Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Perbedaan asesmen formatif dan sumatif dari tujuan, waktu, hingga cara mengolah hasilnya, lengkap dengan contoh per jenjang untuk guru.
Asesmen formatif dan sumatif sama-sama menilai murid, tetapi tujuannya berbeda. Asesmen formatif dilakukan selama proses belajar untuk mengetahui apa yang sudah dan belum dipahami murid, lalu guru menyesuaikan pengajaran. Asesmen sumatif dilakukan di akhir satu lingkup materi atau periode untuk menyimpulkan capaian murid, dan hasilnya biasanya masuk ke rapor. Singkatnya: formatif untuk memperbaiki belajar, sumatif untuk melaporkan hasil belajar.
Di Kurikulum Merdeka, keduanya dipakai bersama. Yang sering keliru adalah porsi dan cara memakai hasilnya. Artikel ini membahas perbedaannya secara rinci, contoh di setiap jenjang, dan kesalahan yang sering terjadi.
| Aspek | Asesmen formatif | Asesmen sumatif |
|---|---|---|
| Tujuan | Memantau dan memperbaiki proses belajar | Menyimpulkan capaian pada akhir lingkup materi |
| Waktu | Awal dan selama pembelajaran | Akhir lingkup materi, akhir semester, akhir tahun |
| Pertanyaan kunci | "Apa yang perlu saya ubah besok?" | "Sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai?" |
| Bentuk umum | Pertanyaan lisan, kuis singkat, tiket keluar, observasi | Tes tertulis, proyek akhir, portofolio, praktik |
| Umpan balik | Segera dan spesifik | Setelah penilaian, lebih ringkas |
| Nilai di rapor | Umumnya tidak langsung diolah menjadi nilai rapor | Menjadi dasar nilai rapor |
| Risiko bagi murid | Rendah, boleh salah | Lebih tinggi karena menentukan nilai |
Tabel ini juga menunjukkan bahwa satu instrumen bisa menjadi formatif atau sumatif tergantung cara memakainya. Kuis yang hasilnya dipakai untuk mengulang materi adalah formatif. Kuis yang sama, bila dipakai sebagai nilai akhir bab, menjadi sumatif.
Sebelum memulai bab baru, guru perlu tahu titik awal murid. Inilah yang sering disebut asesmen diagnostik atau asesmen awal. Fungsinya formatif: hasilnya dipakai untuk mengelompokkan murid atau memilih cara mengajar, bukan untuk nilai.
Contoh: sebelum materi pecahan di kelas 4 SD, guru meminta murid menggambar "setengah dari sebuah roti". Dari gambar itu, guru tahu siapa yang sudah paham konsep bagian yang sama besar.
Ini inti asesmen formatif. Bentuknya ringan dan sering, misalnya:
Ukuran keberhasilan asesmen formatif bukan nilai, melainkan perubahan yang dilakukan guru dan murid sesudahnya.
Asesmen sumatif mengukur capaian setelah murid mendapat cukup kesempatan belajar. Agar adil, sumatif harus selaras dengan tujuan pembelajaran yang diajarkan, bukan menguji hal yang tidak pernah dilatih.
Bentuknya tidak harus tes tertulis. Proyek, presentasi, portofolio, dan unjuk kerja juga sah, selama ada kriteria yang jelas. Untuk keterampilan seperti berbicara, praktik laboratorium, atau olahraga, unjuk kerja justru lebih tepat daripada soal pilihan ganda.
