, dan hasilnya biasanya masuk ke rapor. Singkatnya: formatif untuk memperbaiki belajar, sumatif untuk melaporkan hasil belajar.

Di Kurikulum Merdeka, keduanya dipakai bersama. Yang sering keliru adalah porsi dan cara memakai hasilnya. Artikel ini membahas perbedaannya secara rinci, contoh di setiap jenjang, dan kesalahan yang sering terjadi.

Perbedaan utama dalam satu tabel

Aspek Asesmen formatif Asesmen sumatif
Tujuan Memantau dan memperbaiki proses belajar Menyimpulkan capaian pada akhir lingkup materi
Waktu Awal dan selama pembelajaran Akhir lingkup materi, akhir semester, akhir tahun
Pertanyaan kunci "Apa yang perlu saya ubah besok?" "Sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai?"
Bentuk umum Pertanyaan lisan, kuis singkat, tiket keluar, observasi Tes tertulis, proyek akhir, portofolio, praktik
Umpan balik Segera dan spesifik Setelah penilaian, lebih ringkas
Nilai di rapor Umumnya tidak langsung diolah menjadi nilai rapor Menjadi dasar nilai rapor
Risiko bagi murid Rendah, boleh salah Lebih tinggi karena menentukan nilai

Tabel ini juga menunjukkan bahwa satu instrumen bisa menjadi formatif atau sumatif tergantung cara memakainya. Kuis yang hasilnya dipakai untuk mengulang materi adalah formatif. Kuis yang sama, bila dipakai sebagai nilai akhir bab, menjadi sumatif.

Memahami asesmen formatif lebih dalam

Asesmen di awal pembelajaran

Sebelum memulai bab baru, guru perlu tahu titik awal murid. Inilah yang sering disebut asesmen diagnostik atau asesmen awal. Fungsinya formatif: hasilnya dipakai untuk mengelompokkan murid atau memilih cara mengajar, bukan untuk nilai.

Contoh: sebelum materi pecahan di kelas 4 SD, guru meminta murid menggambar "setengah dari sebuah roti". Dari gambar itu, guru tahu siapa yang sudah paham konsep bagian yang sama besar.

Asesmen selama pembelajaran

Ini inti asesmen formatif. Bentuknya ringan dan sering, misalnya:

  • Tiket keluar. Murid menulis satu hal yang dipahami dan satu pertanyaan di kertas kecil sebelum pulang.
  • Kartu jempol. Murid menunjukkan jempol ke atas, datar, atau ke bawah untuk menandai tingkat pemahaman.
  • Papan tulis mini. Semua murid menjawab bersamaan, guru melihat sebaran jawaban sekilas.
  • Observasi dengan daftar cek. Guru mencatat perilaku kunci saat murid berdiskusi atau praktik.
  • Umpan balik teman sebaya. Murid menilai karya teman memakai rubrik sederhana.

Ukuran keberhasilan asesmen formatif bukan nilai, melainkan perubahan yang dilakukan guru dan murid sesudahnya.

Memahami asesmen sumatif lebih dalam

Asesmen sumatif mengukur capaian setelah murid mendapat cukup kesempatan belajar. Agar adil, sumatif harus selaras dengan tujuan pembelajaran yang diajarkan, bukan menguji hal yang tidak pernah dilatih.

Bentuknya tidak harus tes tertulis. Proyek, presentasi, portofolio, dan unjuk kerja juga sah, selama ada kriteria yang jelas. Untuk keterampilan seperti berbicara, praktik laboratorium, atau olahraga, unjuk kerja justru lebih tepat daripada soal pilihan ganda.

Sumatif umumnya terbagi dua: sumatif lingkup materi (di akhir satu bab atau tujuan pembelajaran) dan sumatif akhir semester atau akhir tahun. Pembobotan keduanya ditentukan sekolah sesuai kebijakan yang berlaku.

Contoh asesmen formatif dan sumatif per jenjang

Jenjang dan materi Contoh formatif Contoh sumatif
PAUD: mengenal warna Guru mengamati anak memilah balok berdasarkan warna, mencatat di lembar observasi Tidak ada nilai angka; catatan perkembangan di akhir semester
SD kelas 2: penjumlahan Papan tulis mini, lima soal cepat di akhir jam Tes tertulis sepuluh soal di akhir bab
SMP kelas 8: teks eksposisi Murid menulis satu paragraf, teman memberi umpan balik dengan rubrik Menulis teks eksposisi utuh, dinilai rubrik lengkap
SMA kelas 11: hukum Newton Kuis daring tanpa nilai, dibahas langsung Laporan praktikum dan tes uraian
SMK: perakitan komputer Daftar cek langkah kerja saat praktik Uji praktik merakit dengan batas waktu

Perhatikan bahwa di PAUD, asesmen lebih banyak berupa observasi dan catatan perkembangan. Angka bukan tujuan.

