WAWASAN ASIS

Aplikasi Akademik Sekolah: Fitur Wajib dan Cara Memilih

Daftar fitur wajib aplikasi akademik sekolah, fitur yang sebaiknya ada, cara menguji sebelum memilih, pertanyaan untuk penyedia, dan daftar cek untuk operator.

Tim Wawasan ASIS 02 Sep 2026 Digitalisasi Sekolah

Aplikasi akademik sekolah yang layak dipilih minimal harus mengurus enam hal dengan baik: data murid dan rombel, tugas mengajar, jadwal, presensi, nilai, dan rapor. Bila salah satunya tidak ada atau tidak tersambung dengan yang lain, guru dan operator tetap harus memindahkan data secara manual. Artikel ini membagi fitur menjadi tiga kelompok (wajib, sebaiknya ada, dan pelengkap), lalu menjelaskan cara menguji aplikasi akademik sekolah sebelum dipakai seluruh guru, termasuk pertanyaan yang perlu diajukan kepada penyedia.

Mengapa operator perlu ikut memilih

Keputusan memilih aplikasi sering diambil pimpinan setelah melihat presentasi. Padahal yang paling merasakan dampaknya adalah operator dan guru. Aplikasi yang tampak lengkap di brosur bisa ternyata merepotkan: impor data gagal, rapor tidak sesuai format, atau setiap murid pindah harus diubah di tiga menu.

Operator sebaiknya diberi waktu menguji aplikasi minimal dua minggu sebelum keputusan diambil.

Fitur wajib

Tanpa fitur-fitur ini, aplikasi belum bisa disebut aplikasi akademik yang utuh.

Fitur Yang perlu dipastikan
Data murid dan rombel Bisa diimpor dari file ekspor Dapodik atau EMIS; mutasi dan pindah rombel mudah
Mapel dan tugas mengajar Struktur mapel sesuai kurikulum; satu guru bisa mengajar banyak rombel
Jadwal pelajaran Bisa disusun tanpa bentrok guru dan ruang
Presensi murid Harian dan per mapel; rekap otomatis
Nilai dan asesmen Formatif dan sumatif; guru mengisi dari ponsel atau laptop
Rapor Sesuai format Kurikulum Merdeka; deskripsi capaian; siap cetak

Catatan soal rapor

Pastikan rapor mengikuti ketentuan terbaru. Sejak Permendikdasmen 13/2025, projek penguatan profil pelajar Pancasila digantikan kegiatan kokurikuler, jadi tanyakan kepada penyedia bagaimana aplikasinya menyesuaikan perubahan seperti ini. Penjelasan lengkap ada di artikel "Panduan e-Rapor Kurikulum Merdeka untuk Wali Kelas Pemula".

Fitur yang sebaiknya ada

Fitur ini tidak mutlak, tetapi sangat mengurangi beban kerja:

  • Jurnal mengajar guru. Bukti keterlaksanaan pembelajaran dan bahan penilaian kinerja.
  • Perangkat ajar. Tempat menyusun dan menyimpan modul ajar.
  • Bank soal dan ujian berbasis komputer (CBT). Paket soal, token, proktor, dan koreksi.
  • Tugas online. Guru memberi dan menilai tugas tanpa grup pesan.
  • Profil murid. Catatan perkembangan yang dibaca wali kelas dan guru BK.
  • Kabar ke orang tua. Nilai dan kehadiran bisa dilihat orang tua.

Fitur pelengkap

Berguna untuk sekolah tertentu:

  • presensi dengan pengenalan wajah,
  • cetak lembar jawaban ber-QR untuk ujian kertas,
  • laboratorium virtual dan perpustakaan digital,
  • PKL untuk SMK,
  • tahfidz untuk madrasah dan sekolah Islam.

Fitur pelengkap sebaiknya tidak menjadi alasan utama memilih bila fitur wajibnya lemah.

Cara menguji aplikasi akademik sekolah

Jangan menguji dengan data contoh dari penyedia. Gunakan data sekolah sendiri dalam skala kecil.

Langkah uji dua minggu

  1. Impor data satu tingkat, misalnya kelas VII. Catat berapa lama dan berapa kesalahan.
  2. Buat tugas mengajar dan jadwal untuk tingkat itu. Uji apakah bentrok terdeteksi.
  3. Minta dua guru mengisi presensi selama satu minggu, satu guru senior dan satu guru muda.
  4. Minta guru mengisi nilai untuk satu asesmen sumatif.
  5. Cetak rapor contoh dan bandingkan dengan format yang dipakai sekolah.
  6. Pindahkan satu murid ke rombel lain. Periksa apakah presensi dan nilainya ikut berpindah dengan benar.
  7. Tanyakan pendapat guru. Apakah lebih cepat dari cara lama?

