WAWASAN ASIS

Analisis Akar Masalah Sekolah: 5 Why dan Fishbone

Teknik analisis akar masalah sekolah dengan 5 Why dan diagram fishbone, lengkap contoh kasus, langkah rapat, dan format rencana aksi.

Tim Wawasan ASIS 14 Agt 2026 Kepemimpinan & Mutu

Analisis akar masalah sekolah adalah proses menelusuri penyebab mendasar dari sebuah masalah, bukan sekadar menambal gejalanya. Dua teknik yang paling praktis untuk rapat sekolah adalah 5 Why, yaitu bertanya "mengapa" berulang kali sampai menemukan penyebab yang bisa ditindaklanjuti, dan diagram fishbone (tulang ikan), yaitu memetakan penyebab dari beberapa kategori sekaligus. Keduanya cocok dipakai saat perencanaan berbasis data, misalnya ketika membaca rapor pendidikan dan menyusun RKAS. Artikel ini menjelaskan cara memakai keduanya, contoh kasus yang terisi, dan cara mengubah hasil analisis menjadi rencana aksi.

Mengapa sekolah perlu analisis akar masalah

Banyak program sekolah gagal bukan karena kurang niat, tetapi karena menyasar gejala. Contoh: nilai literasi rendah, lalu sekolah membeli banyak buku. Ternyata penyebabnya adalah tidak ada waktu membaca terjadwal dan guru belum terlatih membimbing membaca. Buku menumpuk, nilai tetap rendah.

Analisis akar masalah membantu:

  • memilih program yang tepat sasaran,
  • menghemat anggaran,
  • membangun kesepahaman antara Kepala Sekolah, guru, dan tenaga kependidikan,
  • menyediakan alasan yang jelas saat program dipertanggungjawabkan.

Kaitannya dengan perencanaan anggaran dibahas di RKAS berbasis PBD.

Teknik 1: 5 Why

Cara kerja

  1. Tulis masalah secara spesifik dan terukur.
  2. Tanyakan "mengapa ini terjadi?"
  3. Dari jawaban itu, tanyakan lagi "mengapa?"
  4. Ulangi sampai sekitar lima kali, atau sampai menemukan penyebab yang berada dalam kendali sekolah dan bisa ditindaklanjuti.

Angka lima bukan aturan mati. Kadang tiga kali sudah cukup, kadang perlu lebih.

Contoh kasus: keterlambatan murid kelas VIII

Masalah: 18% murid kelas VIII terlambat masuk lebih dari tiga kali dalam sebulan.

Tingkat Pertanyaan Jawaban
Why 1 Mengapa murid terlambat? Mereka tiba setelah pukul 07.00
Why 2 Mengapa tiba setelah pukul 07.00? Angkutan desa baru lewat pukul 06.40 dan perjalanan 25 menit
Why 3 Mengapa tidak berangkat lebih awal? Tidak ada angkutan yang lebih pagi dari desa tersebut
Why 4 Mengapa sekolah tidak menyesuaikan? Data asal desa murid yang terlambat belum pernah dianalisis
Why 5 Mengapa belum dianalisis? Catatan keterlambatan hanya di buku piket, tidak direkap

Akar masalah yang bisa ditindaklanjuti: sekolah belum merekap dan menganalisis data keterlambatan, sehingga pola terkait jadwal angkutan tidak terlihat.

Aksi: rekap keterlambatan per desa, berdialog dengan komite dan pemerintah desa tentang jadwal angkutan, dan mempertimbangkan kegiatan literasi pagi yang fleksibel untuk murid dari desa tersebut.

Perhatikan bahwa tanpa analisis, solusi yang sering muncul adalah menambah hukuman untuk murid terlambat, yang tidak menyentuh penyebabnya.

Teknik 2: Diagram fishbone

Cara kerja

Diagram fishbone berbentuk tulang ikan. Kepala ikan berisi masalah, dan tulang-tulangnya berisi kategori penyebab. Untuk sekolah, kategori yang sering dipakai:

Kategori Contoh pertanyaan
Murid Apakah ada faktor kesiapan, motivasi, atau kondisi rumah?
Guru Apakah ada faktor kompetensi, beban kerja, atau strategi mengajar?
Kurikulum dan pembelajaran Apakah materi, alokasi waktu, atau asesmen sesuai?
Sarana dan lingkungan Apakah ruang, alat, atau lingkungan belajar mendukung?
Kebijakan dan manajemen Apakah aturan, jadwal, dan pembagian tugas jelas?
Orang tua dan masyarakat Apakah ada dukungan dari rumah dan lingkungan?

Contoh kasus: kemampuan numerasi kelas 5 rendah

Kepala ikan: banyak murid kelas 5 belum mencapai kompetensi minimum numerasi.

