WAWASAN ASIS

Aplikasi Nilai Peserta Didik Sesuai Asesmen Kurikulum

Aplikasi nilai peserta didik yang selaras asesmen Kurikulum Merdeka: nilai per tujuan pembelajaran, KKTP, tindak lanjut, deskripsi capaian, dan cara memilihnya.

Tim Wawasan ASIS 10 Sep 2026 Kurikulum & Pembelajaran

Aplikasi nilai peserta didik adalah aplikasi untuk mencatat, mengolah, dan melaporkan hasil asesmen peserta didik, dari asesmen formatif harian sampai sumatif akhir semester. Guru yang mencari istilah "peserta didik" biasanya sedang bekerja dengan dokumen kurikulum resmi: modul ajar, alur tujuan pembelajaran, KKTP, dan rapor. Karena itu, aplikasi yang tepat bukan sekadar tempat menyimpan angka, tetapi tempat yang menjaga kaitan nilai dengan tujuan pembelajaran dan tindak lanjutnya.

Artikel ini membahas apa saja yang harus bisa dicatat oleh aplikasi nilai peserta didik dalam kerangka asesmen Kurikulum Merdeka, contoh tampilan data yang sehat, dan daftar cek untuk memilih.

Mengapa nilai peserta didik tidak cukup berupa angka

Dalam Kurikulum Merdeka, nilai berfungsi untuk dua hal: memberi umpan balik selama belajar (formatif) dan menyimpulkan capaian (sumatif). Rapor pun memuat deskripsi capaian, bukan hanya angka.

Masalahnya, banyak guru mencatat nilai di lembar kerja berisi kolom "UH1, UH2, UTS" seperti kebiasaan lama. Saat harus menulis deskripsi rapor, guru kesulitan menjawab: tujuan pembelajaran mana yang sudah dikuasai peserta didik ini, dan mana yang perlu didampingi? Jawabannya ada di kepala guru, tetapi tidak tercatat.

Aplikasi yang baik menutup celah itu dengan mencatat nilai per tujuan pembelajaran (TP).

Data yang harus bisa dicatat

1. Tujuan pembelajaran dan KKTP

Setiap nilai sebaiknya terkait dengan TP tertentu, dan setiap TP punya kriteria ketercapaian (KKTP). Untuk cara menentukan kriteria itu, lihat artikel "Cara Menentukan KKTP: 4 Pendekatan dan Contoh Interval Nilai" di blog ASIS.

2. Asesmen formatif

Catatan formatif bisa berupa skor singkat, tanda "sudah/belum", atau catatan pendek. Tidak semua formatif perlu masuk rapor, tetapi berguna untuk melihat perkembangan.

3. Asesmen sumatif

Sumatif lingkup materi dan sumatif akhir semester menjadi bahan utama nilai rapor. Aplikasi harus bisa mengolahnya sesuai kebijakan sekolah.

4. Tindak lanjut

Peserta didik yang belum mencapai KKTP mendapat remedial atau pendampingan, yang sudah melampaui mendapat pengayaan. Catatan tindak lanjut ini sering terlupa padahal penting untuk bukti proses pembelajaran.

5. Deskripsi capaian

Dari nilai per TP, guru menyusun deskripsi: TP yang paling dikuasai dan TP yang perlu ditingkatkan.

Contoh tampilan data yang sehat

Berikut contoh catatan Matematika kelas V untuk satu peserta didik fiktif, Nadia.

Tujuan pembelajaran KKTP Formatif Sumatif Tindak lanjut
Membandingkan pecahan berpenyebut beda 75 Belum, lalu sudah 82 Selesai
Menjumlahkan pecahan 75 Sudah 90 Pengayaan soal cerita
Menghitung luas bangun gabungan 75 Belum 68 Remedial, pendampingan kelompok

Dari tabel ini, deskripsi rapor hampir menulis dirinya sendiri: "Nadia menunjukkan penguasaan sangat baik dalam menjumlahkan pecahan; perlu pendampingan dalam menghitung luas bangun gabungan."

Bandingkan dengan catatan lama berisi "UH1: 82, UH2: 90, UH3: 68". Angkanya sama, tetapi maknanya hilang.

Kriteria memilih aplikasi nilai peserta didik

  1. Mendukung struktur TP. Guru bisa membuat daftar TP per mapel dan menautkan nilai ke TP itu.
  2. Memisahkan formatif dan sumatif. Keduanya punya fungsi berbeda dan tidak boleh tercampur dalam satu rata-rata tanpa disengaja.
  3. Mencatat tindak lanjut. Ada tempat menandai remedial dan pengayaan.
  4. Membantu menyusun deskripsi. Deskripsi bisa disusun dari TP tertinggi dan terendah, lalu disunting guru.
  5. Terhubung ke e-Rapor. Nilai mengalir ke rapor tanpa diketik ulang.
  6. Satu data peserta didik. Nama, rombel, dan nomor induk diambil dari data induk, bukan diketik di setiap kelas.
  7. Hak akses jelas. Guru mapel mengisi mapelnya; wali kelas melihat seluruh mapel rombelnya.