Langkah keenam sering terlupa, padahal mutasi murid adalah sumber kekacauan data paling umum.

Pertanyaan untuk penyedia aplikasi

  • Bagaimana data awal dimasukkan? Apakah bisa dari file ekspor Dapodik atau EMIS?
  • Apakah aplikasi terhubung langsung ke sistem pemerintah, atau hanya impor? (Hati-hati dengan klaim "integrasi" yang tidak jelas.)
  • Biaya dihitung per murid atau per lembaga? Apa yang terjadi bila jumlah murid bertambah?
  • Apakah data sekolah dijual atau dipakai untuk iklan?
  • Bagaimana hak akses diatur? Apakah guru mapel bisa melihat nilai mapel lain?
  • Apakah ada panduan tertulis dan pelatihan untuk guru?
  • Bila sekolah berhenti berlangganan, apakah data bisa diekspor?

Pembahasan pertanyaan yang lebih luas ada di artikel "Cara Memilih Aplikasi Sekolah: 12 Pertanyaan Sebelum Kontrak".

Contoh hasil uji di sebuah SMP

Operator sebuah SMP swasta di Tasikmalaya menguji dua aplikasi akademik selama dua minggu:

Aspek Aplikasi A Aplikasi B
Impor data kelas VII Berhasil, perlu perbaikan nama Gagal, harus ketik ulang
Jadwal Bentrok terdeteksi Tidak ada deteksi
Presensi per mapel Ada Hanya harian
Rapor Sesuai format Perlu penyesuaian manual
Pindah rombel Nilai ikut pindah Nilai tertinggal
Biaya Per lembaga Per murid

Hasil uji ini jauh lebih meyakinkan bagi pimpinan dibanding presentasi penjualan.

Daftar cek akhir

  • Enam fitur wajib tersedia dan saling tersambung.
  • Data bisa diimpor dari file yang sudah dimiliki sekolah.
  • Mutasi murid tidak merusak nilai dan presensi.
  • Rapor sesuai ketentuan Kurikulum Merdeka terbaru.
  • Hak akses guru sesuai tugas.
  • Biaya jelas dan dapat direncanakan.
  • Data tidak dijual dan tanpa iklan.
  • Guru penguji merasa lebih cepat dari cara lama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya aplikasi akademik sekolah dan e-Rapor?

e-Rapor hanya untuk menyusun rapor. Aplikasi akademik mencakup data murid, jadwal, presensi, nilai, dan rapor yang saling tersambung.

Apakah aplikasi akademik harus berbasis web?

Berbasis web memudahkan karena tidak perlu instalasi dan bisa dibuka dari mana saja. Aplikasi Android menjadi pelengkap untuk guru yang lebih sering memakai ponsel.

Berapa lama uji coba yang ideal?

Dua minggu dengan data nyata dari satu tingkat kelas sudah cukup untuk melihat kelebihan dan kekurangannya.

Apakah guru perlu pelatihan khusus?

Perlu pelatihan singkat sesuai peran. Guru mapel cukup dilatih presensi dan nilai, wali kelas ditambah rapor.

Bagaimana bila sekolah sudah memakai aplikasi rapor lain?

Pindah bertahap di awal semester agar rapor satu semester utuh berasal dari satu aplikasi.

ASIS: Enam Fitur Wajib dalam Satu Aplikasi yang Tersambung

Akar masalah aplikasi akademik yang mengecewakan adalah fitur yang berdiri sendiri: jadwal di satu menu, nilai di menu lain, rapor di aplikasi terpisah. Operator akhirnya tetap menjadi jembatan manual antarfitur.

ASIS menyatukan data murid yang diimpor dari file ekspor Dapodik atau EMIS, generator jadwal pelajaran tanpa bentrok, presensi per mapel, jurnal mengajar, bank soal dengan bantuan AI yang wajib ditinjau guru, CBT, dan e-Rapor Kurikulum Merdeka. Semua memakai data yang sama, dan 45 peran pengguna memastikan guru hanya melihat yang ia perlukan. Biaya dihitung per lembaga, data tidak dijual, dan tanpa iklan.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.