  • Murid: sebagian belum menguasai perkalian dasar sejak kelas 3.
  • Guru: guru kelas belum terbiasa memakai benda konkret, pembelajaran banyak latihan soal.
  • Kurikulum: asesmen awal tidak dilakukan, semua murid diajar dengan materi yang sama.
  • Sarana: alat peraga matematika ada di gudang dan jarang dipakai.
  • Manajemen: tidak ada waktu khusus untuk penguatan numerasi.
  • Orang tua: banyak orang tua bekerja hingga sore dan tidak sempat mendampingi.

Setelah semua penyebab tertulis, tim memberi tanda pada dua atau tiga penyebab yang paling berpengaruh dan paling bisa diubah oleh sekolah. Dalam contoh ini: tidak ada asesmen awal dan pengelompokan, serta guru belum terbiasa dengan benda konkret.

Aksi: asesmen awal di awal semester, pengelompokan sesuai kemampuan seperti pendekatan teaching at the right level, dan pelatihan singkat pemakaian alat peraga melalui komunitas belajar guru.

Memadukan 5 Why dan fishbone

Gunakan fishbone untuk memetakan penyebab secara luas, lalu 5 Why untuk menggali lebih dalam satu atau dua penyebab yang dipilih. Pola ini mencegah tim terjebak pada satu penjelasan saja.

Langkah rapat analisis akar masalah

  1. Siapkan data sebelum rapat. Rapor pendidikan, rekap presensi, nilai, hasil survei, atau catatan BK.
  2. Rumuskan masalah dengan angka. "Nilai jelek" kurang jelas; "42% murid kelas 5 belum mencapai kompetensi minimum numerasi" lebih tajam.
  3. Libatkan orang yang dekat dengan masalah. Guru kelas, wali kelas, guru BK, bahkan perwakilan murid atau orang tua bila relevan.
  4. Tulis semua penyebab tanpa menghakimi. Fokus pada sistem, bukan menyalahkan individu.
  5. Pilih akar masalah prioritas. Gunakan kriteria pengaruh dan kendali.
  6. Susun rencana aksi.

Format rencana aksi

Akar masalah Aksi Penanggung jawab Waktu Indikator keberhasilan
Tidak ada asesmen awal numerasi Asesmen awal di minggu pertama semester Guru kelas 5 Minggu 1 Semua murid memiliki hasil asesmen awal
Guru belum terbiasa benda konkret Dua sesi komunitas belajar tentang alat peraga Koordinator komunitas belajar Bulan 1–2 Alat peraga dipakai minimal dua kali seminggu
Data keterlambatan tidak direkap Rekap mingguan per desa Guru piket dan TU Mulai bulan ini Rekap tersedia setiap Senin

Kesalahan yang sering terjadi

Berhenti di gejala. "Murid malas" bukan akar masalah, melainkan gejala yang perlu digali.

Mencari kambing hitam. Analisis yang berubah menjadi menyalahkan guru tertentu membuat orang enggan jujur.

Tanpa data. Analisis berdasarkan perasaan cenderung bias.

Aksi tidak terukur. Tanpa indikator, sekolah tidak tahu apakah aksi berhasil.

Analisis akar masalah sekolah sebaiknya dilakukan rutin, misalnya setiap awal tahun ajaran dan setelah rapor pendidikan terbit. Panduan membacanya ada di membaca rapor pendidikan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu analisis akar masalah sekolah?

Proses menelusuri penyebab mendasar dari masalah sekolah agar program yang dipilih menyasar penyebab, bukan gejala.

Kapan memakai 5 Why dan kapan fishbone?

5 Why cocok untuk masalah yang cukup sederhana dan menggali satu jalur penyebab. Fishbone cocok untuk masalah kompleks dengan banyak kemungkinan penyebab.

Siapa yang perlu dilibatkan?

Kepala Sekolah, guru yang terkait, tenaga kependidikan, dan bila relevan perwakilan murid, orang tua, atau komite.

Berapa lama satu sesi analisis?

Sekitar 60–90 menit untuk satu masalah, dengan data yang sudah disiapkan sebelumnya.

Bagaimana memastikan rencana aksi dijalankan?

Tetapkan penanggung jawab, tenggat, dan indikator, lalu tinjau kemajuan di setiap rapat rutin.

ASIS: Data yang Siap Dianalisis, Target yang Jelas per Peran

Analisis akar masalah sering macet di langkah pertama: data. Rekap presensi ada di buku piket, nilai di lembar kerja guru, catatan BK di map terpisah. Tim menghabiskan waktu mengumpulkan angka, bukan menganalisisnya.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Presensi murid lewat pindai QR atau pengenalan wajah, nilai di e-Rapor Kurikulum Merdeka, dan catatan layanan BK tersimpan di satu sistem, sehingga pola lebih cepat terlihat. Dashboard Goal membantu Kepala Sekolah menetapkan target sekolah per peran, sehingga rencana aksi hasil analisis punya pemilik dan ukuran yang jelas.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.