Sumatif umumnya terbagi dua: sumatif lingkup materi (di akhir satu bab atau tujuan pembelajaran) dan sumatif akhir semester atau akhir tahun. Pembobotan keduanya ditentukan sekolah sesuai kebijakan yang berlaku.
| Jenjang dan materi | Contoh formatif | Contoh sumatif |
|---|---|---|
| PAUD: mengenal warna | Guru mengamati anak memilah balok berdasarkan warna, mencatat di lembar observasi | Tidak ada nilai angka; catatan perkembangan di akhir semester |
| SD kelas 2: penjumlahan | Papan tulis mini, lima soal cepat di akhir jam | Tes tertulis sepuluh soal di akhir bab |
| SMP kelas 8: teks eksposisi | Murid menulis satu paragraf, teman memberi umpan balik dengan rubrik | Menulis teks eksposisi utuh, dinilai rubrik lengkap |
| SMA kelas 11: hukum Newton | Kuis daring tanpa nilai, dibahas langsung | Laporan praktikum dan tes uraian |
| SMK: perakitan komputer | Daftar cek langkah kerja saat praktik | Uji praktik merakit dengan batas waktu |
Perhatikan bahwa di PAUD, asesmen lebih banyak berupa observasi dan catatan perkembangan. Angka bukan tujuan.
Catat ringkas, lalu tindak lanjuti. Misalnya dari 30 murid, 12 masih keliru menyamakan penyebut. Esok hari, guru membuat kelompok kecil khusus untuk 12 murid tersebut, sementara yang lain mengerjakan soal pengayaan.
Catatan formatif tetap berguna untuk deskripsi rapor. Kalimat seperti "Ananda Rani sudah mampu membandingkan pecahan berpenyebut sama, perlu latihan pada pecahan berpenyebut berbeda" lahir dari pengamatan selama proses.
Olah sesuai ketentuan sekolah menjadi nilai akhir. Pastikan setiap nilai bisa ditelusuri ke tujuan pembelajaran tertentu. Bila banyak murid gagal di satu tujuan pembelajaran, itu sinyal untuk mengevaluasi pengajaran, bukan hanya remedial.
Semua kuis dijadikan nilai. Murid jadi takut salah, padahal kesalahan di tahap formatif adalah bahan belajar.
Formatif tanpa tindak lanjut. Guru mengumpulkan tiket keluar, lalu menumpuknya di laci. Tanpa perubahan pengajaran, itu hanya administrasi.
Sumatif tidak selaras tujuan. Mengajar membaca pemahaman, tetapi soal ujian menguji hafalan definisi.
Rubrik dibuat setelah menilai. Kriteria sebaiknya dibagikan ke murid sebelum tugas dimulai.
Remedial berupa tes ulang yang sama. Remedial seharusnya didahului pembelajaran ulang dengan cara berbeda.
Tidak harus. Asesmen formatif mengutamakan umpan balik. Guru boleh mencatat skor sebagai pemantauan, tetapi umumnya tidak diolah langsung menjadi nilai rapor.
Ya. Asesmen di awal pembelajaran berfungsi formatif karena hasilnya dipakai untuk merencanakan pengajaran.
Tidak ada angka baku. Umumnya sumatif dilakukan di akhir setiap lingkup materi dan di akhir semester, mengikuti kebijakan sekolah.
Boleh dalam tahapan. Draf pertama dinilai formatif dengan umpan balik, lalu versi akhir dinilai sumatif.
Gunakan nilai sumatif untuk capaian, lalu tambahkan catatan formatif tentang kekuatan dan hal yang perlu ditingkatkan dengan bahasa yang spesifik dan positif.
Masalah terbesar guru dalam asesmen formatif dan sumatif bukan merancang soalnya, melainkan mengelola catatannya. Pengamatan formatif tertulis di buku kecil, nilai sumatif di lembar kerja komputer, lalu semuanya diketik ulang menjelang rapor. Catatan berharga sering hilang di tengah jalan.
ASIS dibangun dengan prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Guru bisa menyusun soal di bank soal dengan bantuan AI yang tetap wajib ditinjau guru sebelum dipakai, mencetak lembar jawaban ber-QR, dan mencatat perkembangan di profil murid yang utuh. Nilai dan catatan itu kemudian mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka, sehingga deskripsi rapor bisa disusun dari bukti yang memang tercatat selama semester. Untuk aktivitas kelas, Studio di studio.asis.id menyediakan 9 jenis aktivitas dan 57 lab interaktif yang bisa menjadi bahan asesmen formatif.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.