Alur kerja guru dalam satu lingkup materi

  1. Guru menyiapkan TP dan KKTP di awal lingkup materi.
  2. Selama pembelajaran, guru mencatat formatif singkat setelah aktivitas.
  3. Guru memberi pendampingan bagi peserta didik yang belum mencapai TP dan mencatatnya.
  4. Di akhir lingkup materi, guru memberi sumatif dan memasukkan nilainya.
  5. Aplikasi menampilkan peta capaian per peserta didik dan per kelas.
  6. Menjelang rapor, wali kelas menarik nilai dan deskripsi dari semua mapel.

Bila langkah 2 dan 3 dicatat konsisten, bukti proses pembelajaran untuk supervisi atau akreditasi sudah tersedia tanpa disusun ulang.

Variasi kebutuhan per jenjang

Di SD/MI, guru kelas mengisi hampir semua mapel untuk satu rombel, sehingga tampilan per peserta didik lintas mapel lebih berguna. Di SMP/MTs dan SMA/MA, guru mapel mengampu banyak rombel, sehingga tampilan per kelas dan per TP lebih penting. Di SMK, nilai praktik dan uji kompetensi perlu ruang tersendiri. Untuk pendidikan khusus, aplikasi sebaiknya bisa mencatat capaian sesuai program pembelajaran individual peserta didik.

Kesalahan yang sering terjadi

  • TP ditulis terlalu banyak. Pilih TP yang benar-benar diases agar pencatatan realistis.
  • Semua formatif dirata-rata ke rapor. Ini bertentangan dengan fungsi formatif sebagai umpan balik.
  • Deskripsi disalin sama untuk semua peserta didik. Orang tua akan menyadarinya dan rapor kehilangan makna.
  • Remedial tidak dicatat. Nilai akhir naik tanpa jejak proses.

Daftar cek sebelum memilih

Pertanyaan Ya/Tidak
Nilai bisa ditautkan ke tujuan pembelajaran?
Formatif dan sumatif dipisahkan?
Ada catatan remedial dan pengayaan?
Deskripsi capaian bisa disusun dari data nilai?
Nilai langsung terpakai di e-Rapor?
Data peserta didik diambil dari data induk?
Hak akses per peran?
Biaya per lembaga, bukan per peserta didik?

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya aplikasi nilai peserta didik dengan lembar kerja biasa?

Lembar kerja hanya menyimpan angka di satu perangkat. Aplikasi menautkan nilai ke TP, menyimpannya bersama, dan mengalirkannya ke rapor.

Apakah nilai formatif harus dimasukkan ke aplikasi?

Tidak wajib semuanya. Catat formatif yang membantu melihat perkembangan dan tindak lanjut, dengan format sesederhana mungkin.

Bagaimana menentukan nilai rapor dari banyak sumatif?

Ikuti kebijakan pengolahan nilai yang disepakati sekolah. Artikel "Cara Mengolah Nilai Rapor Kurikulum Merdeka dari Sumatif" membahas pilihan caranya.

Apakah peserta didik bisa melihat nilainya sendiri?

Bergantung pengaturan sekolah. Umumnya nilai yang sudah diterbitkan dapat dilihat peserta didik dan orang tua.

Apakah aplikasi bisa menulis deskripsi otomatis?

Aplikasi bisa membantu menyusun kerangka dari TP tertinggi dan terendah, tetapi guru tetap meninjau dan menyunting agar sesuai kondisi peserta didik.

ASIS: Nilai Peserta Didik yang Terhubung dengan Pembelajaran

Akar masalah penilaian adalah nilai yang terlepas dari tujuan pembelajaran dan tindak lanjutnya, lalu disalin ulang di musim rapor. Guru akhirnya menulis deskripsi dari ingatan.

ASIS dirancang dengan prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Data peserta didik bisa diimpor dari file ekspor Dapodik atau EMIS, nilai yang diisi guru terkumpul dan dipakai e-Rapor Kurikulum Merdeka, dan catatan perkembangan tersimpan di profil peserta didik yang utuh. Perangkat ajar Kurikulum Merdeka dan bank soal dengan bantuan AI, yang selalu ditinjau guru, membantu menyiapkan asesmen, sedangkan CBT memudahkan sumatif berbasis komputer.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.