Cara mengolah hasil asesmen formatif dan sumatif

Hasil formatif

Catat ringkas, lalu tindak lanjuti. Misalnya dari 30 murid, 12 masih keliru menyamakan penyebut. Esok hari, guru membuat kelompok kecil khusus untuk 12 murid tersebut, sementara yang lain mengerjakan soal pengayaan.

Catatan formatif tetap berguna untuk deskripsi rapor. Kalimat seperti "Ananda Rani sudah mampu membandingkan pecahan berpenyebut sama, perlu latihan pada pecahan berpenyebut berbeda" lahir dari pengamatan selama proses.

Hasil sumatif

Olah sesuai ketentuan sekolah menjadi nilai akhir. Pastikan setiap nilai bisa ditelusuri ke tujuan pembelajaran tertentu. Bila banyak murid gagal di satu tujuan pembelajaran, itu sinyal untuk mengevaluasi pengajaran, bukan hanya remedial.

Kesalahan umum yang perlu dihindari

Semua kuis dijadikan nilai. Murid jadi takut salah, padahal kesalahan di tahap formatif adalah bahan belajar.

Formatif tanpa tindak lanjut. Guru mengumpulkan tiket keluar, lalu menumpuknya di laci. Tanpa perubahan pengajaran, itu hanya administrasi.

Sumatif tidak selaras tujuan. Mengajar membaca pemahaman, tetapi soal ujian menguji hafalan definisi.

Rubrik dibuat setelah menilai. Kriteria sebaiknya dibagikan ke murid sebelum tugas dimulai.

Remedial berupa tes ulang yang sama. Remedial seharusnya didahului pembelajaran ulang dengan cara berbeda.

Langkah praktis merancang asesmen untuk satu bab

  1. Tulis tujuan pembelajaran bab tersebut.
  2. Tentukan bukti apa yang menunjukkan tujuan tercapai; itu bahan sumatif.
  3. Rancang dua sampai tiga titik cek formatif di tengah bab.
  4. Siapkan rubrik atau kunci jawaban sejak awal.
  5. Jadwalkan waktu tindak lanjut setelah setiap titik cek.
  6. Setelah sumatif, catat tujuan mana yang paling banyak belum tercapai sebagai bahan perbaikan bab berikutnya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah asesmen formatif harus diberi nilai?

Tidak harus. Asesmen formatif mengutamakan umpan balik. Guru boleh mencatat skor sebagai pemantauan, tetapi umumnya tidak diolah langsung menjadi nilai rapor.

Apakah asesmen diagnostik termasuk formatif?

Ya. Asesmen di awal pembelajaran berfungsi formatif karena hasilnya dipakai untuk merencanakan pengajaran.

Berapa kali asesmen sumatif dalam satu semester?

Tidak ada angka baku. Umumnya sumatif dilakukan di akhir setiap lingkup materi dan di akhir semester, mengikuti kebijakan sekolah.

Bolehkah satu tugas menjadi formatif sekaligus sumatif?

Boleh dalam tahapan. Draf pertama dinilai formatif dengan umpan balik, lalu versi akhir dinilai sumatif.

Bagaimana menulis deskripsi rapor dari asesmen formatif dan sumatif?

Gunakan nilai sumatif untuk capaian, lalu tambahkan catatan formatif tentang kekuatan dan hal yang perlu ditingkatkan dengan bahasa yang spesifik dan positif.

ASIS: Dari Catatan Kelas sampai e-Rapor, Tanpa Mengetik Ulang

Masalah terbesar guru dalam asesmen formatif dan sumatif bukan merancang soalnya, melainkan mengelola catatannya. Pengamatan formatif tertulis di buku kecil, nilai sumatif di lembar kerja komputer, lalu semuanya diketik ulang menjelang rapor. Catatan berharga sering hilang di tengah jalan.

ASIS dibangun dengan prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Guru bisa menyusun soal di bank soal dengan bantuan AI yang tetap wajib ditinjau guru sebelum dipakai, mencetak lembar jawaban ber-QR, dan mencatat perkembangan di profil murid yang utuh. Nilai dan catatan itu kemudian mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka, sehingga deskripsi rapor bisa disusun dari bukti yang memang tercatat selama semester. Untuk aktivitas kelas, Studio di studio.asis.id menyediakan 9 jenis aktivitas dan 57 lab interaktif yang bisa menjadi bahan asesmen formatif.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.