Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Untung rugi aplikasi sekolah tanpa instalasi dibanding sistem di server sendiri: biaya, keamanan, koneksi, kepemilikan data, dan daftar cek memilih.
Aplikasi sekolah tanpa instalasi adalah sistem yang dibuka langsung lewat peramban atau aplikasi ponsel, sementara server, pembaruan, dan pencadangan dikelola penyedia. Sekolah tidak perlu membeli server, memasang perangkat lunak, atau menggaji tenaga TI khusus. Keuntungannya jelas: cepat dimulai, biaya awal rendah, dan bisa diakses dari mana saja. Kekurangannya juga nyata: sangat bergantung pada koneksi internet dan pada keandalan penyedia. Artikel ini membandingkan secara jujur sistem berbasis awan dengan sistem yang dipasang di server sekolah sendiri, agar operator dan Kepala Sekolah bisa memutuskan dengan tenang.
| Aspek | Sistem yang dipasang di server sekolah | Aplikasi tanpa instalasi (berbasis awan) |
|---|---|---|
| Lokasi server | Di sekolah atau sewa sendiri | Di pusat data penyedia |
| Pemasangan | Perlu teknisi | Cukup daftar dan masuk |
| Pembaruan | Dilakukan sendiri | Otomatis oleh penyedia |
| Pencadangan | Tanggung jawab sekolah | Dikelola penyedia |
| Akses dari luar sekolah | Perlu pengaturan jaringan tambahan | Langsung bisa |
| Ketergantungan internet | Rendah untuk akses di jaringan lokal | Tinggi |
| Biaya awal | Server, perangkat, pemasangan | Rendah atau nol |
Sekolah bisa mulai memakai sistem dalam hitungan hari, bukan minggu. Tidak ada tahap membeli perangkat keras dan menunggu teknisi.
Di banyak sekolah, server dirawat satu operator. Ketika ia pindah tugas, tidak ada yang tahu kata sandi atau cara memulihkan sistem. Dengan model berbasis awan, perawatan teknis menjadi tanggung jawab penyedia.
Perbaikan celah keamanan dan fitur baru dipasang penyedia tanpa sekolah harus melakukan apa pun. Sistem di server sendiri sering tertinggal versi karena tidak ada yang sempat memperbarui.
Guru mengisi nilai dari rumah, Kepala Sekolah memantau saat dinas luar, dan orang tua menerima pengumuman di ponsel.
Server di ruang TU rentan terhadap banjir, kebakaran, pencurian, atau sekadar listrik yang tidak stabil. Pusat data penyedia umumnya punya perlindungan dan cadangan yang lebih baik.
Ini kekurangan terbesar. Bila internet sekolah putus, akses ke sistem ikut terganggu. Sekolah di daerah dengan sinyal lemah perlu memikirkan cadangan, misalnya paket data seluler untuk perangkat operator.
Bila penyedia berhenti beroperasi atau mengubah kebijakan harga, sekolah terdampak. Karena itu, pilih penyedia yang jelas kebijakan datanya dan memungkinkan ekspor data kapan saja.
Sistem berbasis awan dipakai banyak sekolah, sehingga perubahan khusus untuk satu sekolah tidak selalu bisa dilakukan. Sebagai gantinya, pilih sistem yang modulnya bisa diaktifkan atau dimatikan sesuai kebutuhan.
Data sekolah tersimpan di server pihak lain. Wajar bila sekolah bertanya: siapa yang bisa mengaksesnya, apakah dijual, dan bagaimana bila ingin pindah? Pertanyaan ini harus dijawab tertulis oleh penyedia.
| Situasi sekolah | Pertimbangan |
|---|---|
| SD di kota, internet stabil, operator merangkap guru | Model berbasis awan meringankan beban operator karena tidak ada server yang dirawat |
| SMP swasta dengan server lama yang sering mati | Saat server perlu diganti, momen tepat untuk menimbang pindah ke model berbasis awan |
| Madrasah di daerah dengan sinyal naik turun | Tetap bisa memakai model berbasis awan dengan cadangan paket data dan jadwal kerja saat sinyal baik |
| Sekolah di lokasi tanpa jaringan sama sekali | Perlu solusi lain sampai akses internet tersedia |
Dari contoh ini terlihat bahwa keputusan bukan soal mana yang paling canggih, melainkan mana yang paling mungkin dirawat oleh sekolah dalam jangka panjang.
Biaya sistem di server sendiri sering terlihat murah karena hanya dihitung harga lisensi atau pemasangan. Padahal ada biaya tersembunyi.
| Pos biaya | Server sendiri | Berbasis awan |
|---|---|---|
| Perangkat server | Dibeli sekolah | Tidak perlu |
| Listrik dan pendingin ruangan | Ditanggung sekolah | Tidak perlu |
| Tenaga teknis | Honor teknisi atau beban operator | Ditanggung penyedia |
| Pembaruan dan perbaikan | Biaya panggilan teknisi | Termasuk layanan |
| Penggantian perangkat rusak | Setiap beberapa tahun | Tidak perlu |
| Langganan | Biasanya tidak ada | Bervariasi: gratis, per lembaga, atau per murid |
Untuk model berbasis awan, perhatikan cara menghitung biaya. Aplikasi yang dihitung per murid bisa menjadi mahal saat jumlah murid bertambah, sementara model per lembaga lebih mudah dianggarkan.
Sistem di server sendiri tetap bisa menjadi pilihan bila:
Untuk sebagian besar sekolah dengan koneksi memadai, model berbasis awan biasanya lebih hemat tenaga dan lebih aman dalam jangka panjang.
| Pertanyaan | Jawaban yang sebaiknya |
|---|---|
| Apakah data sekolah dijual atau dipakai untuk iklan? | Tidak |
| Bisakah data diekspor kapan saja? | Bisa |
| Bagaimana cara menghitung biaya? | Gratis atau per lembaga, bukan per murid |
| Apakah setiap pengguna punya akun sendiri dengan hak akses sesuai peran? | Ya |
| Apakah ada aplikasi ponsel untuk guru dan orang tua? | Ya |
| Bagaimana bila internet sekolah putus? | Penyedia menjelaskan dengan jujur apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan |
| Apakah ada pelatihan dan dukungan? | Ada kanal bantuan dan materi belajar |
Panduan lebih lengkap tentang memilih sistem ada di artikel cara memilih aplikasi sekolah, dan kebiasaan menjaga data dibahas di artikel keamanan data murid.
Keamanannya bergantung pada penyedia dan kebiasaan pengguna. Pilih penyedia yang jelas kebijakan datanya, dan biasakan kata sandi kuat serta akun pribadi untuk setiap pengguna.
Umumnya membutuhkan koneksi internet. Tanyakan kepada penyedia secara spesifik bagaimana sistem berperilaku saat koneksi terputus.
Siapkan cadangan koneksi, misalnya paket data seluler untuk perangkat utama, dan jadwalkan pekerjaan berat seperti impor data saat koneksi paling baik.
Data tetap milik sekolah. Pastikan penyedia menyatakan hal ini secara tertulis dan memungkinkan ekspor data kapan saja.
Tidak harus. Perangkat bisa dialihfungsikan, misalnya untuk penyimpanan arsip atau kebutuhan lain sekolah.
Banyak sekolah pernah membeli sistem yang harus dipasang di server sendiri, lalu terhenti ketika server rusak atau operator pindah. Data terkunci di satu komputer, dan sekolah kembali ke buku dan berkas terpisah.
ASIS adalah platform manajemen sekolah yang dibuka dari peramban di asis.id dan dari ASIS Mobile di Android, tanpa server di sekolah. Prinsipnya "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali": data diimpor dari file ekspor Dapodik atau EMIS yang sudah dimiliki, lalu dipakai untuk 57 modul yang bisa diaktifkan sesuai kebutuhan, dengan 45 peran yang masing-masing hanya melihat data yang ia perlukan. Data sekolah tidak dijual dan tanpa iklan. Paket dihitung per tahun per lembaga, bukan per murid, dan paket dasarnya Rp0.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.